Ungkapan Tradisional Banjar
Artinya kosakata Banjar dalam bahasa Indonesia:
| Ambak | = | Tenang/pendiam/pembawaan seseorang yang tenang atau kalem |
| Bakut | = | Nama ikan yang hidup di sungai. Ikan ini terkenal bergerak malas dan diam |
| Sakali | = | Sekali, menunjukkan frekuensi kejadian |
| Maluncat | = | Melompat |
| Limpua | = | Terlampau atau kelewatan |
| Hampang | = | empang atau bisa juga kurungan ikan |
Arti secara kalimat dalam bahasa Indonesia:
Diam-diam ikan Bakut sekali melompat terlampaui empang
Makna ungkapan:
Orang yang pendiam belum tentu selalu baik dan jujur.
Orang yang pendiam dan bersifat agak malu-malu seringkali dianggap berkelakuan baik. Apalagi jika di mata sanak keluarga dan sahabatnya tidak pernah melakukan hal-hal yang menyimpang dari aturan-aturan kemasyarakatan yang berlaku. Sehingga dari gambaran kelakuan seperti ini orang-orang mendapat kesan bahwa ia adalah orang yang baik dan jujur. Karena itu tak ada syak wasangka yang patut ditujukan kepadanya.
Tetapi dalam kenyataannya tidak semua orang yang pendiam itu tidak bisa melakukan perbuatan tercela. Bahkan sering ditemui adanya orang yang pendiam melakukan berbagai perbuatan yang tidak terpuji serta melampaui batas.
Ungkapan di atas merupakan suatu ucapan yang terlahir secara spontan dan melembaga di kalangan masyarakat Banjar. Terutama sekali diucapkan setelah terjadi peristiwanya.
Untuk memperjelas makna ungkapan di atas, baiklah kita ikuti cerita rekaan di bawah ini:
Si Utuh adalah seorang pemuda pendiam. Sehari-harinya ia dikenal oleh keluarga dan sahabat-sahabatnya sebagai orang baik dan pemalu. Karena gambaran sikap yang demikian, maka tak pemah ada kecurigaan atau sangkaan yang bukan-bukan terhadap Si Utuh.
Tetapi secara tiba-tiba Si Utuh melarikan anak gadis orang kampung tempatnya tinggal. Kejadian ini sangat mengejutkan orang-orang kampung, terutama anggota keluarganya. Mereka merasa malu atas perbuatan Si Utuh yang melampaui batas norma-norma yang selama ini dihormati dan dipatuhi. Si Utuh telah melakukan pekerjaan pamali. Melanggar kebiasaan yang berlaku.
Berita perbuatan Si Utuh dengan cepat tersebar ke seluruh kampung. Orang-orang pun ramai membicarakan peristiwa yang tidak mereka sukai itu. Dialog antara orang-orang kampung tetjadi dengan dibarengi wajah sinis dan kebencian.
“Saya rasanya tidak percaya kalau Si Utuh bisa berbuat seperti itu,” kata seorang ibu.
“Ya, saya juga rasanya tidak percaya. Sebab saya lihat Si Utuh sehari-harinya adalah seorang pendiam dan baik-baik saja. Selain itu ia nampaknya pemalu. Tetapi ternyata ia hanya ambak-ambak bakut sakali maluncat limpua hampang, menjawab ibu yang seorang lagi.
Begitulah pembicaraan masyarakat yang tersebar diliputi kekecewaan dan kekesalan disebabkan kelakuan Si Utuh yang dianggap melampaui batas .
Ungkapan ini mengibaratkan sebrang yang pendiam sebagai ikan bakut. Kalau diperhatikan baik-baik memang pengibaratan ini ada relevansinya dengan sifat dari ikan bakut itu sendiri. Ikan bakut hidup di air tawar, ia termasuk ikan yang jinak dan mudah ditangkap.
Kalau sudah tertangkap tangan ia jarang menggelepar hanya menyerahkan nasibnya kepada yang menangkapnya. Tetapi ada kalanya ia melompat dan hasil lompatannya lebih jauh jika dibandingkan dengan ikan gabus yang sama besarnya.
Ungkapan yang sangat populer di kalangan orang Banjar ini sebenamya ingin menyampaikan pesan kepada setiap orang agar selalu bersikap wajar. Jangan hanya diam di mulut sementara hati memendam keinginan-keinginan jahat. Sifat yang demikian sudah jelas akan menodai norma-norma kemasyarakatan yang telah disepakati bersama sejak dari nenek moyang.
(Sumber: Ungkapan Tradisional Sebagai Sumber Informasi Kebudayaan Kalimantan Selatan. Drs. Syukrani Maswan, Drs. Abdurrachman Ismail, A. Rasyidi Umar, BA, Bachtiar Sanderta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1984)