Skip to content

Pustaka Banjar

Sumber Informasi Sejarah dan Budaya Banjar

Menu
  • Beranda
  • Sejarah
  • Budaya
  • Adat
  • Sastra
  • Seni
  • Opini
Menu

Tambang Batu Bara Oranje Nassau Kalimantan Selatan dalam Pandangan Arkeologi Industri

Posted on by

Libra Hari Inagurasi

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Jl. Raya Condet Pejaten No. 4, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan 12510

AMERTA, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi
Vol. 33 No. 2, Desember 2015 : 77-134
librainagurasi@yahoo.com

 

Abstrak. Aktivitas pertambangan batu bara di Indonesia dimulai pada abad ke-19. Dalam tulisan ini dikemukakan tinggalan arkeologi dari situs tambang batu bara tertua di Indonesia, yakni tambang batu bara Oranje Nassau. Lokasi situs berada di Desa Pengaron, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Kronologi situs berasal dari tahun 1849 (abad ke-19). Oranje Nassau merupakan tambang batu bara yang diusahakan oleh pemerintah Hindia Belanda. Ketika didirikan, lokasi tambang itu menempati wilayah milik Kesultanan Banjarmasin. Tulisan ini bermaksud memberikan gambaran mengenai awal perkembangan industri di Indonesia melalui tambang batu bara tertua Oranje Nassau. Adapun tujuan tulisan ini adalah mengidentifikasi jenis, fungsi, dan hubungan antar tinggalan tambang batu bara dengan menggunakan pendekatan Arkeologi Industri (Industrial Archaeology). Metode yang digunakan adalah deskriptif, historis, dan analisis kontekstual. Hasil yang telah diperoleh yakni teridentifikasinya peninggalan-peninggalan tambang batu bara kuno berasal dari masa Hindia Belanda. Peninggalan-peninggalan tersebut merupakan fasilitas kegiatan penambangan batu bara seperti bangunan monumental untuk menempatkan mesin, sumur lubang galian batu bara, lorong, terowongan, lantai dibuat dari bahan bata, dan roda besi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tambang batu bara merupakan teknologi yang berasal dari luar atau teknologi yang diimpor dari Eropa, bukan asli Indonesia.

Kata Kunci: Tambang batu bara, Oranje Nassau, Arkeologi Industri

Abstract. Oranje Nassau Coal Mine, South Kalimantan, in view Industrial Archaeology. Coal mining activities in Indonesia started in the 19th century. In the paper is presented archaeological remains on the site of the oldest coal mine in Indonesia, which is the Oranje Nassau coal mine. The site is located in the village of Pengaron, District Pengaron, Banjar regency, South Kalimantan. The chronology of the site is 1849 (mid-19th century). Oranje Nassau is a coal mine operated by the Dutch government. When established, the mine occupied the territory of the Sultanate of Banjarmasin. The intent of this paper is to provide an overview of the early industrial development in Indonesia through the oldest coal mine, Oranje Nassau, while the purpose is to identify the type, function, and the relationship between the remains of coal mines by using the approach of Industrial Archaeology. The method used is descriptive, historical and contextual analyses. The results have been obtained by the identification of the relics of the ancient coal mine dating from the Dutch East India period. The relics of the coal mine are part of the coal mining activity facilities such as monumental building to put the machine, the coal pit wells, hallways, tunnels, floors made of brick, and iron wheels. Based on the survey results, it is revealed that coal mining is a technology that comes from outside, or technology imported from Europe, not originated in Indonesia.

Keywords: Coal mine, Oranje Nassau, Industrial Archaeology

 

1. Pendahuluan

Salah satu fenomena menarik dalam sejarah Indonesia masa kolonial Hindia Belanda (Nederland Indie), adalah pertumbuhan industrialisasi pada abad ke-19. Tercatat beberapa industri yang dikenal pada periode Hindia Belanda antara lain industri perkebunan (gula tebu dan karet) dan industri transportasi (jaringan kereta api). Penelitian mengenai awal perkembangan industri gula pernah dilakukan oleh tim penelitian yang dikoordinir oleh Libra  Hari Inagurasi pada tahun 2004, di wilayah pantai  utara Jawa Tengah. Penelitian tersebut telah  mengidentifikasi sejumlah pabrik-pabrik gula  peninggalan Belanda beserta fasilitasnya abad  ke-19, di Kendal, Pekalongan, dan Pemalang.

Pabrik-pabrik gula kuno tersebut menggunakan  peralatan dari besi antara lain alat pemotong  tebu dan ketel uap, yang ditemukan sejak  Revolusi Industri (Tim Penelitian 2004: 22-36).  Selanjutnya penelitian mengenai pembangunan  jaringan kereta api tertua di Indonesia, dilakukan  oleh tim penelitian yang dikoordinir oleh Sonny  Wibisono. Pembangunan stasiun-stasiun dan  jaringan kereta api tua di Indonesia dimulai tahun  1867, sepanjang Semarang hingga Grobogan  Jawa Tengah. Kereta api ketika diperkenalkan  di Indonesia pada abad ke-19 menggunakan  batu bara sebagai bahan bakar (Tim Penelitian  Arkeologi 2012: 129). Pertumbuhan berbagai  industrialisasi tersebut bergantung sumber energi  antara lain batu bara sebagai bahan bakar untuk  menggerakkan mesin misalnya pada lokomotif  kereta api uap.

Batu bara merupakan bahan galian  berharga yang keberadaanya terpendam di dalam  tanah, untuk mendapatkannya diperoleh dengan  cara digali atau ditambang. Awal kegiatan  pertambangan batu bara di Indonesia muncul  pada abad ke-19, tidak dikenal pada masa sebelumnya.

Cakupan tulisan ini adalah Arkeologi  Industri (Industrial Archaeology), yakni  sebuah kajian tentang warisan budaya materi  (tangible)[1] berupa benda-benda, sebagai  bukti nyata perkembangan sosial, ekonomi,  dan teknologi, berkembang sejak munculnya  industrialisasi di Inggris pada abad ke-18 yang  disebut dengan Revolusi Industri (Palmer  1998:i). Penelitian mengenai Arkeologi Industri dimulai oleh Universitas Birmingham, Inggris pada tahun 1950. Penelitian ini muncul  karena adanya keinginan untuk menambah  pengetahuan mengenai industri pada masa  lampau yang masih terpendam (belum diteliti), dan keinginan untuk mengembangkan  pemahaman tentang perubahan teknologi yang dipilih sesuai generasi demi generasi (Hudson  1976: 1,12). Mengacu pendapat Palmer dan Hudson tersebut maka peninggalan peninggalan tambang batu bara Oranje Nassau dipandang dapat memberikan gambaran  mengenai perkembangan teknologi yang muncul sejak Revolusi Industri dimaksud.

Seperti halnya studi Arkeologi Industri  yang diperkenalkan di Universitas Birmingham,  Inggris, penelitian ini dimaksudkan memberikan  gambaran mengenai awal perkembangan  industri di Indonesia melalui tambang batu bara tertua Oranje Nassau di Kalimantan Selatan.  Adapun tujuan tulisan ini mengidentifikasi  dan mengetahui hubungan antar tinggalan arkeologi. Peninggalan tambang batu bara  bersejarah di Indonesia sangat langka, hanya terdapat di Kalimantan dan Sumatera. Artinya,  situs tambang batu bara spesifik karena tidak  dijumpai di semua wilayah Indonesia, namun hanya terdapat pada daerah tertentu.

Kalimantan  memiliki tambang batu bara bersejarah dari masa kolonial Belanda, namun demikian tulisan yang  memberikan pengetahuan mengenai peninggalan tambang batu bara di Kalimantan terbatas, justru  yang dikenal adalah peninggalan tambang batu bara Ombilin yang terdapat di Sawah Lunto, Sumatera Barat. Hingga saat ini belum diketahui  tentang peninggalan terkait aktivitas tambang  batu bara. Selain itu pula belum terdapat panduan atau contoh tulisan mengenai arkeologi  tambang batu bara di Indonesia. Situs tambang batu bara Oranje Nassau sebelumnya pernah ditulis dengan pembahasan dititikberatkan pada sudut pandang ekonomi. Tambang batu bara di Kalimantan merupakan salah satu fase awal dari sejarah perekonomian di Kalimantan. Bagi masyarakat di Kalimantan, usaha tambang batu bara belum menaikkan pendapatan mereka. Justru dengan adanya usaha tambang batu bara perekonomian di Kalimantan Selatan mengalami  kemunduran (Nuralang 2004: 35-42).

Permasalahan di dalam tulisan ini dirumuskan dalam pertanyaan sebagai berikut. Bagaimana karakteristik Situs Tambang Batu bara Oranje Nassau sebagai situs Arkeologi Industri?  Metode pengumpulan data yang digunakan  adalah deskriptif, historis, dengan menggunakan analisis kontekstual. Data arkeologi dalam tulisan ini diperoleh berdasarkan penelitian yang berlangsung pada tanggal 17 Oktober  sampai dengan 10 November 2012 dan tanggal  10-19 November 2014. Penelitian dilaksanakan oleh Balai Arkeologi Banjarmasin bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda  dan Olahraga Kabupaten Banjar.

Kenyataan yang dihadapi adalah terbatasnya data arkeologi pada Situs Tambang Oranje Nassau. Untuk memperoleh gambaran  mengenai arkeologi tambang Oranje Nassau, maka dalam tulisan ini digunakan pendekatan  Arkeologi Industri dan Sejarah Industri.  Arkeologi industri berbeda dengan sejarah industri. Sejarah Industri seluruhnya ditulis  menggunakan sumber-sumber tertulis, adapun Arkeologi Industri didasarkan pada studi  lapangan yang sistematis dan kajian sisa-sisa  materi (Hudson 1976: 1,12). Arkeologi Industri  secara periodik berada dalam ranah Arkeologi  Sejarah, dengan demikian sumber-sumber  tertulis menjadi penting. Dua kajian tersebut masing-masing tidak diperlakukan tersendiri,  namun keduanya saling mengisi, informasi  yang diperoleh dari arsip Belanda dapat mengisi  kekurangan dari terbatasnya data arkeologi.

2. Hasil dan Pembahasan

Penelitian pada Situs Oranje Nassau berhasil mengidentifikasi fasilitas penunjang  aktivitas batu bara yakni sumur (lubang galian  batu bara), bangunan rumah mesin, lorong,  dan lantai. Adapun sejarah pertambangannya  ditelusuri pada arsip Belanda yang telah dibukukan dan sumber tertulis sekunder lainnya.

2.1 Sejarah dan Lokasi Tambang Batu bara  Oranje Nassau

Aktivitas tambang batu bara di Indonesia muncul pada masa kolonial Hindia Belanda  dan merupakan bagian dari eksplorasi bahan mineral[2] pada abad ke-19. Belanda menyadari  besarnya potensi dan arti penting batu bara, maka dimulailah eksplorasi geologi untuk mengetahui cadangan batu bara di bumi Kepulauan Indonesia  dan menemukan lokasi tambang. Batu bara mulai  diperhitungkan nilai pentingnya sejak Revolusi  Industri, karena membawa perubahan mendasar  dalam kemajuan industri sebagai bahan bakar  pada industri tekstil dan baku bahan pembuatan benda-benda dari bahan logam (van Bemmelen  1949: V-VII, 1).

Kalimantan merupakan daerah yang  memiliki cadangan batu bara terbesar. Lokasi-lokasi cadangan batu bara di Kalimantan terdapat di Kalimantan Selatan dan Kalimantan  Timur, seperti: Kutai, Pulau Laut, Pengaron,  Martapura, dan Mandai. Mengingat potensi  cadangan batu bara yang besar, maka pantaslah  jika di Kalimantan didirikan tambang-tambang  batu bara. Pelaku usaha tambang batu bara adalah  pemerintah Hindia Belanda dan perusahaan  swasta. Perusahaan tambang batu bara swasta  di antaranya adalah Royal Packet Company di  Parapattan, Samarinda, Kalimantan Timur. Masa  puncak kejayaan tambang batu bara masa Hindia Belanda (sekarang Indonesia) adalah sebelum  Perang Dunia II (tahun 1939-1945). Produksi  batu bara dari Hindia Belanda pada tahun  1938-1940 mencapai lebih dari dua juta ton per tahun, sebagian dari produksi batu bara tersebut diekspor ke Penang, Thailand, Indo Cina, Hongkong, Cina, dan Philiphina (van Bemmelen  1949: 44-80). Lokasi tambang batu bara Oranje Nassau berada di Desa Pengaron, Kecamatan Pengaron,  Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan.  Jarak situs dari Kota Martapura, ibukota Kabupaten Banjar, sekitar 50 km ke arah timur  laut. Tambang batu bara Oranje Nassau tercatat  sebagai tambang batu bara tertua di Indonesia,  milik pemerintah Hindia Belanda, didirikan di  atas tanah milik Kesultanan Banjarmasin (lihat  Peta 1 dan Peta 2). Tambang batu bara Oranje Nassau itu diresmikan penggunaannya pada tahun  1849 oleh Gubernur Jenderal JJ. Rochussen pada  tanggal 28 September 1849 (ANRI 1965: 255;  Leirissa (Ed.) dkk. 1996: 79; Lindblad 2012: 34;  Ahyat 2012: 113, 122). Pengaron sebagai lokasi  tambang batu bara Oranje Nassau termasuk  Distrik Riam Kiwa (Stibbe 1919: 381).

Luas Situs Tambang Batu bara Oranje Nassau sekitar 169,6 m2 (Tim Penelitian Balai  Arkelogi Banjarmasin 2012: 29). Bentang alam  Situs Tambang Batu bara Oranje Nassau berupa  daerah perbukitan, merupakan bagian dari  Gunung Pagaran, diapit oleh dua sungai yakni  Sungai Riam Kiwa berada di sebelah utara dan  Sungai Maniapon Kecil berada di sebelah selatan situs. Posisi sungai lebih rendah atau berada di  bawah situs. Hingga saat ini, Sungai Riam Kiwa  dan Sungai Maniapon Kecil merupakan sumber  air terpenting yang digunakan oleh warga sekitar  situs untuk mencukupi kebutuhan air sehari-hari. Lokasi situs berada di tengah ladang.  Kondisi tanah di situs, mengandung lempung  (clay), padat dan keras. Jenis-jenis tanaman  yang tumbuh di sekitar situs antara lain adalah  tebu, bambu, pisang, dan nangka (Tim Penelitian  Balai Arkeologi Banjarmasin 2012: 29).

Kalimantan Selatan, merupakan wilayah  milik Kesultanan Banjarmasin. Pemerintah  Hindia Belanda mendapatkan izin dari Sultan  Adam untuk penggalian batu bara di beberapa daerah, antara lain tambang Oranje Nassau di Pengaron (Riam Kiwa) pada tahun 1849,  kemudian tambang Julia Hermina di Banyu Irang, dan Kalangan pada tahun 1853. Daerah-daerah tempat tambang batu bara tersebut  merupakan tanah milik kerajaan yang diberikan  kepada para pejabat kerajaan misalnya  pemangku pemerintahan (mangkubumi/patih), sebagai pengganti gaji (tanah lungguh). Namun  demikian karena tanah itu diambil haknya oleh  Belanda digunakan sebagai pertambangan  batu bara, maka sebagai gantinya mangkubumi  mendapatkan seratus empat puluh gulden  (F.140,-) untuk setiap ton batu bara yang  dihasilkan (Ahyat 2012: 1,113,123).

Peta 1. Lokasi Situs Tambang Batu Bara Oranje Nassau, Pengaron, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Sumber:https://mymagnificentindonesia.files.wordpress.com/2014/11/peta_kalsel2.jpg dimodifikasi)
Peta 2. Keletakan Tambang Batu Bara Oranje Nassau (lingkaran warna merah) dalam Wilayah Kesultanan Banjarmasin Tahun 1860 (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia 1965)

2.2 Kompleks Pertambangan

Kompleks pertambangan batu bara Oranje  Nassau oleh penduduk di sekitar situs dinamakan dengan “Sumur Putaran” (Tim Penelitian Balai  Arkeologi Banjarmasin 2012: 29). Pemberian  nama tersebut diilhami oleh terdapatnya lubang  sumur dan benda bentuk melingkar yang dapat  berputar. Penelitian di Situs Oranje Nassau telah mengidentifikasi tinggalan-tinggalan arkeologi yang terdapat pada kompleks pertambangan batu  bara. Jejak-jejak aktivitas tambang batu bara yang masih ditemukan pada kompleks tersebut  meliputi bangunan air berupa sumur bekas lubang  galian batu bara, bangunan monumental untuk menempatkan mesin, lorong, terowongan, lantai.  Sketsa sederhana berikut ini adalah gambaran  mengenai peninggalan-peninggalan pada kompleks tambang batu bara Oranje Nassau.

Gambar 1. Sketsa Komplek Pertambangan Batu Bara, Oranje Nassau, Banjar, Kalimantan Selatan

2.2.1 Sumur

Sumur yang terdapat pada Situs Oranje Nassau diwujudkan dua lubang galian berderet berdenah persegi panjang berukuran sekitar 2 x 2 m. Keempat dinding lubang sumur dibuat  dari susunan bata tidak berlepa, dan sumur tidak  beratap (terbuka). Antara lubang sumur satu dan lubang sumur dua dipisahkan oleh pondasi dibuat dari bahan bata tidak berlepa. Lubang sumur terisi oleh air yang bercampur dengan  sampah. Dua sumur itu masing-masing memiliki  sebuah lorong (terowongan) berupa lubang di  dalam tanah digali secara mendatar yang terdapat  pada dinding lubang sumur bagian utara. Pintu  masuk lorong berdenah persegi panjang, bagian  atas pintu masuk lorong berbentuk lengkung  setengah lingkaran (Foto 1). Diduga sumur  tersebut merupakan lubang galian batu bara.

Foto 1. Sumur dan pintu masuk lorong (terowongan) mendatar (Sumber: Balai Arkeologi Banjarmasin)

Di dalam aktivitas penambangan batu  bara sumur merupakan fasilitas yang penting.  Sumur terkait dengan tempat menggali tanah untuk mendapatkan batu bara yang terpendam di dalam tanah. Menggali tanah, mengangkatnya, dan membersihkan dari campuran tanah dan lumpur merupakan pekerjaan utama dalam  proses penambangan batu bara. Terdapat dua cara penambangan batu bara atau yang dikenal dengan sistem ekstraksi mineral, yakni tambang  terbuka (surface mining) dan tambang tertutup  atau tambang bawah tanah (underground mining).  Cara-cara penambangan tersebut berdasarkan  kondisi geologi batuan penutup, batuan dasar,  karakteristik material batuan, cadangan dan  karakteristik mineral, nilai ekonomis mineral  yang dapat diambil, serta pertimbangan ekonomis  untuk biaya penambangan dan pertimbangan teknik pelaksanaan.

Penambangan terbuka, pada  umumnya dilakukan pada bahan galian (cadangan  mineral) yang terasosiasi dengan batuan penutup  atau pendukungnya yang sudah terekspos ke permukaan bumi. Pada umumnya lapisan batu bara berada pada kedalaman tidak lebih dari  6 meter.

Penambangan tertutup, merupakan  cara yang dilakukan pada bahan galian mineral  terdapat di dalam perut bumi dan tertutup oleh  lapisan batuan penutup yang tebal sehingga  perlu pembuatan lubang atau terowongan untuk  mengekstraksinya. Secara garis besar proses  penambangan batu bara meliputi penyiapan  lahan tambang, pengupasan lapisan penutup batu  bara, dan pengambilan batu bara.

Tambang terbuka, dilakukan dengan  mengupas tanah penutup, adapun tambang  dalam, dilakukan dengan membuat lubang  persiapan baik berupa lubang sumuran ataupun berupa lubang mendatar atau menurun menuju  ke lapisan batu bara yang akan ditambang.  Selanjutnya dibuat lubang bukaan pada lapisan  batu baranya. Adapun cara tambang dalam, dilakukan dengan jalan membuat lubang  persiapan baik berupa lubang sumuran ataupun  berupa lubang mendatar atau menurun menuju ke  lapisan batu bara yang akan ditambang (https:// bernadethawidi.wordpress.com/2009/06/06/ penambangan-batu bara/ diunduh 22 September 2015, pukul 14.40 WIB; Sukandarumidi https:// zozongeologeous.wordpress.com/2014/08/13/ metode-penambangan-batu bara/posted 13 Agustus  2014, diunduh 22 September 2015).

Meskipun belum diketahui fungsinya  secara pasti, namun apabila dikaitkan dengan  dua cara penambangan batu bara, maka sumur  dan lorong tersebut diduga merupakan lubang-lubang bekas tempat galian batu bara yang  ditambang dengan cara tertutup (tambang dalam).  Sumur-sumur digali dengan cara menurun dan  mendatar, dari cara menggali tersebut lubang  yang terbentuk menyerupai lubang sumur dan  lubang terowongan. Kedalaman sumur dan  ukuran lubang galian belum diketahui secara  pasti karena keletakannya yang berada di  bawah menyulitkan proses pengukuran secara  rinci. Lubang tersebut memperlihatkan hampir  setinggi orang dewasa yakni penggali batu bara.  Fungsi sumur dan lorong sebagai lubang galian  batu bara sangat dimungkinkan, karena lubang  tersebut dapat dimasuki oleh manusia yang  menggali batu bara.

2.2.2 Bangunan

Kompleks tambang batu bara Oranje  Nassau dilengkapi dengan bangunan, satu-satunya bangunan yang masih tersisa adalah  rumah mesin. Bangunan rumah mesin berada 2 m di sebelah utara sumur. Secara keseluruhan bangunan ini berdenah persegi panjang ber ukuran 2 x 6 m, permanen, kokoh, memiliki  pondasi terlihat di atas permukaan tanah, dinding  bangunan dibuat dari bata berlepa, menjulang ke  atas menyerupai menara tinggi mencapai 11,2 m,  memiliki sebuah ruangan, tidak memiliki atap  (Foto 2.) (Tim Penelitian Balai Arkeologi Banjarmasin 2012: 29).

Foto 2. Bangunan monumental pada Situs Tambang Batu Bara Oranje Nassau (Sumber: Balai Arkeologi Banjarmasin)

Bangunan memiliki  sebuah ambang pintu berada di sebelah utara, denah persegi panjang, bagian atas ambang  pintu berbentuk lengkung setengah lingkaran. Fungsinya sebagai rumah mesin dapat diamati dari jejak-jejak yang membekas, berupa goresan berbentuk lingkaran menempel pada dua buah dinding tembok bangunan bagian dalam.

Pada bagian tengah goresan lingkaran berupa sebuah  berlubang yang tembus hingga ke bagian luar  (Foto 3). Ciri ini ditafsirkan sebagai tempat  kedudukan mesin. Diduga bangunan ini ada  kaitannya dengan tempat mesin, misalnya benda  berbentuk melingkar seperti roda dan dapat  berputar (bergerak). Benda berbentuk melingkar seperti roda dan dapat berputar (bergerak)  merupakan peralatan yang digunakan dalam  penambangan batu bara, misalnya digunakan  untuk menarik batu bara yang telah digali.  Peralatan seperti itu diperlukan antara lain untuk  mengangkat batu bara yang telah digali berada di  dalam lubang sumur yang dalam.

Foto 3. Tanda goresan lingkaran pada ruangan, pada bagian dalam bangunan (Sumber: Balai Arkeologi Banjarmasin)

Bangunan sebagai tempat kedudukan mesin dalam pertambangan batu bara dinamakan  dengan rumah mesin (engine house). Foto 4 merupakan ilustrasi yang menggambarkan  kompleks pertambangan batu bara di Tylorstown  Cillery, South Wales, Inggris, pada abad ke-19  (Hudson 1976: 80, 83). Informasi yang diperoleh  dari foto tersebut adalah penggunaan fasilitas penunjang batu bara antara lain menara tinggi  dengan berbentuk lingkaran menyerupai katrol  (crane). Fungsi katrol tersebut untuk menarik  atau mengangkat batu bara dari dalam lubang  sumur galian ke atas permukaan tanah. Melihat  ilustrasi tersebut, fungsi bangunan menyerupai  menara pada kompleks tambang batu bara Oranje  Nassau ditafsirkan serupa dengan menara pada  kompleks pertambangan di Tylors town Cillery,  South Wales, Inggris.

Foto 4. Kompleks tambang batu bara Tylorstown Colliery di South Wales, Inggris, abad ke-19 (Sumber: Hudson 1976: 83)

2.2.3 Lorong Permukaan Tanah

Tim Penelitian juga menemukan lorong  namun berbeda dengan lorong pertama yang  terdapat di dalam sumur. Untuk membedakan dengan lorong pertama selanjutnya lorong ini  disebut dengan lorong kedua. Ciri-ciri lorong  kedua berbeda dengan lorong pertama. Lorong  kedua berada di sebelah selatan lubang sumur, berupa empat lubang berdenah empat persegi  panjang, digali mendatar, memanjang orientasi arah utara-selatan. Lorong ada yang terbuka pada  bagian atasnya (permukaan) menyerupai kanal  saluran air dan ada pula yang tertutup. Lorong  kedua berjumlah empat buah berderet arah barat timur. Kedalaman lorong sekitar 1,5 – 2 m. Lantai  dan dinding bagian dalam diperkuat dengan bata  (Foto 5).

Foto 5. Lorong terbuka di lokasi bekas tambang batu bara Oranje Nassau (Sumber: Balai Arkeologi Banjarmasin)

Mengamati ciri-ciri tersebut, kiranya  lorong kedua dapat ditafsirkan sebagai lorong  yang dapat dilalui oleh lori pengangkut batu bara. Dugaan adanya lori pengangkut batu  bara, didukung oleh temuan lainnya yakni dua  roda besi. Kedua roda besi berukuran diameter  25 cm, tebal roda 9 cm, lubang as roda 3,5 cm,  berat satu buah roda 5,5 kg, memiliki 4 buah  jari-jari. (Foto 6) (Tim Penelitian b 2012: 45-47).  Meskipun yang ditemukan hanya roda besi  tanpa disertai temuan bak lori, namun dapat  memberikan petunjuk mengenai pengangkutan  batu bara menggunakan lori pada saat itu. Batu  bara yang telah digali dari dalam lubang sumur  diangkat, dan diangkut menggunakan lori  melalui lorong kedua.

Foto 6. Roda besi temuan dari Situs Tambang Batu Bara Oranje Nassau, koleksi Balai Arkeologi Banjarmasin. (Sumber: Balai Arkeologi Banjarmasin)

Sebuah foto tentang lori di pertambangan  batu bara Cinderford, Forest Dean, Inggris, pada  abad ke-19 (Foto 7) menjadi hal penting (Hudson  1976: 66, 80). Foto tersebut memberikan  informasi bahwa lori telah dikenal sebagai alat  angkut batu bara pada abad ke-19. Lori adalah  kereta menggunakan ban (roda) dijalankan  oleh roda besi di atas sepasang rel yang ditarik  oleh tenaga manusia. Rel lori tidak ditemukan  di penambangan batu bara Oranje Nassau,  namun yang ditemukan adalah roda besi.  Dengan memperhatikan konteks temuan lorong  terbuka, roda besi, dan pembanding dengan lori  pada penambangan di lnggris pada waktu yang  hampir bersamaan, patut diduga bahwa lori juga  digunakan di tambang batu bara Oranje Nassau.

Foto 7. Lori pengangkut batu bara di atas sepasang rel di dorong oleh tenaga manusia. Lokasi pertambangan batubara Cinderford, Forest Dean, Inggris, abad ke-19 M (Sumber: Hudson 1976: 66)

2.2.4 Lantai 

Penelitian pada tambang batu bara Oranje Nassau menemukan lantai dibuat dari bata  berupa hamparan lantai tersendiri yang terpisah  dengan sumur, bangunan, dan lorong kedua. Meskipun sebagai unsur bangunan tersendiri,  lantai terletak berdekatan berada di sebelah barat  sumur, bangunan, dan lorong, dengan posisi  lebih rendah berada di sebelah barat sumur dan bangunan. Hamparan lantai berdenah empat  persegi panjang, berupa susunan bata yang  ditata secara mendatar dan berlapis-lapis ke  dalam tanah, tebal, dan kuat. Posisi lantai lebih rendah dari pada sumur, bangunan, dan lorong.  Bata lantai berwarna putih pucat, dengan tekstur  kasar. Sebagian bata berinskripsi (memiliki  tulisan) pada salah satu permukaannya. Inskripsi  beraksara Latin yakni PATENT P. BROWN &  SON PAISLEY, ditulis dalam sebuah bingkai segi delapan (Foto 8 dan Foto 9). Selain itu, terdapat  pula bata yang terlihat berwarna kehitaman, agak  basah yang disebabkan oleh tumpahan minyak  (oli).

Foto 8 dan 9. Bata berinskripsi pada lantai kondisi insitu (Sumber: Balai Arkeologi Banjarmasin)

Hingga saat ini fungsi lantai dalam  aktivitas tambang batu bara belum diketahui  secara pasti. Berdasarkan ciri-ciri tersebut  hamparan lantai bata ditafsirkan sebagai tempat  untuk meletakkan alat-alat berat atau bengkel  perbaikan alat-alat tambang.

Meskipun sebagai lantai tersendiri,  namun melihat keletakannya yang dibangun  berdekatan dengan lokasi sumur galian, dan  bangunan, nampaknya lantai tersebut adalah asilitas penunjang dari aktivitas pertambangan  batu bara. Pada umumnya lantai dijumpai  pada sebuah bangunan dengan kata lain lantai  adalah bagian/unsur dari bangunan. Hamparan  lantai yang dibuat dari susunan bata berlapis-lapis, tebal, memberi petunjuk bahwa dahulu di  atas lantai tersebut terdapat bangunan. Dugaan  bahwa dahulu terdapat bangunan di atas lantai,  diperkuat dengan banyaknya pecahan genteng  berbentuk rata dan lengkung ditemukan di  sekitar hamparan lantai. Bentuk lengkung  terdapat pada bagian tepian, dan bagian tengah  genteng. Beberapa di antara pecahan genteng  yang ditemukan berinskripsi (memiliki tulisan)  berupa aksara latin, yakni P, H2, dan M. Selain  genteng ditemukan pula paku berbagai ukuran  antara 3-13 cm, dalam kondisi bengkok dan aus  (Tim Penelitian Balai Arkeologi Banjarmasin  2012: 45-47). Tidak terdapatnya bekas dinding tembok yang tersisadiduga bahwa bangunan  pada lantai tersebut menggunakan konstruksi  dari bahan kayu yang mudah rusak dan telah  roboh.

2.2.5 Masuknya Teknologi Tambang Batu  bara dan Perkembangan Mesin Uap

Tambang Oranje Nassau merupakan  tambang batu bara tertua di Indonesia yang  diperkenalkan pada era pemerintah Kolonial Belanda abad ke-19. Sebagai tambang batu bara tertua, Oranje Nassau menjadi tonggak  penting sebagai penanda masuknya teknologi  pertambangan batu bara di Indonesia, yang  nantinya akan diikuti dengan kemajuan  teknologi lainnya misalnya transportasi. Oranje Nassau merupakan bukti awal masuknya teknologi tambang batu bara di Indonesia. Kendatipun tambang batu bara dikenalkan pada  masa kolonial Belanda, namun teknologi dan  tenaga ahli tambang bukan berasal dari Belanda. Teknologi tambang batu bara merupakan teknologi yang berasal dari Inggris, sedangkan  Belanda merupakan pencetus ide.

Petunjuk bahwa masuknya teknologi  tambang batu bara di Indonesia berasal dari  Inggris berdasarkan bata berinskripsi pada lantai  Situs Oranje Nassau yang bertuliskan PATENT  P. BROWN & SON PAISLEY. Dari inskripsi  tersebut diduga bata diimpor dari Inggris.  PATENT P. BROWN & SON PAISLEY diketahui  merupakan nama sebuah perusahaan pembuatan bata berlokasi di Paisley, Renfrewshire,  Skotlandia. Masa aktif perusahaan tersebut  adalah tahun 1836 sampai dengan 1938, adapun  jenis bata yang diproduksi adalah bata tahan  api (Gurcke 1987: 73 dalam http://callbrick. netfirms.com/brick.brown.html diunduh 27  Januari 2015 pukul 10.00 WIB).

Bersamaan waktunya dengan berkembangnya pertambangan batu bara di Hindia Belanda yang dimulai pada pertengahan abad  ke-19 dibutuhkan tenaga ahli pertambangan.  Pemerintah Kolonial Belanda pada saat itu belum memiliki tenaga ahli tambang dan ahli geologi secara umum yang terdidik. Guna  mendukung berbagai kegiatan pertambangan,  pemerintah Hindia Belanda merekrut tenaga  asing dari Eropa misalnya Wolfgang Leupold  ahli geologi berasal dari Swiss. Dia termasuk  salah satu pekerja yang bertugas dengan  pemerintah kolonial Hindia Belanda di  Kepulauan Indonesia (Giacosa 2013: 7 dan  16).

Pengaruh tambang batu bara pada  perkembangan teknologi begitu luar biasa. Batu bara digunakan sebagai sumber energi pada lokomotif kereta api dan kapal uap. Maskapai kereta api Belanda yakni Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij (NIS), menggunakan batu bara sebagai bahan bakar lokomotif kereta. Sementara itu, N.V. Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) mulai  mengoperasionalkan armada kapal uap (kapal api) pada tahun 1891 dengan menggunakan  bahan bakar batu bara pula. Tidak menutup kemungkinan batu bara yang digunakan pada  lokomotif kereta api dan kapal uap adalah batu bara yang dihasilkan dari Kalimantan.

3. Penutup

Situs Oranje Nassau merupakan situs  tambang batu bara tertua di Indonesia. Penting artinya karena sebagai bukti awal pengenalan teknologi tambang batu bara di Indonesia abad  ke-19. Data arkeologi yang diperoleh dari hasil penelitian pada Situs Tambang Batu bara Oranje Nassau bersifat fragmentaris, yakni sumur, lorong, bangunan, dan lantai. Secara keseluruhan tinggalan arkeologi di Situs Oranje Nassau kurang diketahui fungsinya, namun demikian  melalui identifikasi dan analisis kontekstual antar tinggalan arkeologi, diperoleh gambaran fungsi dan hubungan antar data satu dengan  data lainnya. Lubang-lubang sumur dan lorong atau terowongan pada situs tersebut merupakan  petunjuk cara yang digunakan pada tambang  Oranje Nassau, yakni penambangan dalam atau  tertutup dengan cara membuat lubang galian  menurun ke dalam tanah.

Situs Oranje Nassau beserta peninggalan peninggalannya adalah contoh sebuah situs yang  dapat dikategorikan situs Arkeologi Industri di  Indonesia. Objek-objek pengamatan pada Situs  Oranje Nassau yakni bangunan, bagian dari  bangunan, lubang galian batu bara, memberikan gambaran karakteristik Situs Oranje Nassau sebagai situs industri. Pertambangan batu bara di Indonesia merupakan teknologi yang diimpor dari luar Indonesia yakni Inggris, diperkenalkan pada  masa Hindia Belanda. Peninggalan-peninggalan  pada Situs Tambang Batu bara Oranje Nassau adalah contoh warisan industri (industrial  heritage) yang terdapat di Indonesia.

Tulisan ini masih jauh dari sempurna,  masih perlu penyempurnaan melalui saran dari  pembaca guna kemajuan Arkeologi Industri  di Indonesia. Untuk mengungkap fungsi  peninggalan tambang batu bara Oranje Nassau lebih rinci perlu dilakukan perbandingan dengan  situs sejenis lainnya yang terdapat di Indonesia  atau di luar negeri. Selain itu perlu pula dilakukan  uji laboratorium terhadap bata lantai tambang Oranje Nassau, untuk membuktikan bahwa bata tersebut jenis bata tahan api yang didatangkan  dari Inggris.

 

Ucapan Terima Kasih

Penulis perlu mengucapkan terimakasih  kepada Kepala Balai Arkeologi Banjarmasin, atas  persetujuan yang diberikannya sehingga penulis  ikut serta dalam penelitian. Ucapan terimakasih  juga penulis sampaikan kepada ketua tim  penelitian yaitu Nugroho Nur Susanto, S.S., dan  rekan-rekan tim peneltian dari Balai Arkeologi  Banjarmasin yang tidak dapat disebutkan satu  persatu atas ijin dan perkenannya menggunakan  Laporan Hasil Penelitian sebagai data dalam  tulisan ini.

 

Daftar Pustaka

Ahyat, Ita Syamtasiyah. 2012. Kesultanan  Banjarmasin pada Abad Ke-19  Ekspansi Pemerintah Hindia-Belanda  di Kalimantan. Tangerang: Serat Alam  Media.

ANRI. 1965. Surat-surat Perdjandjian antara  Kesultanan Bandjarmasin dengan  Pemerintahan VOC, Bataafse Republik,  Inggris dan Hindia Belanda 1635- 1680. Jakarta: Arsip Nasional Republik  Indonesia.

Bemmelen, R.W. van. 1949. The Geology of  Indonesia Vol. II Economic Geology., The  Hague: Martinus Nijhoff.

Giacosa, Paola von Wyss dan Andreas Isler.  2013. Memori dari Kalimantan 1921- 1927 Dokumentasi oleh Ahli Geologi  Swiss Wolfgang Leupold. Swiss: Museum  Etnografi Universitas Zurich.

Hudson, Kenneth. 1976. Industrial Archaeology  A New Introduction. London: John Baker.

Leirissa, R.Z (Ed.). 1996. Sejarah Nasional  Indonesia IV Edisi Ke-4. Jakarta:  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan  dan Balai Pustaka.

Lindblad, J. Thomas. 2012. Antara Dayak dan  Belanda, Sejarah Ekonomi Kalimantan  Timur dan Selatan. Jakarta: KITLV  bekerjasama dengan Malang: Lilin  Persada Press.

Nuralang, Andi. 2004. “Penambangan Batu bara  di Pengaron dan Semblimbingan Kalimantan Selatan Abad XVIII-XIX Masehi”.  Naditira Widya Buletin Arkeologi No. 12,  April 2004. Banjarmasin: Balai Arkeologi  Banjarmasin: 35-42.

Palmer, Marilyn and Peter Neaverson. 1998.  Industrial Archaeology Principles and  Practice. London: Routdlege.

Stibbe, D.B. 1919. Encyclopaedia van  Nederlandsch Oost Indie (ENI) Tweede  Druk Derde Deel. Leiden: S’Gravenhage  Martinus Nijhoff.

Tim Penelitian. 2004. Arkeologi Industri Pabrik  Gula Tinggalan Belanda di Wilayah Pantai  Utara Jawa Tengah. Laporan Penelitian  Arkeologi. Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Asisten Deputi  Urusan Arkeologi Nasional.

Tim Penelitian Balai Arkeologi Banjarmasin.  2012. Situs Pengaron, Kabupaten Banjar,  Provinsi Kalimantan Selatan. Laporan  Penelitian Arkeologi. Banjarbaru: Balai  Arkeologi Banjarmasin dan Dinas  Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan  Olahraga Kabupaten Banjar.

Tim Penelitian. 2012. Arkeologi Trans  Jawa: Pembangunan Sistem Jaringan  Kereta Api di Wilayah Semarang dan  Sekitarnya Pada Akhir Abad Ke-19.  Laporan Penelitian Arkeologi. Jakarta:  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Pusat Arkeologi Nasional.

 

Sumber online

https://bernadethawidi.wordpress. com/2009/06/06/penambangan-batu  bara/ diunduh 22 September 2015,  pukul 14.40 WIB; Sukandarumidi  https://zozongeologeous.wordpress. com/2014/08/13/metode-penambangan batu bara/ posted 13 Agustus 2014,  diunduh 22 September 2015.

http://callbrick.netfirms.com/brick.brown.html  diunduh 27 Januari 2015 pukul 10.00  WIB.

 

[1] Warisan budaya tangible, yaitu berupa benda konkret yang dapat  dilihat, disentuh, pada umumnya berupa benda buatan manusia,  dan dibuat untuk memenuhi kebutuhan tertentu (Sedyawati  2003:1).

[2] Mineral: Barang tambang, padat, homogen bersifat tak organis  yang terbentuk secara alamiah, dan mempunyai komposisi  kimia tertentu, jumlah sangat banyak, misalnya: tembaga, emas,  intan, minyak bumi, batu bara, dan bijih besi.

 

Jurnal ini disalin di bawah Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License

  • Facebook
  • Share on X
  • LinkedIn
  • WhatsApp
  • Email
  • Copy Link
Category: Sejarah

Navigasi pos

← Simbol Gunung dan Air pada Lanskap Budaya Candi Agung di Kalimantan Selatan
Asalnya di Rabung Jua →

Categories

  • Adat
  • Budaya
  • Opini
  • Sastra
  • Sejarah

Pustaka Banjar adalah sebuah upaya untuk mengenalkan sejarah dan melestarikan budaya Banjar kepada generasi di masa yang akan datang. Situs ini dibuat bukan untuk kepentingan komersial.

© 2026 Pustaka Banjar | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme