Skip to content

Pustaka Banjar

Sumber Informasi Sejarah dan Budaya Banjar

Menu
  • Beranda
  • Sejarah
  • Budaya
  • Adat
  • Sastra
  • Seni
  • Opini
Menu

Gambaran Umum Candi Agung Amuntai

Posted on by

Asal Usul Candi Agung

Menurut Hariani Santiko dalam tulisannya di buku Candi di Indonesia, istilah candi cuma dikenal di Indonesia. Candi mengacu pada semua bangunan kuno dari masa Hindu-Buddha. Kata Candi berasal dari salah satu nama untuk Dewi Durga, istri Dewa Siwa, sebagai Dewi Maut, yaitu Candika.[1] Jadi, Candi adalah bangunan kuno pada masa Hindu-Buddha, sama halnya dengan Candi Agung di Amuntai.

Candi Agung adalah salah satu bentuk situs peninggalan kerajaan Hindu-Buddha. Bangunan ini merupakan sebuah situs berukuran kecil yang terdapat di Desa Sungai Malang, kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Negara Dipa yang keberadaannya sezaman dengan Kerajaan Majapahit. Candi Agung Amuntai merupakan peninggalan Kerajaan Negara Dipa Kahuripan yang dibangun oleh Empu Jatmika abad ke XIV Masehi. Dari kerajaan ini kemudian melahirkan Kerajaan Daha di Negara dan Kerajaan Banjarmasin.

Cikal bakal Kerajaan Banjar itu diperintah oleh Pangeran Suryanata dan Putri Junjung Buih dengan kepala pemerintahan Patih Lambung Mangkurat. Negara Dipa kemudian berkembang menjadi Kota Amuntai. Candi Agung diperkirakan telah berusia 740 tahun. Bahan material Candi Agung ini didominasi oleh batu dan kayu. Kondisinya masih sangat kokoh. Di candi ini juga ditemukan beberapa benda peninggalan sejarah yang usianya kira-kira sekitar 200 tahun SM. Batu yang digunakan untuk mendirikan Candi ini pun masih terdapat di sana. Batunya sekilas mirip sekali dengan batu bata merah. Namun bila disentuh terdapat perbedaannya,  lebih berat dan lebih kuat dari bata merah biasa.[2]

Candi Agung ditemukan pada tahun 1962 ketika Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara meratakan tanah untuk dijadikan jalan dan perluasan kota ke arah barat. Keadaan permukaan tanah situs pada umumnya datar. Lokasinya dikelilingi oleh tiga batang sungai, yaitu sungai Tabalong, Sungai Balangan dan Sungai Negara. Semua sungai itu bermuara di Sungai Barito. Di dekat sungai terdapat sungai buatan yang bermuara di Sungai Negara.

Ketika membuka hutan dan meratakan tanah bukit yang dianggap keramat pada 1962, muncullah benda-benda tinggalan budaya masa lampau yang berupa fragmen sepasang kaki yang oleh penduduk disebut “sepatu raksasa”, dan fragmen lapik teratai yang dibuat dari batu alam. Fragmen sepasang kaki tersebut, sekarang disimpan di rumah adat Banjar di Taman Mini Indonesia Indah.

Pada 1967 dilakukan penelitian arkeologi di Situs Candi Agung oleh tim kerja sama Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Hasil ekskavasi berupa struktur tembok/fondasi bangunan berukuran 7 x 7 meter, fragmen kepala kala dari terakota, lapik padma dalam bentuk utuh dan fragmen,  hiasan bangunan yang berbentuk antefiks, bata, manik-manik dari bahan tanah liat bakar, dan pecahan-pecahan tembikar serta keramik. Ditemukan juga lima periuk, di antaranya berisi sisa abu, tulang, manikmanik, dan tanah.

Suatu keistimewaan jika dibandingkan dengan candi atau Stupa dari daerah lain di Indonesia, bangunan Candi Agung ini rupanya dibangun di atas tanah rawa yang diurug. Melihat sisa undakan, sepertinya bangunan candi ini menghadap arah tenggara. Sebelum diurug terlebih dahulu diberi tiang pancang dari kayu ulin. Setelah cukup kuat tanah urugannya, barulah dibuat konstruksi bangunannya. Keseluruhan bangunan dibuat dari bahan bata, dan hiasannya dibuat dari terrakota. Material lainnya berupa kayu ulin yang dipakai sebagai fondasi yang ditancapkan ke tanah rawa.

Penelitian terhadap Candi Agung dilakukan kembali pada 1997 oleh Balai Arkeologi Banjarmasin. Pada penelitian ini dilakukan analisis radiokarbon C-14 terhadap sampel kayu ulin yang tertancap di halaman kerikil Candi Agung. Hasil analisis tersebut didapatkan bahwa Candi Agung berasal dari 750 Masehi atau abad ke-8 M. Hasil penanggalan ini lebih tua enam abad daripada usia berdasarkan cerita rakyat (abad ke-14 M).[3]

 

Gambaran Candi Agung

Candi Agung merupakan salah satu objek wisata sejarah yang berada di  Amuntai. Lokasi Candi Agung ini tidak jauh dari pusat kota Amuntai yaitu berada di kawasan Sungai Malang. Jadi, mudah bagi pengunjung untuk menuju ke sana karena, waktu tempuh dari kota ke tempat wisata Candi Agung Amuntai kurang lebih 15 menit saja dan akses jalan menuju objek wisata tersebut terbilang mudah.

Memasuki lokasi obyek wisata, areal parkir kendaraan bermotor cukup luas dan dilengkapi dengan petugas keamanan. Loket masuk juga terbilang murah, pengunjung cukup membayar karcis masuk seharga Rp. 4000 per orangnya dan untuk anak-anak gratis. Candi Agung biasanya sangat ramai pengunjung setiap akhir pekan.

Ketika memasuki kawasan Candi Agung, di sana banyak terdapat warung-warung makanan untuk memenuhi kebutuhan para pengunjung. Di sana pengunjung dapat membeli makanan dan minuman, selain itu juga ada dijual souvenir seperti berupa gelang, cincin dan aksesoris lainnya, sehingga para pengunjung bisa membeli oleh-oleh untuk keluarga atau tetangga mereka. Tidak hanya itu di kawasan Candi Agung ini juga ada jembatan untuk pengunjung bisa mengambil foto-foto/selfi, tempat-tempat duduk juga disediakan untuk para pengunjung beristirahat setelah mengelilingi kawasan Candi Agung.

Suasana di kawasan Candi Agung ini cukup sejuk dan tenang. Di sana terdapat pepohonan yang rindang dan lingkungannya pun cukup bersih, sehingga memberikan rasa nyaman bagi para pengunjung. Berkunjung ke Candi Agung ini para wisatawan akan merasakan suasana mistis di sekitarnya. Area objek wisata Candi Agung ini cukup luas, diperkirakan 1 hektare. Sampai di area dalam kita dihadapkan beberapa titik kunjungan antara lain:

  1. Situs peninggalan tempat pertapaan Pangeran Suryanata, yang mana pertapaan Pangeran Suryanata adalah tempat bertapanya pangeran sewaktu-waktu, dan di sana jugalah menurut informan tempat raibnya (menghilang) pangeran Suryanata dan putri Junjung Buih.
  2. Situs Tihang Mahligai atau Pemandian Putri Junjung Buih, situs ini peninggalannya hanya berupa sebuah kolam kecil lebih mirip sumur dan dulunya adalah tempat tinggalnya putri Junjung Buih.
  3. Situs Candi Agung, bangunannya tidak ada seperti bangunan candi, melainkan mirip pondasi bangunan yang dibagian tengahnya ada semacam kolam kecil. Mengenai situs candi ini sangat sulit digali informasinya karena informan yang didatangi mengatakan ada beberapa informasi yang tidak dapat diceritakan kepada orang lain.
  4. Situs telaga darah, dilokasi ini terdapat sumur kecil. Menurut informasi yang didapat situs ini merupakan tempat di mana saudara dari Lembu Mangkurat yaitu Empu Mandastana dan istrinya putri Purwancang Sari tewas bersama karena bunuh diri. Bunuh diri ini dilakukan karena kedua putranya Bambang Sukmaraga dan Bambang Fatmaraga tewas dibunuh oleh saudaranya sendiri Lembu Mangkurat. Menurut sumber dan buku hikayat Lambung Mangkurat, setiap burung-burung yang lewat di atas jasad Empu Mandastana dan istrinya akan jatuh dan tewas seketika oleh karena itu jasad Empu Mandastana dan istrinya beserta tanah tempat terbaringnya mereka diangkut dan dibuang ke laut. Sehingga bekas dikeruknya tanah tersebut terbentuklah kolam kecil atau sumur. Sedikit penambahan, menurut juru kunci yang ada di telaga darah nama asli dari Empu Mandastana adalah Lembu Wanagiri.[4]

Selain situs-situs yang ada, di Candi Agung Amuntai ini juga ada sebuah museum. Museum ini berbentuk rumah Banjar, yang berada di bagian depan. Di dalam museum lumayan banyak beragam benda-benda temuan peninggalan Candi Agung berupa, foto-foto awal penemuan situs Candi Agung, batu-batu, gerabah, kayu ulin, tembikar, kelambu, lukisan putri Junjung Buih, lukisan Pangeran Suryanata, bahkan silsilah Raja-raja keturunan Kerajaan Banjar juga ada di dalamnya.

 

[1] Djulianto Susantio, “Seluk-Beluk Candi Indonesia,” Jurnal Ruang, 24 Mei 2014, 1.

[2] Pram, Suku Bangsa dan Budaya, (Jakarta: Cerdas Interaktif, 2013), 54.

[3] Edy Sedyawati, Candi  Indonesia: Seri Sumatera, Kalimantan, Bali, Sumbawa, (Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, 2014), 188–190.

[4] Jamilah, Juru Kunci Candi Agung, wawancara pribadi, Sungai Malang, 19 September 2018.

 

Dikutip dari skripsi yang disusun oleh:
Rahmat Febriannor

Dengan judul:
Kepercayaan dan Perilaku Pengunjung Candi Agung Amuntai Hulu Sungai Utara

Universitas Islam Negeri Antasari
Fakultas Ushuluddin dan Humaniora
Jurusan Studi Agama-Agama
Banjarmasin 2020

  • Facebook
  • Share on X
  • LinkedIn
  • WhatsApp
  • Email
  • Copy Link
Category: Sejarah

Navigasi pos

← Industri Besi dan Perang Banjar di Hulu DAS Barito
Manyalaya, Nakal, Mucil, Kada Balampu →

Categories

  • Adat
  • Budaya
  • Opini
  • Sastra
  • Sejarah

Pustaka Banjar adalah sebuah upaya untuk mengenalkan sejarah dan melestarikan budaya Banjar kepada generasi di masa yang akan datang. Situs ini dibuat bukan untuk kepentingan komersial.

© 2026 Pustaka Banjar | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme