Skip to content

Pustaka Banjar

Sumber Informasi Sejarah dan Budaya Banjar

Menu
  • Beranda
  • Sejarah
  • Budaya
  • Adat
  • Sastra
  • Seni
  • Opini
Menu

Mantra Pengobatan dalam Naskah Banjar

Posted on by

Healing Mantra in Banjarese Manuscript

Dede Hidayatullah
Balai Bahasa Kalimantan Selatan;
Jalan A. Yani km. 32,2 Loktabat Banjarbaru Kalimantan Selatan;
posel: dayatdh@gmail.com

Naditira Widya Vol. 13 No. 1 April 2019
Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

 

Abstrak. Sedikitnya studi naskah pengobatan ini karena keberadaan naskah pengobatan sulit ditemukan. Naskah pengobatan adalah naskah rahasia yang disembunyikan dari orang lain karena bacaannya bersifat magis, dan tidak semua orang dapat membacanya. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi penelitian lain yang membahas tentang mantra pengobatan yang bersumber dari naskah lama. Selain itu, penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk melestarikan manuskrip lama yang memuat informasi tentang kehidupan dan budaya masa lampau, melestarikan tradisi lisan mantra dan pengobatan tradisional Banjar yang mulai punah. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan menerapkan kodikologi dan menganalisis isi teks mantra pengobatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naskah mantra pengobatan ditulis dengan bahasa Banjar berbentuk prosa dan beraksara Arab Melayu. Naskah ini memuat keterangan tentang kumpulan obat-obatan herbal, termasuk bacaan, mantra, wafak, isim, dan azimat. Lebih lanjut, bacaan dalam naskah ini diklasifikasikan dalam empat bentuk, yaitu doa, ayat Alquran, selawat, dan syahadat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Banjar sejak zaman dulu sudah menggunakan berbagai media dalam melakukan pengobatan.

Kata kunci: naskah pengobatan, bahasa Banjar, mantra, ramuan herbal, kodikologi, tradisi lisan

Abstract. The lack of study on healing manuscripts is due to the difficulties in finding such texts. A healing manuscript is a secret text that is kept hidden from others because it contains magic script, and not everyone is able to read it. This research is proposed as basis for other studies on healing mantra originating from old manuscripts. Further, this research is conducted as an effort to preserve old manuscripts that contain information concerning life and culture of the past, preserve the oral traditions of mantra, and traditional Banjarese healings that are becoming extinct. The research method used was descriptive by applying codicology and analyzing the contents of healing mantra. Results of this research indicate that the texts of healing mantra was written as proses in Banjarese using Arabic-Malay letters. The text contains information of a collection of herbal concoctions, including scripts, incantations, wafak, isim, and amulets. Furthermore, the literatures in this manuscript are classified into four structures, i.e. prayer, verses of the Koran, selawat, and shahada. Results of this study indicate that the Banjar community has used various media to conduct healing treatment since ancient times.

Keywords: Healing manuscript, Banjarese, mantra, herbal concoction, codicology, oral tradition

 

PENDAHULUAN

Kajian terhadap naskah yang memuat tentang pengobatan di Kalimantan Selatan, selama ini, belum menjadi perhatian para peneliti dan pengkaji naskah. Salah satu kendala yang menyebabkan kajian terhadap naskah pengobatan ini  jarang dilakukan karena keberadaan naskah yang berisi tentang pengobatan baik itu pengobatan herbal, maupun dengan media mantra atau bacaan, sangat rahasia. Hal ini karena naskah pengobatan itu sendiri, biasanya memuat tentang pengobatan herbal dan pengobatan secara magis yang menggunakan bacaan atau isim dan hanya bisa berfungsi sebagai obat apabila dilakukan oleh orang-orang tertentu seperti tuan guru dan tabib.[1] Selain itu, sistem pewarisan mantra dan bacaan biasanya dilakukan secara lisan dan tertutup. Hal ini membuat naskah ini menjadi naskah rahasia dan disembunyikan dari orang lain. Padahal naskah pengobatan itu mempunyai peranan dan fungsi yang penting bagi masyarakatnya, sebagai pengobatan alternatif. Oleh karena itu, kajian terhadap naskah yang memuat tentang pengobatan, baik menggunakan tanaman maupun media lainnya, sangat penting dilakukan.

Kajian naskah di Kalimantan Selatan selama ini, biasanya pada naskah keagamaan dan naskah syair saja.  Untuk naskah agama, kajian dilakukan terhadap naskah-naskah yang ditulis Al-Banjari yang masih terdokumentasi dan tersimpan dengan baik di Desa Dalam Pagar dan juga di Museum Lambung Mangkurat  (Hidayatullah 2015: 59; 2016: 117). Selain itu, kajian naskah juga dilakukan terhadap naskah tasawuf seperti pada naskah Negara, seperti yang dilakukan oleh Munadi dkk. (2011: 93) yang meneliti salah satu bagian dari naskah Negara, yaitu Ini Pasal pada Menyatakan Sembahyang yang membahas tentang  konsep salat menurut Ihsanuddin Sumatrani; Humaydi dkk. (2011: 2) yang meneliti isi naskah Syarâb Al-‘Âsyiqîn karya Hamzah Fansuri. Naskah Negara ini  merupakan kitab yang berisi tentang tasawuf dan tauhid  yang merupakan hasil karangan beberapa pengarang. Mayoritas pengarang dalam naskah ini berasal dari Aceh seperti Hamzah Fansuri, Nûr al-Dîn Al-Rânîrî dan Ihsân Al-Dîn ibn Muhammad Syamamaranî (Hidayatullah 2014b: 451). Adapun kajian terhadap naskah syair biasanya berkaitan dengan tema, penokohan, dan amanat yang terdapat dalam syair itu.

Selama ini, objek penelitian tentang pengobatan, terutama berkaitan dengan mantra yang ada di masyarakat dan dituturkan turun temurun secara lisan. Ada beberapa penelitian yang telah dilakukan terhadap mantra, misalnya Yulianto (2011: 140) meneliti kompromi budaya dan kepercayaan dalam mantra; Burchett (2008: 807) tentang fenomena kemagisan mantra; Daod (2010: 181) tentang mantra dan dukun di Malaysia; Saputra (2007: 42) tentang struktur mantra Using, konvensi, konsep kelisanan dan fungsinya; Maknuna dkk. (2013: 2) tentang struktur, formula, dan fungsi mantra pemanggil hujan di Situbundo; Kasmilawati dan Effendi (2012: 4) tentang struktur mantra Dayak Deyah; Suwarno (2012: 323) tentang bentuk dan isi mantra; dan Hermansyah (2010:3-4) tentang mantra di Kalimantan Barat. Adapun penelitian tentang mantra Banjar yang dilakukan oleh Sunarti, dkk. (1978: 54); Tim Peneliti dari Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan (Mugeni dkk. 2005: 1—82); Ganie (2007: 276— 281); Sulistyowati dan Ganie (2016: 12); Rohim (2014: 206); dan mendeskripsikan tentang mantra Banjar berdasarkan fungsinya dan nilai budaya; Hidayatullah (2009: 33; 2014: 280) mendeskripsikan jenis mantra Banjar berdasarkan penggunaannya dan revitalisasi mantra Banjar.

Adapun kajian tentang naskah yang memuat pengobatan di Kalimantan Selatan belum pernah dilakukan. Kajian naskah terpusat pada dua fokus penelitian, yakni naskah keagamaan dan naskah sastra. Kajian tentang mantra yang terkait dengan pengobatan, yaitu penawar, biasanya berupa kajian tentang tuturan yang telah ditradisikan. Akibatnya kajian naskah pengobatan seakan-akan terabaikan. Penelitian naskah yang berisi mantra pernah dilakukan oleh Hidayatullah yang membahas tentang kodikologi dan isi naskah mantra mistik (2016: 120—121), dan suntingan naskah doa wirid tolak bala (2017: 124). Naskah mantra mistik memuat tentang kagancangan (kesaktian), kewibawaan, dan kedigjayaan, sedangkan naskah doa wirid tolak bala memuat sembahyang, bacaan jual beli, dan bagian  yang ketiga tentang bacaan pintu rezeki.

Penelitian ini akan membahas tentang naskah pengobatan. Objek penelitian ini adalah naskah Mantra Pengobatan (MP). Naskah MP merupakan naskah yang dimiliki oleh Najib secara turun temurun yang beralamat di Rumah Adat Banjar, Teluk Selong, Jalan Martapura Lama No. 28, Kecamatan Martapura Barat, Kalimantan Selatan.

Dipilihnya naskah MP sebagai objek dalam penelitian ini, karena naskah ini memuat tentang pengobatan-pengobatan herbal dan ‘penawar’, yaitu pengobatan yang menggunakan media seperti bacaan, mantra, azimat ataupun rajah. Secara filologis, kajian terhadap naskah MP ini juga belum pernah dilakukan.

Naskah MP yang memuat mantra, bacaan, azimat, dan pengobatan herbal yang biasanya hanya dimiliki oleh kalangan tertentu saja. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan isi naskah MP yang memuat mantra, bacaan, azimat, dan pengobatan herbal. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi penelitian lain yang membahas tentang mantra pengobatan yang bersumber dari naskah lama. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat melestarikan manuskrip lama yang memuat tentang kehidupan dan budaya masa lampau, melestarikan tradisi lisan mantra dan pengobatan Banjar yang sudah dalam masa menuju kepunahan. Selain itu, mantra dan pengobatan dalam naskah MP ini merupakan produk budaya yang memiliki efek positif untuk pengobatan alternatif.

Menurut Zaidan, dkk. (2000: 127)  mantra adalah puisi Melayu lama yang dianggap mengandung kekuatan gaib, yang biasa diucapkan pawang atau dukun untuk mempengaruhi kekuatan alam semesta atau binatang. Adapun Kosasih (2012: 14) mendefinisikan mantra sebagai bentuk puisi atau gubahan bahasa yang diresapi oleh kepercayaan akan dunia gaib. Irama bahasa sangatlah dipentingkan dengan maksud untuk menciptakan nuansa magis, mantra timbul dari hasil imajinasi atas dasar kepercayaan animisme. Mantra bertujuan utama untuk menimbulkan tenaga gaib (1996: 20). Hermansyah (2010: 47-50) mengistilahkan mantra dengan ilmu. Menurutnya ilmu terbagi kepada beberapa bentuk, yaitu bentuk mantra, bentuk azimat, dan bentuk lain. Bentuk mantra terbagi atas tawar, cuca, ilmu, dan pelias. Azimat terbagi ke dalam buntat, kain, rambut, keris, dan kertas. Adapun yang termasuk dalam bentuk lain adalah minyak tampang keladi, minyak dilah, dan darah urang mati bunuh.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh tim penyusun Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan (Mugeni: 2005:5-15), mantra Banjar berdasarkan penggunaannya dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu pitua, pirunduk, tatamba, dan tutulak. Namun, menurut pendapat Sunarti dkk. (1978: 54) mantra Banjar berdasarkan penggunaannya dibagi ke dalam lima jenis, yaitu kekebalan (ketaguhan), pirunduk, penawar, sangga (penahan), dan papujaan (puja-pujaan). Secara umum keduanya tidak berbeda jauh,  pitua sama dengan kekebalan (ketaguhan), penawar dan tatamba juga sama. Hanya papujaan saja yang berbeda. Sulistyowati dan Ganie (2016: 12) mengklasifikasikan mantra menjadi lebih terperinci, yaitu kariau, kasumbi, mamang, pakasih, pambanci, pambungkam, panangkal, panawar, panulak, panyangga, papikat, pikaras, pirunduk, dan sumpah serapah.

Adapun teori yang digunakan dalam kajian pernaskahan berasal dari filologi. Filologi menurut Baried dkk. (1994: 1—6) adalah ilmu yang berkaitan dengan naskah dan pernaskahan. Sementara itu Nabilah Lubis (dalam Tjandrasasmita 2006: 8) mendefinisikan filologi sebagai ilmu pengetahuan tentang sastra, yang dalam arti luas mencakup bahasa, sastra, dan kebudayaan. Filologi merupakan disiplin ilmu yang berguna untuk meneliti bahasa suatu karya melalui kajian linguistik, makna kata-kata, dan penilaian terhadap ungkapan bahasa sastra. Menurut Yudiafi dan Mu’jizah (2010: 1-5) filologi adalah suatu disiplin ilmu tentang teks yang terekam dalam tulisan masa lampau. Studi teks ini didasari oleh adanya informasi tentang hasil budaya manusia pada masa lampau yang tersimpan di dalamnya. Filologi dapat disandingkan dengan ilmu tahqiq, yaitu mentahqiq teks-teks. Men-tahqiq teks berarti mengetahui secara yakin tentang naskah, penulisnya, mengetahui bagaimana naskah itu bisa disandarkan kepada penulisnya, melakukan kegiatan kritik teks yang nantinya bisa mengetahui keaslian dari dan kedekatannya dengan naskah yang pertama dibuat (1998: 42). Mentahqiq adalah mengetahui secara substansi tentang suatu teks (Diyab 1993: 133—134). Dalam tradisi penelitian modern, filologi dipandang sebagai studi yang melakukan penelaahan dengan mengadakan kritik teks. Filologi juga digunakan sebagai perangkat pengetahuan dengan studi teks sastra atau budaya yang dikaitkan dengan latar belakang kebudayaan yang didukung oleh teks (Tjandrasasmita 2006: 16-17).

Adapun kodikologi ialah ilmu tentang kodeks (naskah) yang mengkaji sejarah naskah, kertas, tulisan, iluminasi, perdagangan naskah, dan lainlain. Kodikologi merupakan ilmu yang menguraikan dan mempelajari bahan tulisan tangan, seluk beluk semua aspek naskah, termasuk di dalamnya bahan, umur, tempat penulisan, dan perkiraan penulisan naskah. Kodikologi bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan yang menyeluruh mengenai proses pembuatan dan pemakaian naskah, termasuk di dalamnya mengetahui orang-orang yang berkaitan dengan naskah (Mulyadi dan Rujiati 1994:5; Mu‘jizah 2005: 3).

METODE PENELITIAN

Penelitian tentang naskah MP merupakan penelitian filologis. Adapun langkah-langkah penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut.

Pertama, melakukan deskripsi fisik naskah atau kodikologi terhadap naskah MP dan membuat formulir yang memuat elemen-elemen yang akan diteliti. Elemen-elemen yang dimaksud adalah kode dan nomor naskah (kalau ada), judul, pegarang, penyalin, tahun salinan, tempat simpanan, asal naskah, pemilik naskah, jenis alat, kondisi fisik, penjilidan, watermarks, garis tebal/ tipis, jarak antargaris tebal, jarak antartipis garis dengan tinta, skrip pensil, jumlah kuras, jumlah halaman, dan jumlah isi.

Kedua, menyunting teks dalam naskah MP. Ketiga, melakukan analisis untuk menguraikan isi teks MP, berdasarkan pasal dan/atau bab yang ada dalam naskah MP, kemudian menjelaskan tentang isi setiap pasal dan bab tersebut yang dikomparasikan dengan penelitian-penelitian tentang mantra khususnya, mantra tawar atau penawar yang sudah dilakukan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dan pembahasan ini diawali suntingan teks awal dan akhir naskah MP, kemudian diuraikan tentang kodikologi naskahnya, dan analisis isinya yang dibandingkan dengan penelitian-penelitian tentang obat dan pengobatan terdahulu.

Deskripsi Naskah Mantra Pengobatan (MP)

Naskah MP ini bersampul kertas tebal berwarna abu-abu. Alas naskah kertas Eropa berukuran 17 cm x 13,5 cm, ukuran teks 21 cm x 17 cm, tebal naskah 33 halaman.

Naskah ini berbahasa Arab dan Melayu dengan aksara Arab dan Jawi berbentuk prosa. Naskah ini tidak mempunyai penomoran. Jumlah baris setiap halaman ada sebelas. Teks dalam naskah ini ditulis dengan tinta warna hitam dan merah. Setiap awal kalimat dan kata penghubung (kata ‘dan,’ ‘maka’) ditulis dengan tinta merah, dan setiap akhir kalimat ditulis dengan tinta merah. Untuk membedakan antara teks yang berbahasa Banjar dan bahasa Arab, penulis menyertakan syakal atau baris tatkala menuliskan teks yang berbahasa Arab.

Sebaliknya, ketika menulis teks yang berbahasa Banjar, tidak disertai syakal atau baris. Teks ditulis dengan khat Naskhi atau khat standar.

Keadaan naskah sudah dalam kondisi lapuk, bahkan ada beberapa halaman yang terpotongpotong. Hal ini disebabkan penulis naskah ini menulisnya dengan tinta yang tebal. Ketebalan tinta ini menyebabkan kerusakan pada kertas. Secara rinci dapat diuraikan bahwa halaman yang bisa terbaca karena naskahnya masih baik, dan tintanya tidak hilang adalah halaman 1—5, 17— 22, 23—26, 29—34, 36—55, 60, dan halaman 63—66. Adapun halaman 6—16, 27—28,  35, 56— 59, dan 61—62 naskahnya rusak dan tidak bisa dibaca sama sekali. Pada halaman 34, sebagian naskahnya rusak, terutama pada bagian atas, tetapi pada bagian bawah naskah ini masih bisa dibaca. Selain itu, pada halaman 34, 44, 46—47, dan 49—51 tinta merahnya sudah hilang, sedangkan tinta hitamnya masih ada dan masih bisa dibaca.

Penamaan naskah ini dengan judul ‘Mantra Pengobatan’ (MP) karena melihat awal naskah yang memuat tentang obat bengkak dan barah. Pada  naskah tidak tercantum judul besar dan diduga  naskah belum masuk dalam katalog naskah manapun. Naskah ini juga belum termasuk dalam katalog Kalimantan yang diterbitkan pada tahun 2010. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang keberadaan naskah tersebut, penulis melakukan inventarisasi melalui berbagai katalog, antara lain (1) Catalogus Der Maleische Handscriften (Ronkel P. v., 1909); (2) KatalognSupplement Catalogus Der Maleise en Minangkabause Handschriften in the Leidse Universiteis Bibliotheek (Ronkel P. 1942); (3)

Khazanah Naskah: Panduan Koleksi NaskahNaskah Indonesia Sedunia-World Guide to Indonesian Manuscript Collections. (Chambert-Loir 1999); (4) Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 2: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Lindsay dkk. 1994); (5) Katalog Induk Naskahnaskah Nusantara Jilid 3-A: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Behrend dan Pudjiastuti 1997); (6) Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 4 (Behrend 1998); (7) Catalogue of Malay, Minangkabau, and South Sumatran Manuscript in Netherlands (Iskandar 1999); (8) Catalogue of Acehnese Manuscripts in The Library of Leiden University and other Collections Outside Aceh (Voorhove dan Iskandar 1994)

Naskah MP berada pada lemari kedua yang disimpan di rumah adat Banjar, Teluk Selong, Martapura.  Menurut sejarahnya, naskah dimiliki oleh H. Muhammad Toha. Naskah ini kemudian diwariskan kepada anaknya yang bernama H. Syahrani. Selanjutnya, naskah ini diwariskan kepada cucunya yang bernama Iwan yang beralamat di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Naskah ini tidak dibawa ke Bangil, tetapi tetap disimpan di rumah adat Banjar, Teluk Selong, Martapura. Naskah tidak memuat kolofon yang menjelaskan tentang waktu penulisan dan siapa penulisnya. Namun, dari usia kertas yang dipakai sebagai alas tulisan dapat diperkirakan bahwa naskah ini telah berumur lebih dari 100 tahun.[2]

Berdasarkan tulisannya, dapat disimpulkan bahwa naskah ini ditulis oleh satu orang saja. Dalam penulisannya, penulis selalu memisahkan ‘ ث (nya)’ dari kata sebelumnya, seperti ‘(obatnya)  ١وبة ث ’. Biasanya dalam naskah yang lain, huruf ‘ ث (nya)’ ini selalu disambung dengan kata sebelumnya yang bisa di dalam penulisannya. Hal ini menunjukkan kekhasan dalam teks kumpulan obat-obatan ini. Naskah ini tidak mempunyai daftar isi. Penulisan naskah pada halaman satu dimulai dengan tulisan tentang bacaan penawar yang dibaca dan ditiupkan luka yang bengkak. Pada awal penulisan, setiap kali pergantian tema ditulis pada baris baru. Namun, pada bagian pertengahan sampai akhir, pergantian tema ini ditulis menyambung saja dengan tema sebelumnya pada baris yang sama. Pergantian ini di mulai dengan kata ‘Ini Bab…’ atau ‘Ini Obat…’ yang ditulis dengan tinta merah.

Suntingan Teks Naskah MP

Suntingan teks ini hanya memuat teks awal dan teks akhir dari naskah MP. Kalimat awal berbunyi:

“Ini lagi kata jangkang barah[3] atau bisul.[4] kita tiupkan kepada barah dan bisul. Inilah katanya, ’Tawarnya ‘Bismi l-Lâhi r-rahmâni r-rahîm. Bumi putih tawar langit putih kalam putih tawar saurang membawa tawar Allah tawar Muhammad beriburibu tawar Muhammad aha tawar si anu berkat Lâ ilâ ha illa l_Lâh Muhammaddu r-rasûlullâh. Adanya.”

Terjemahan:

Ini lagi kata untuk mengobati bisul. Kita tiupkan ke barah atau bisul. Inilah kata obatnya. ’Tawarnya ‘Bismi l-Lâhi r-rahmâni r-rahîm. Bumi putih tawar langit putih kalam putih tawar saurang membawa tawar Allah tawar Muhammad beribu-ribu tawar Muhammad aha tawar si anu berkat Lâ ilâ ha illa l_Lâh Muhammaddu r-rasûlullâh. Adanya.

“Ini dibaca ketika handak mangunci lawang atau lalungkang tiap-tiap petang hari niscaya/ disatukan Allah ta ala akan dirinya dan sekalian isi rumahnya daripada sekalian bala dan dari pada penyakit. Inilah yang dibaca ‘Bismi l-Lâh siqatan billah watawaqqala alaih. Adanya.

Terjemahan:

Ini dibaca ketika hendak mangunci pintu atau Jendela setiap petang hari niscaya diselamatkan Allah Ta‘ala akan dirinya dan semua isi rumahnya dari bala dan penyakit inilah yang dibaca ‘Bismi l-Lâh siqatan billah watawaqqala alaih.’ Adanya.

Kalimat teks akhir berbunyi:

“Ini tawar sekalian penyakit atau sakit penat awak atau sakit kepala atau sakit barang penyakit. Tiupkan pada air, minumkan pada yang sakit atau tiup kepalanya. Inilah tawarnya,

“Tawar Allah, ah tawar Allah ampunya tawar Jibrail membawanya. Nabi Muhammad nang menawarnya. Ah aku tawar, ah aku tawar, ah, aku tawar. Berkatlilha illallh Muhammadu r-rasûlullh adanya.

Ini doa terlalu baik diamalkan pada tiap-tiap kemudian dari pada sembahyang lima waktu, supaya di[a]nugerahi Allah taala rezeki dan ilmu yang manfaat, dan disampaikan Allah taala akan segala hajat. Inilah doanya.

Allhumma rzuqni ‘ilman nafi‘an wa fikran sabigan wa safiyan wa yaqinan khalisan ila malûtii azaliyyatika/ wa an tamlau qalbi nûran bima‘rifatika, lailaha illa  anta ya ma‘bûdu lailaha illa anta matlûbu lailaha illa anta maqsûdu iqdi[5] hajati[6]kullaha[7] birahmatika ya Arham r-rahimin.

Terjemahan:

Ini obat segala penyakit atau sakit pegal linu atau sakit kepala atau sakit segala penyakit. Tiupkan pada air, minumkan pada yang sakit atau tiup kepalanya. Inilah tawarnya,

“Tawar Allah, ah tawar Allah ampunya tawar Jibrail membawanya. Nabi Muhammad nang menawarnya. Ah aku tawar, ah aku tawar, ah, aku tawar. Berkat lilha illallh Muhammadu r-rasûlullh adanya.

Ini doa yang sangat baik diamalkan pada setiaptiap habis sembahyang lima waktu, supaya dianugerahi Allah taala rezeki dan ilmu yang bermanfaat dan dikabulkan Allah Ta‘ala akan segala keinginan. Inilah doanya.

Allhumma rzuqni ‘ilman nafi‘an wa fikran sabigan wa safiyan wa yaqinan khalisan ila malûtii azaliyyatika/ wa an tamlau qalbi nûran bima‘rifatika, lailaha illa  anta ya ma‘bûdu lailaha illa anta matlûbu lailaha illa anta maqsûdu iqdi hajati kullaha birahmatika ya Arham r-rahimin.

 

Isi Naskah

Secara umum, ditemukan ada tujuh puluh enam pengobatan. Enam puluh enam di antaranya merupakan mantra/bacaan/wafak yang berisi tentang pengobatan, dua bacaan untuk menutup jendela, satu bacaan penjaga diri, satu bacaan ilmu laduni, satu azimat untuk tanaman, satu azimat untuk menyatukan yang tercerai, dua bacaan untuk meluaskan rezeki, satu bacaan pengasihan, dan satu doa keluar rumah. Isi naskah MP bisa di bagi ke dalam beberapa bagian sebagai berikut.

  1. Obat berupa mantra untuk penyakit,  seperti yang dijelaskan sebelumnya, mantra di sini adalah jenis pengobatan yang menggunakan kata-kata berbahasa Banjar dan akhirnya memakai kredo dalam bahasa Arab yang dimulai dengan kata “berkat’. Misalnya obat tawar yang pertama yang berbunyi, “Ini lagi kata jangkang barah atau bisul kita tiupkan kepada barah dan bisul. Inilah kata tawarnya

    Bismi l-Lâhi r-rahmâni r-rahîm. Bumi putih tawar langit putih kalam putih tawar saurang membawa tawar Allah tawar Muhammad beribu-ribu tawar Muhammad aha tawar si anu berkat Lâ ilâ ha illa l_Lâh Muhammaddu r-rasûlullâh.’ Adanya.” (MP:1)

    Terjemahan:

    Ini adalah mantra untuk mengobati barah atau bisul. Kita tiupkan (mantra ini) kepada barah dan bisul. Inilah katanya tawarnya ‘Bismi l-Lâhi r-rahmâni r-rahîm. Bumi putih tawar langit putih kalam putih tawar saurang membawa tawar Allah tawar Muhammad beribu-ribu tawar Muhammad aha tawar si anu berkat Lâ ilâ ha illa l_Lâh Muhammaddu r-rasûlullâh. Adanya. (MP: 1)

    Mantra ini merupakan mantra pengobatan yang digunakan untuk mengobati bengkak atau bisul yang bernanah. Mantra ini dibacakan satu kali kemudian ditiupkan pada bengkak atau bisul. Mantra ini banyak menggunakan kata ‘tawar’, seperti tawar langit putih, tawar Allah, tawar Muhammad, dan diakhiri dengan kredo syahadat.

    “Bab ini penawar barang sebagainya atau luka tawar urang sakit panas awaknya ditiupkan pada air, minumkan insya Allah ta’ala.Inilah doanya.  ‘Bismi l-Lâhi r-rahmâni r-rahîm turun li bayanullah[8] turun menawar hamba Allah. Aku tahu asalnya[9] tawar, turun pada ibu bapak. Aku tahu asalnya tawar habang, darahnya rasulullah. Aku tahu asalnya kuning, kampadu rasulullah. Aku tahu asalnya hijau, ampadu rasulullah. Ilahu[10] l-haq Ilahu l-mutlak. Kun awal zat Allah, kun awal sifatullah alif Allah Ilahu l-haq. Adanya.” (MP: 19).

    Terjemahan:

    Bab ini merupakan penawar segala macam penyakit, penawar luka, penawar sakit panas. Ditiupkan pada air, kemudian diminumkan insya Allah ta’ala.Inilah doanya.  ‘Bismi l-Lâhi r-rahmâni r-rahîm turun li bayanullah turun menawar hamba Allah. Aku tahu asalnya tawar, turun pada ibu bapak. Aku tahu asalnya tawar habang, darahnya rasulullah. Aku tahu asalnya kuning, kampadu rasulullah. Aku tahu asalnya hijau, ampadu rasulullah. Ilahu l-haq Ilahu l-mutlak. Kun awal zat Allah, kun awal sifatullah alif Allah Ilahu l-haq. Adanya.) (MP: 19)

    Mantra ini merupakan mantra pengobatan dari segala penyakit. Mantra ini dibacakan kemudian ditiupkan ke air putih dan diminumkan kepada orang yang sakit. Mantra ini merupakan tawar sapuhun. Tawar sapuhun merupakan pengobatan yang sangat manjur terhadap penyakit. Ini terlihat dari kalimat yang digunakan dalam mantranya, seperti asal segala tawar itu dari orang tua, asalnya tawar kuning, tawar hijau yang berasal dari nabi Muhammad. Selain itu, mantra ini juga menggunakan kredo yang berbeda dari yang biasanya, yaitu Ilahu l-haq Ilahu l-mutlak. Kun awal zat Allah kun awal sifatullah alif Allah Ilahu l-haq. Kredo ini bermakna bahwa Allahlah yang sebenarnya Tuhan, dan dialah satusatunya yang Maha mutlak. Kalimat ‘Ilahu lhaq Ilahu l-mutlak. Kun awal zat Allah, kun awal sifatullah alif Allah Ilahu l-haq’ merupakan kalimat ‘rahasia’ yang sangat mujarab dan digunakan pada saat tertentu saja.

  2. Obat berupa bacaan untuk  penyakit. Obat jenis ini terbagi ke dalam tiga bagian. Bacaan  yang diambil dari ayat Alquran; bacaan yang diambil dari selawat, dan bacaan yang diambil dari doa.“Ini tawar orang kena penyakit panas. Bacakan tiga kali serta ditiupkan pada yang sakit. Inilah doanya.Wa l-Lahu galibun `al amarihi.[11] Qad syagafa hubba. Innahû lihubbi l-khairi lasyadid.[12]” (MP: 21)Terjemahan:Ini obat untuk orang yang menderita penyakit panas.Dibacakan tiga kali kemudian ditiupkan pada orang yang sakit. Inilah doanya.Wa l-Lahu galibun ‘al amrihi. Qad syagafa hubba. Innahû lihubbi l-khairi lasyadid. (MP: 21)Bacaan ini merupakan bacaan dari ayat Alquran.

    “Ini dibaca atas orang yang sakit serta dijabat yang sakit itu dengan izin Allah ta ala sembuh berkat doa ini,

    “Alla humma salli `ala sayyidina wa mau[13]lana] uhammadin al-fatihi t-tayyibi[14] t-tahari rahmatu l-Lahi robbi l-`alamin wa ala alihi t-tayyibna t-tahirna wa sallimû taslima adanya.” (MP: 4)

    Terjemahan:

    Ini dibaca untuk orang yang sakit sambil menjabat tangannya. Dengan izin Allah ta’ala sembuh berkat doa ini,

    “Alla humma salli `ala sayyidina wa mau [lana] Muhammadin al-fatihi t-tayyibi t-tahiri rahmatul-Lahi robbi l-`alamin wa ala alihi t-tayyibna t-tahirna wa sallimû taslima adanya. (MP: 4)

    Bacaan ini merupakan bacaan selawat kepada nabi Muhammad yang berfungsi sebagai penawar.

    “Bab ini tawar Jibrail[15]  tatkala rasulullah demam di mekkah[16]. Inilah tawar itu. ‘Bismi lLâhi r-rahmâni r-rahîm, urqika min kulli dain yu zi ka min syarri kulli nafsin aw ainin hasidin. Allahu yasyfika, Allahu yasyifka, Allahu yasyifka, Bismi l-Lâhi urqika. Adanya.”(MP: 22—23)

    Terjemahan:

    Bab ini bacaan penawar yang dibacakan oleh Jibrail tatkala rasulullah demam di Mekkah. Inilah penawar itu. ‘Bismi l-Lâhi r-rahmâni rrahîm, urqika min kulli dain yu`zi ka min syarri kulli nafsin aw ainin hasidin. Allahu yasyfika, Allahu yasyfika, Allahu yasyfika, Bismi l-Lâhi urqika. Adanya. (MP: 22—23)

  3. Pengobatan secara herbal yang dilakukandengan cara-cara tertentu. Obat ini murni herbal, tanpa ada tambahan bacaan dan hal lainnya,misalnya obat sakit kepala dan flu.“Ini obat sakit mata sama berair hidung dan sakit kepala. Cuka dan dipupukan dia dikepala dan janar dipilaskan dikuliling mata dan dijarang airnya buati asam sama gula diminumakan airnya adanya.’”(MP: 2).Terjemahan:Ini obat untuk sakit mata, flu dan sakit kepala. Cuka dibuat bedak kemudian diletakkan di ubun-ubun dan kunyit dioleskan di sekeliling mata, kemudian direbus dicampur airnya dengan asam Jawa dan gula, diminumkan kepada orang yang sakit. Adanya (MP: 2).
  4. Obat herbal untuk penyakit dan mendapattambahan bacaan atau wafak,seperti obat sakit perut.“Ini obat sakit perut, maka ambil bawang putih satu, maka rajah seperti ini.” (Gambar 1).Terjemahan:Ini obat untuk sakit perut. Maka ambil bawang putih satu biji kemudian ditulis seperti ini (MP: 42).
    Gambar 1 Rajah untuk Sakit Perut. Sumber: Dok Pribadi

    “Dan beras, maka giling lumat-lumat, campuri dengan air inilah ayatnya, ‘Inna anzalnahu sampai akhir membaca tiga kali, kemudian baca ‘Alam tara kai/fa fa`ala rabbuka [17] sampai akhir tiga kali, kemudian baca, ‘min alfisyah tiga kali. Kemudian ini lagi dibaca

    ‘Qul huwa l-Lahu ahad’ sampai [akhir] tiga kali. Langsung Bismi l-Lâhi r-rahmâni r-rahîm. Manhin, rakin, `an hin, lakin, ah lakin, asyabin, durhan kali akh lin, naqiyyin, malûin, lau sam lu`luin, ladamlin, masbalin, halqin, lamhin, akhlawin,awha lawkin. Adanya.” (MP: 41—42)

    Terjemahan:

    Beras digiling sampai halus dicampur dengan air. Inilah ayatnya, ‘Inna anzalnahu’ sampai akhir membaca tiga kali, kemudian baca ‘Alam tara kai/fa fa`ala rabbuka sampai akhir tiga kali, kemudian baca, ‘min alfisyah tiga kali. Kemudian membaca

    ‘Qul huwa l-Lahu ahad’sampai [akhir] tiga kali. Langsung Bismi l-Lâhi r-rahmâni r-rahîm. Man hin, rakin, `an hin, lakin, ah lakin, asyabin, durhan kali akh lin, naqiyyin, malûin, lau samlu`luin, ladamlin, masbalin, halqin, lamhin, akhlawin, awh lawkin. Adanya.) (MP: 41—42)

  5. Pengobatan bentuk wafak atau rajah dapat dibagi ke dalam beberapa jenis, yaitu wafak yang bersumber dari ayat Al-quran, wafak yang terdiri dari huruf-huruf hijaiyyah yang disusun sedemikian rupa dan wafak yang berasal dari doa. Wafak ini biasanya dituliskan pada piring atau mangkuk, kemudian diminum. Contohnya adalah

“Bab ini panawar iya surat di piring putih [18]  buati nasi. Inilah doanya.‘Balhum fi labsi m-min khalkin jadidin.[19]  wa huwa ma akum ainama kuntum. Wa l-Lahu bima ta’malûna basir.[20] Adanya.(MP: 18—19)

Terjemahan:

Bab ini penawar ditulis di piring putih …kemudian dibuati nasi. Inilah doanya.”Balhum fi labsi m-min khalkin jadidin. wa huwa ma akum ainama kuntum. Wa l-Lahu bima ta’malûna basir”. Adanya. (MP: 18 -19)

Gambar 2 Rajah untuk Obat Batuk. Sumber: Dok. Pribadi

“Bab ini obat batuk. Disurat pada piring putih, diminum setiap hari insya Allah Ta‘ala. Inilah rajahnya (Gambar 2).

Terjemahan:

Bab ini obat batuk. Di tulis di piring putih dan diminum setiap hari insya Allah Ta‘ala. Inilah rajahnya (MP: 28).

Bab ini obat disurat di piring pinggan putih bagi menolakkan dari pada sakit kemih. Diminum airnya adanya. Inilah doanya. “Wa bussati l-jiblau bass O fakanat haba`an mun bassa.[21] Wa humilati l-aru wa l-jibalu fadukkata dakkata w-wahidah.”[22] (MP: 34)

Terjemahan:

Bab ini obat ditulis di piring putih yang besar untuk menolak penyakit saluran kencing. Diminum airnya adanya. Inilah doanya. “Wa bussati l-jibalu bassa O fakanat haba an mun bassa. Wa humilati l-ardu wa l-jibalu fadukkat”.) (MP: 34)

  1. Pengobatan yang menggunakan media berupa azimat. Azimat ini hampir sama dengan wafak, tetapi azimat ini tidak diminumkan atau dimakan, hanya diletakkan di badan atau tempat tertentu. Hal ini bisa dilihat pada contoh di bawah ini.
Gambar 3 Azimat Penolak Segala Penyakit. Sumber: Dok. Pribadi

“Ini azimat tatulak sekalian penyakit. (Penolak segala penyakit) disurat pada kertas, maka ditaruh di dalam botol inilah rajahnya.” (Gambar 3)

Terjemahan:

Ini azimat untuk menolak semua penyakit. Azimat ini ditulis pada kertas kemudian diletakkan di dalam botol. Inilah rajahnya (MP: 28).

Gambar 4 Azimat Penolak Segala Penyakit. Sumber: Dok. Pribadi

Ini azimat tutulak sekalian penyakit maka disurat pada kertas, maka di taruh di dalam bantal. Inilah rajahnya.” (Gambar 4).

Terjemahan:

Ini  azimat untuk menolak semua penyakit. Azimat ini ditulis pada kertas kemudian diletakkan di dalam bantal. Inilah rajahnya (MP: 28).

  1. Bacaan atau mantra untuk berbagai tujuanseperti menjaga diri dan harta dari mara bahaya. Contoh mantranya adalah sebagai berikut.

“Ini dibaca ketika handak mangunci lawang[23]atau lalungkang[24] tiap-tiap petang hari niscaya disatukan Allah ta ala akan dirinya dan sekalian isi rumahnya daripada sekalian bala dan daripada penyakit.Inilah yang dibaca ‘Bismi l-Lâh siqatan billah watawaqqala alaih’. Adanya.” (MP: 1)

Terjemahan:

Bacaan ini dibaca ketika hendak mengunci pintu atau jendela setiap petang hari. Niscaya dipelihara Allah ta ala dirinya dan isi rumahnya dari semua bala dan penyakit.Inilah yang dibaca ‘Bismi l-Lâh siqatan billah watawaqqala alaih’. Adanya. (MP: 1)

  1. Isim ini berupa asma Allah, seperti Isim minta tolong kepada Allah dibawah ini.

“Isimnya dibacakan minta tolong kepada Allah taala. Inilah yang dibaca doanya. “Bismi l-Lâhir-rahmâni r-rahîm. ya ni`ma l-mujib,[25] ya ni`mat-tayyibu, ya ni`ma l-qaribu, ya ni`ma l-srfb, ya ni`ma l-qadimu, ya ni`ma l-wakilu, ya ni`mal-maula wa n-nasiru. subhanaka ya [la] ilaha illa anta khallisni[26] mina n-nar.” (MP: 54)

Terjemahan:

Isim ini dibaca sambil memohon pertolongan kepada Allah taala. Inilah yang dibaca doanya. “Bismi l-Lâhi r-rahmâni r-rahîm. ya ni`ma l-mujib41, ya ni`ma t-tayyibu, ya ni`ma l-qaribu, ya ni`ma l-srfb, ya ni`ma l-qadimu, ya ni`ma l-wakilu, ya ni`ma l-maula wa n-nasiru. subhanaka ya [l] ilaha illa anta khallisni minan-nar.) (MP: 54)

 

Analisis Mantra, Bacaan, Azimat, dan Rajah dalam Naskah MP

Naskah ini diperkirakan ditulis sekitar seratus tahun yang lalu di Teluk Selong. Teluk Selong merupakan kampung yang berseberangan dengan kampung Dalam Pagar dan setanah dengan kampung Pekauman. Ketiga kampung ini, terutama kampung Dalam Pagar, sejak Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (1710-1812) membuka kampung ini dan berdiam di sana, merupakan pusat ilmu agama seperti fikih, tasawuf, dan juga pusat ilmu pengobatan serta ilmu kedigjayaan seperti ilmu kebal (Daudi 1980: 32-36)

Abdurrahman Siddiq (1857-1930), sebelum menjadi mufti di Kerajaan Safat, Indragiri Riau, merupakan orang yang mempunyai ilmu yang sangat mumpuni, baik dalam ilmu agama maupun dalam ilmu kedigjayaan. Sebelum berangkat ke Safat, Abdurrahman menyerahkan wilayahnya kepada guru Zainal Ilmi (1886—1956). Setelah guru Zainal Ilmi meninggal, posisi itu digantikan oleh guru Najhan, kemudian Abah Said. Sekarang di kampung Dalam Pagar masih ada beberapa orang yang menguasai baik ilmu agama maupun ilmu kedigjayaan seperti guru Afif dan guru Daudi.[27]Dari dulu  sampai sekarang masyarakat Martapura dan sekitarnya kalau ada masalah dalam kehidupannya seperti dagangan tidak laku, mau berlayar dan sakit, sering bertanya kepada alim ulama untuk menghilangkan masalah tersebut.

Demikian juga di kampung Pekauman, dulu di kampung ini ada seorang guru yang biasa diminta orang untuk mengobati berbagai penyakit dan juga untuk mendapatkan kekebalan tubuh, namanya guru Lukman. Pengobatan yang dilakukan biasanya dengan menggunakan tanaman-tanaman yang ada di sekitar rumahnya. Namun sayang, setelah guru Lukman ini meninggal tahun 2010, tidak ada lagi yang menjadi pengganti beliau.[28]

Dari deskripsi naskah MP dan kondisi masyarakat ketika naskah ini dibuat dapat disimpulkan bahwa masyarakat Banjar terutama yang berada di Martapura masih memegang teguh cara-cara pengobatan tradisional dengan menggunakan tanaman atau herbal seperti sirih bertemu urat, akar-akar kayu yang direndam di dalam air dan majun yang dibuat dari beberapa rempah dikentalkan, kemudian dibulatkan  seperti yang diungkapkan oleh Daud (1997: 425). Daud mengklasifikasikan bentuk obat yang dikenal dalam masyarakat Banjar menjadi beberapa bentuk, yaitu; (1) majun yang dibuat  beberapa rempah-rempah dikentalkan, dibulatkan kemudian dimakan; (2) wadak yang dibuat  beberapa rempah dikentalkan, dibulatkan kemudian digosokkan ke beberapa bagian badan; (3) pupuk, sejenis dengan wadak, tetapi ditempelkan di ubun-ubun yang berkhasiat untuk menurunkan panas atau meringan sakit kepala; (4) lungsur yang berupa akar-akar kayu yang direndam di air dingin dan diminumkan; dan (5) obat dengan media benda yang sudah dibacakan bacaan, isim, atau mantra.

Dari data yang telah diuraikan di atas ditemukan bahwa jenis pengobatan menurut klasifikasi Daud, ada dalam naskah pengobatan ini, kecuali jenis lungsur. Namun, dapat ditambahkan juga jenis lain dalam klasifikasi Daud, yaitu pengobatan dengan menggunakan bacaan, wafak, dan tumbuhan yang sudah dibacakan. Jenis yang terakhir ini hampir sama dengan jenis pengobatan kelima menurut Daud, tetapi letak perbedaannya adalah bahwa pengobatan ini lebih khusus pada benda yang bisa dimakan atau minum.

Jenis pengobatan yang menggunakan media mantra dan bacaan ini disebut juga dengan tatamba atau penawar. Hermansyah (2010: 50) memasukkan pengobatan ini dalam  tawar. Sunarti dkk. (1978: 183—187) mengklasifikasikan obat-obatan yang bersumber dari mantra dan bacaan ini sebagai penawar. Demikian juga dengan Ganie (2007: 276—281); serta Sulistyowati dan Ganie (2016: 12) menamakan jenis pengobatan ini dengan penawar, sedangkan Mugeni dkk. (2005: 54—64) menamakannya dengan tatamba. Menurut Daud (1997: 416) penawar itu bisa berbentuk mantra, bacaan, dan isim.

Dari 18 penawar yang ditemukan Sunarti, dkk. (1978: 183—187) tidak ditemukan adanya penawar yang berbentuk isim atau bacaan. Demikian juga dengan tulisan Ganie (2007), Sulistyowati dan Ganie (2016), dan Mugeni, dkk. (2005) yang sumber mantranya sebagian besar dari tulisan Sunarti, dkk. tidak ditemukan adanya bacaan, kecuali pada Mugeni dkk. (2005: 56; 63) memasukkan selawat sebagai ‘Penawar Penyakit Cacar’ dan ‘Tawar Dingin’. Daud (1997: 426) mencatat ada beberapa penawar yang berwujud mantra-mantra dan ada juga beberapa bacaan atau doa yang berasal dari ayat Alquran, seperti QS. 21: 69 sebagai bacaan penyakit panas.  Di sini penulis membedakan antara bacaan, mantra, dan isim. Bentuk bacaan biasanya bersumber dari bahasa Arab dan biasanya tidak dibaca berulangulang. Kalaupun dibaca berulang-ulang, jumlahnya tidak terlalu banyak. Adapun bentuk mantra menggunakan bahasa Banjar dan akhirnya memakai kredo dalam bahasa Arab yang dimulai dengan kata ‘berkat’. Bentuk isim biasanya menggunakan asmaul husna seperti ya Ganiyyu dan ya Mugni, dan dilakukan dengan berulangulang dengan jumlah yang sangat banyak.

Sunarti dkk. (1978: 183—187) serta Ganie (2007: 276—281); Sulistyowati dan Ganie (2016: 12); dan Mugeni dkk. (2005: 1—82) tidak menguraikan adanya obat dan pengobatan yang bersumber dari rajah atau wafak. Daud (1997: 489) merumuskan fungsi wafak bukan untuk pengobatan, tetapi untuk kekebalan, kesaktian, disukai orang, pelaris dagangan, dan mudah berurusan dengan pejabat.

Dalam naskah pengobatan ini ditemukan ada enam belas mantra untuk pengobatan, yaitu tawar segala bengkak dan bisul, tawar sakit panas, tawar panas dan sesak nafas, tawar segala penyakit, obat sakit pinggang, doa Qarun, bacaan pengasihan, obat segala penyakit, bacaan obat sakit pinggang, obat segala penyakit, obat orang gila, obat gigi kuat, obat tatamba gigi, obat sakit pinggang, penawar luka, tawar penat, sakit kepala, dan lainnya. Selain itu, dalam naskah ini ditemukan ada 25 bacaan. Tujuh belas bacaan untuk pengobatan, lima bacaan untuk pintu rezeki, dua bacaan untuk penjaga diri dan rumah, dan satu bacaan untuk mendapatkan ilmu laduni. Tujuh belas bacaan untuk pengobatan, yaitu bacaan menutup pintu atau jendela, obat segala penyakit, obat sakit kepala, obat sakit panas, bacaan supaya tidak lupa, penawar, tawar segala penyakit, tawar panas, tawar Jibril, tawar segala penyakit, tawar luka dan panas, doa segala penyakit, bacaan obat mata Nabi Khaidir, obat mata Imam Syafii, bacaan untuk orang sakit sambil dijabat tangannya, obat sakit kepala, dan obat sakit mata Imam Syafii. Lima bacaan untuk pintu rezeki, yaitu bacaan agar mudah rezeki, bacaan pintu rezeki, bacaan menutup pintu atau jendela, bacaan pembuka rezeki, dan doa luas rezeki.

Dua bacaan untuk penjaga diri dan rumah, yaitu doa keluar rumah, bacaan penjaga diri. Satu bacaan untuk mendapatkan ilmu laduni, yaitu doa ilmu laduni.

Adapun bacaan yang digunakan dalam dua puluh lima (25) bacaan di dalam naskah MP ini dapat diklasifikasi dalam empat bentuk, yaitu doa, ayat, selawat, dan syahadat. Bacaan yang berbentuk doa ada tiga belas yang bersumber dari ayat ada empat, yang berbentuk campuran doa, ada satu bacaan yang bersumber dari selawat, ada dua  yang bersumber syahadat dan doa ada dua.

Dalam naskah ini juga ditemukan 22 pengobatan yang menggunakan buah dan tumbuh-tumbuhan sebagai obat. Tujuh dari dua puluh dua (22) pengobatan herbal ini mendapat tambahan  dengan bacaan. Adapun lima belas pengobatan yang menggunakan buah dan tumbuh-tumbuhan sebagai obat herbal, yaitu untuk sakit mata, flu, sakit kepala, sakit pinggang, nyeri tulang, badan sakit, mulas, bengkak, sakit pinggang, sakit perut, sakit mata, mata 3, sakit mata 4 dan flu, bacaan obat sakit pinggang, bacaan obat sakit pinggang, obat bengkak, dan khasiat majum. Tujuh pengobatan yang menggunakan bahan herbal ditambah dengan bacaan, yaitu untuk nyeri haid (singgugut), obat kuat, sakit perut, sakit mata, memperbanyak air mani, dan pedih di hati.

Pengobatan yang menggunakan wafak dalam naskah ini ada sebelas wafak. Delapan wafak digunakan untuk pengobatan, baik itu dengan dituliskan di piring atau mangkuk, kemudian diberi air (pada beberapa mantra) dan diberi nasi, kemudian diminum atau dimakan. Ada dua  wafak yang sama yang diulang penulisannya yang merupakan campuran antara herbal, wafak dan bacaan, dan satu wafak untuk menjaga agar tanaman tidak dimakan hama, seperti tikus. Kedelapan wafak pengobatan itu, yaitu wafak kata ‘Allah’, obat batuk, obat batuk, obat batuk 2, obat sakit saluran kencing, obat sakit manggah, obat segala penyakit, dan penawar segala penyakit. Satu wafak untuk menjaga agar tanaman tidak dimakan hama adalah wafak kata Ar-Rahman’.

Adapun yang merupakan merupakan campuran antara herbal, wafak dan bacaan adalah obat sakit perut.

Ada lima azimat yang ditemukan dalam naskah pengobatan. Empat azimat untuk pengobatan atau penangkal segala penyakit, untuk obat batuk, dan perempuan belum punya anak. Sisanya satu azimat untuk pengumpul yang tercerai (azimat). Penggunaan azimat itu biasanya diletakkan, baik itu di badan maupun di sekitar badan. Selain itu, ada satu isim dalam naskah ini, isim itu adalah minta tolong kepada Allah (isim).

PENUTUP

Naskah Mantra Pengobatan (MP) merupakan naskah lama yang berisi tentang pengobatan. Naskah ini berbahasa Arab dan Melayu dengan aksara Arab dan Jawi berbentuk prosa. Jumlah baris setiap halaman ada  sebelas dan keadaan naskah sudah dalam kondisi lapuk.

Isi naskah MP milik Najib memuat tentang mantra dan pengobatan yang lengkap. Mantra dan pengobatan yang tertulis dibagi dalam beberapa bagian, yaitu (1) obat berupa mantra; (2) obat berupa bacaan untuk  penyakit yang terbagi ke dalam tiga bagian; bacaan yang diambil dari ayat Alquran; bacaan yang diambil dari selawat, dan bacaan yang diambil dari doa; (3) pengobatan secara herbal; (4) obat herbal untuk penyakit yang mendapat tambahan bacaan atau wafak; (5) obat yang berbentuk tulisan wafak atau rajah yang terbagi beberapa jenis, yaitu wafak yang bersumber dari ayat Alquran, wafak yang terdiri dari huruf-huruf hijaiyyah yang disusun sedemikian rupa, wafak yang berasal dari doa; (6) pengobatan yang berupa azimat; (7) bacaan atau mantra untuk berbagai tujuan seperti menjaga diri dan harta dari marabahaya; dan (8) isim.

Mantra-mantra pengobatan dan pengobatan secara tradisional melalui media tanaman seperti sirih bertemu urat, akar-akar kayu, majun, wadak, pupuk, lungsur, serta obat dengan media benda yang sudah dibacakan bacaan, isim, atau mantra, serta wafak merupakan warisan leluhur yang harus tetap dilestarikan.

Penelitian lanjutan tentang naskah MP ini harus dilakukan agar pengetahuan yang ada di dalamnya dapat tetap lestari, baik itu berhubungan dengan medis maupun magis. Selain itu, upaya restorasi naskah harus segera dilakukan karena naskah sudah mengalami kerusakan yang parah akibat korosi tinta.

 

DAFTAR PUSTAKA

Baried, S. Baroroh, Siti Chamamah Soeratno, Sawoe, Sulastin Sutrisno, dan Mohammad Syakir. 1994. Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM.

Behrend, T. E. 1998. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 4: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan EFEO.

Behrend, T. E., dan Pudjiastuti, Titik. 1997. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 3-A. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Burchett, Patton. E. 2008. “The ‘Magical’ Language Of Mantra.” Journal of the American Academy of Religion 76 (4): 807843.

Chambert-Loir, Harry. 1999. Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah-Naskah Indonesia

Sedunia-World Guide to Indonesian Manuscript Collections. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Daod, Haron. 2010. Oral Traditions In Malaysia: A Discussion Of Shamanism. Jurnal Wacana. 12 (1): 181—200.

Daud, Alfani. 1997. Islam dan Masyarakat Banjar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Daudi, Abu. 1980. Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari Tuan Haji Besar. Martapura: Sullamul Ulum.

Diyab, AbdulMajid.1993. Tahqiq al-Turast al-Arabi, Manhajuhu Wa Tatawuruhu. Cairo: Dar alma’arif.

Djamaris, Edward, Muhamad Jaruki, Nikmah Sunardjo, Mujizah, dan Yeni Mulyani. 1996. Nilai Budaya dalam Beberapa Karya Sastra Nusantara: Sastra Daerah di Kalimantan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Ganie, Tajuddin. Noor. 2007. Jatidiri Puisi Rakyat Etnis Banjar di Kalsel: Pribahasa Banjar, Pantun Banjar, Syair Banjar, Madihin, dan Mantra Banjar. Banjarmasin: Rumah Pustaka Folklor Banjar.

Harun, Abdussalam.1998. Tahqiqun an-nusus wa nasyruha. Cairo: Maktabah al-Khaniji bil Qahirah.

Hermansyah. 2010. Ilmu Gaib di Kalimantan Barat. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) École Francaise d’ExtremeOrient bersama STAIN Pontianak KITLV.

Hidayatullah, Dede. 2009. Jenis dan fungsi mantra dalam masyarakat Banjar. Hlm 33-58 dalam Bunga Rampai Sastra Hasil Penelitian. Banjarbaru: Balai Bahasa Kalimantan Selatan.

Hidayatullah, Dede. 2014. Revitalisasi Mantra Banjar. Hlm. 279—294 dalam Seminar Nasional Bahasa Daerah (Sembada) tanggal 10—11 Sepetember 2014 di Martapura. Yogyakarta: FAMILIA.

Hidayatullah, Dede. 2014b. Naskah Ini Fasal Pada Menyatakan Jalan yang Benar karya Nuruddin Ar-Raniry dalam Naskah Negara: Edisi Suntingan Teks. Hlm 451–474 dalam Lokakarya Hasil Penelitian Kebahasaan dan Kesasteraan. Yogyakarta 29 September— 10 Oktober 2014). Yogyakarta: Azzagarfika. Hidayatullah, Dede. 2015. “Naskah Martabat Tujuh: Edisi Kodikologi dan Isi Naskah.” Undas 11 (2): 58-67.

Hidayatullah, Dede. 2016. “Naskah Mantra Mistik: Kodikologi, Suntingan dan Isi Teks.” Undas 12 (1): 117—133.

Hidayatullah, D. (2017). “Mantra dalam Naskah “doa wirid tolak bala”: Deskripsi, isi, dan suntingan teks.” Jurnal Kandai 13 (1): 121136.

Humaidy, Muhajir, dan Fathullah Munadi,. 2011. Studi Naskah Syarâb al-‘Âsyiqîn Karya Hamzah Fansuri dalam Naskah Negara. Banjarmasin: Puslit IAIN Antasari.

Iskandar, Teuku. 1999. Catalogue of Malay, Minangkabau, And South Sumatran Manuscript in Netherlands. Leiden: Universiteit Laiden, Faculteit der Godgeleerdheid, Documentatiebureau Islam-Cristendom.

Kasmilawati, Isna danRustam Effendi. 2012. Struktur Dan Fungsi Mantra Masyarakat Dayak Deah Desa Pangelak Kecamatan Upau Kabupaten Tabalong. Jurnal Bahasa Dan Sastra 1 (1): 126-138.

Kosasih. 2012. Dasar-dasar keterampilan bersastra. Bandung: Yrama Widya.

Lindsay,Jennifer, Soetanto, R. M., Alan H Feinstein dan Behren T. E.1994. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 2: Keraton Yogyakarta. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan EFEO.

Maknuna, Laksari lu‘lui, Sunarti Mustamar, Sri Nengsih. 2013. Mantra Dalam Tradisi Pemanggil Hujan di Situbondo: Kajian Struktur, Formula, dan Fungsi. Jurnal Publika Budaya 1 (1): 1—15.

Mu‘jizah. 2005. Martabat Tujuh: Edisi Teks dan pemaknaan Tanda serta Simbol. Jakarta: Djambatan.

Mugeni, Muhammad, Abdul Hayat, Rissari Yayuk, Yuliati Puspita Sari, Sudirwo, Rodisa Edwin Abdinie, dan Erwan Wibowo. 2005. Mantra Banjar. Banjarbaru: Balai Bahasa Banjarmasin.

Mulyadi, dan Rujiati, S. W. 1994. Kodikologi Melayu di Indonesia. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Munadi, Fathullah dan Humaydi 2011. Konsep Shalat Menurut Ihsanuddin Sumatrani Dalam Asrâr Al-balât. Banjarmasin: Puslit IAIN Antasari.

Rohim, Khairur dan Rustam Effendi.2014. Nilai Budaya Dalam Mantra Banjar. Jurnal Bahasa dan Sastra I (1): 204-214.

Ronkel, Ph. SVan. 1942. Supplement Catalogus Der Maleische en Minangkabausche Handschriften in the Leidsche Universiteis Bibliotheek. Leiden: EJ Brill.

Ronkel, Ph. SVan. 1909. Catalogus Der Maleische Handscriften (Batavia dan ‘s Gravenhage). Leiden: Albrecth dan Nijhoff.

Saputra, Heru Setya Puji. 2007. Memuja Mantra: Sabuk Mangir dan Jaran Goyang Masyarakat Suku Using Banyuwangi. Yogyakarta: LkiS.

Sulistyowati, Endang dan  Tajuddin Noor Ganie. 2016. Sastra Banjar: Genre Lama Bercorak Puisi. Banjarmasin: Tuas Media.

Sunarti, Abdul Jebbar Hapip, Purlansyah, Syamsiar Seman, Syukrani Maswan, dan Muhammad Saperi. 1978. Sastra Lisan Banjar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Suwatno, Edi. 2012. “Bentuk dan Isi Mantra.” Jurnal Humaniora 16 (3): 320—331.

Tjandrasasmita, Uka. 2006. Kajian Naskah-naskah Klasik dan Penerapannya bagi Kajian Sejarah Islam di Indonesia. Jakarta: Pusdiklat Lektur Keagamaan Departemen Agama RI.

Voorhovedan Iskandar, Teku. 1994. Catalogue of Acehnese Manuscripts in The Library of Leiden University and other Collections Outside Aceh. Leiden: Leiden University dan Indonesian Linguistics Development Project (ILDEP).

Yudiafi, Siti Zahradan Mu‘jizah. 2010. Filologi. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka.

Yulianto, Agus. 2011. “Mantra Banjar: Suatu Suatu Kompromi Budaya.” Naditira Widya 5 (2): 133—140.

Zaidan, Abdur Rozak, Anita K. Rustapa, Hani’ah. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka

 

 

Catatan Kaki

[1] Menurut Sunarti dkk. (1978: 162)  Urang Banjar mengistilahkan mantra dengan  bacaan, tiupan, isim, penawar, dan sumpah. Kelima istilah ini merupakan sinonim dari mantra, karena itu, istilah kata mantra sebetulnya tidak dikenal oleh masyarakat Banjar.

[2] Wawancara dengan Najib tanggal 2 November 2018 di Teluk Selong Martapura

[3] Bengkak yang mengandung nanah

[4] Tertulis biyul

[5] Tertulis aqdi

[6] Tertulis hajati

[7] Tertulis kulliha, seharusnya kullah karena menjadi naat kepada kata sebelumnya. Kata sebelumnya ada pada posisi objek yang mansub

[8] Tertulis li ba ya nû l-Lahi.

[9] Tertulis asyalnya

[10] Tertulis ila hulhaq حلحق  seharusnya ١له ١لحق

[11] Bacaan ini merupakan gabungan dari tiga potongan ayat Alquran, yaitu QS. Yusuf (12): 111, ayat 12, dan Al-Adiyat (100): 8  Tertulis Innahu lihubbi l-khairi lasyadd

[12] Tertulis Innahu lihubbi l-khairi lasyadd

[13] Tertulis di naskah hanya ‘mau’

[14] Tertulis at-tayyibu. Seharusnya am-mayyibi karena dalam ilmu nahwu dia mengikuti baris dari kata sebelumnya atau sering disebut dengan naat.

[15] Jibril

[16] Tertulis meqkah

[17] Tertulis ‘Alam tara kai/ fafa`a rabbuka

[18] Tidak terbaca

[19] QS. Qaf (50): 15

[20] Tertulis nașír. QS. Al-Hadd (57): 29

[21] QS. 56: 5—6, ayat yang tertulis salah semua tulisannya

[22] QS. 69: 14, ayat yang tertulis salah secara harfiahnya

[23] pintu

[24] jendela

[25] Tertulis mujib, tanpa mad.

[26] Tertulis khailsna

[27] Wawancara dengan Daudi di kampung Dalam Pagar, tanggal 5 Januari 2019

[28] Wawancara dengan guru Nasai, anak guru Lukman kampung Pekauman, 20 Februari 2019

 

Jurnal ini disalin di bawah lisensi Creative Commons Attribution-4.0 International License

 

 

  • Facebook
  • Share on X
  • LinkedIn
  • WhatsApp
  • Email
  • Copy Link
Category: Budaya

Navigasi pos

← Rekonstruksi Tipologi Ruang dan Bentuk Istana Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan
Tuan Guru dalam Sejarah Kesultanan Banjar →

Categories

  • Adat
  • Budaya
  • Opini
  • Sastra
  • Sejarah

Pustaka Banjar adalah sebuah upaya untuk mengenalkan sejarah dan melestarikan budaya Banjar kepada generasi di masa yang akan datang. Situs ini dibuat bukan untuk kepentingan komersial.

© 2026 Pustaka Banjar | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme