Industri Besi dan Perang Banjar di Hulu DAS Barito, Barito Utara, Kalimantan Tengah
Ditulis oleh:
Hartatik1, Sunarningsih1, Nugroho Nur Susanto1, Gaury V. Daneswara2, dan Dian Triasri1
1Balai Arkeologi Provinsi Kalimantan Selatan
2Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah
hartatik@kemdikbud.go.id
Jurnal Berkala Arkeologi VOLUME : 41 No. 2, November 2021, halaman 233-250
DOI: 10.3883/jba.v41i2.731
PENDAHULUAN
Penelitian arkeologi pada tahun 2017–2019 menunjukkan 19 situs yang merupakan bengkel peleburan bijih besi (Tabel 1). Penduduk lokal menyebut lokasi eks peleburan bijih besi dengan nama buren. Lokasi buren berada di tengah hutan, di tepi sungai yang merupakan bagian dari Sungai Montalat dan Sungai Teweh. Kedua sungai tersebut merupakan sub DAS Barito di bagian hulu, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Keberadaan buren ditandai dengan sebaran terak besi (iron slag), pecahan tungku peleburan dari tanah liat, pipa udara dari tanah liat (tuyere), arang sisa pembakaran, besi mentah hasil peleburan, dan fragmen bijih besi. Ekskavasi di Buren Benangin, Buren Temalalu, dan Buren Jaga Ramis masing-masing menemukan dua tungku lebur (Gambar 1). Tungku lebur berbentuk bulat dengan bagian atas mengerucut dan tinggi sekitar 1 meter. Semua tungku ditemukan dalam kondisi runtuh di salah satu sisi dan di bagian atas (Hartatik et al., 2020; Hartatik & Sofian, 2020).
Penelitian pada tahun 2019 menghasilkan lokasi sumber bahan bijih besi di Sungai Semayap (anak Sungai Montalat), di Sungai Montalat (hulu Desa Pelari), dan di Riam Maninyau (Desa Jaman) (Hartatik et al., 2019). Sumber bahan bijih besi jenis laterit diketahui berada di lapisan tanah yang dangkal, di areal perbukitan rendah tidak jauh dari situs buren (Hartatik & Sofian, 2018). Proses pengambilan bijih besi diceritakan dalam catatan Schwaner dari perjalanannya menyusuri Sungai Barito. Disebutkan bahwa penduduk di hulu Barito mengambil bijih besi dari dalam Sungai Barito saat air surut dan harus menyelam untuk mendapatkan bijih besi saat kondisi sungai dalam (Schwaner, 1853).

Persebaran buren di wilayah hulu DAS Barito (Gambar 2) menjadi bukti bahwa peleburan bijih besi menjadi industri yang penting. Keberadan situs industri berkaitan dengan banyak aspek, antara lain aspek teknologi, bahan, pemasaran produk, serta aspek sosial seperti dinamika ekonomi dan politik (Martin, 2009). Keberadaan situs industri dapat dikaji dan dinilai kembali sebagai dasar pengembangannya menuju warisan budaya yang lebih bermakna dan berkelanjutan (Di Ruocco, Sicignano, & Galizia, 2017). Data arkelogi, dalam hal ini adalah situs buren, dapat memberikan perspektif baru dalam penjelasan sejarah dan pemanfaatnya di masa depan (Venovcevs, 2020).
Perang Banjar merupakan peristiwa dengan nuansa sosial dan politik di hulu DAS Barito yang terjadi pada pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke20 (1859–1905). Perang Banjar berawal di wilayah tambang batubara di Pengaron dan Martapura, kemudian meluas hingga wilayah tanah Dayak di hulu Barito, Kalimantan Tengah, sehingga disebut Perang Barito atau Perang Banjar-Barito (Barjie, 2016). Wilayah hulu DAS Barito dikenal sebagai lokasi perang dan pertahanan pejuang pimpinan Pangeran Antasari melawan pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Hubungan atau korelasi antara puncak industri besi dengan peristiwa Perang Banjar di hulu Barito diuraikan dalan artikel ini berdasarkan perbandingan kronologi, jenis senjata yang digunakan dalam Perang Banjar Barito, dan pemilihan lokasi buren terkait dengan kondisi keamanan pada masa itu.

METODE
Artikel ini ditulis berdasarkan hasil penelitian deskriptif dengan penalaran induktif. Permasalahan dijawab dengan pendekatan arkeologi sejarah (historical archaeology) dan etnografi. Data arkeologi berupa situs-situs peleburan bijih besi (buren) diperoleh dari penelitian arkeologi pada tahun 2017–2019 di bagian hulu DAS Barito, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Data sejarah didapatkan dari penelusuran pustaka berupa buku, dokumen, arsip, dan laporan perjalanan tentang Perang Banjar-Barito. Data etnografi berupa informasi atau kesaksian dari narasumber dikonfirmasi silang dengan data sejarah untuk kesesuaian hasil analisis dan penafsiran data arkeologi (Picha, 2009). Data etnografi didapatkan dari kesaksian atau penuturan penduduk setempat berdasarkan memori mereka terkait dengan peristiwa Perang Banjar-Barito di sekitar lokasi buren.
Konsep yang dipakai dalam penelitian ini berupa hubungan atau korelasi antara keberadaan industri besi dengan Perang Banjar di hulu DAS Barito. Korelasi antara peleburan bijih besi dengan Perang Banjar-Barito diketahui melalui perbandingan kronologi, jenis senjata yang digunakan dalam Perang Banjar-Barito, jenis senjata produksi buren, dan lokasi buren.
Kronologi situs diperoleh dari analisis pertanggalan radiokarbon sampel arang hasil ekskavasi. Pertanggalan kemudian disejajarkan dengan data sejarah masa Perang Banjar-Barito. Jenis senjata yang digunakan dalam Perang Barito diperoleh dari data sejarah, kemudian dibandingkan dengan jenis senjata produksi buren dari data etnografi. Titik lokasi Perang Banjar-Barito diperoleh dari data sejarah dan dibandingkan dengan titik lokasi buren di dalam peta sebaran situs saat ini. Data etnohistori yang dimaksudkan dalam penelitian ini merupakan data sejarah yang berada di komunitas lokal maupun catatan perjalanan di wilayah hulu Barito (Ember & Ember, 2006).
HASIL PENELITIAN
Perang Banjar-Barito
Wilayah hulu Barito sejak abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-19 M merupakan bagian dari Kerajaan Banjar (Kesultanan). Pada tahun 1860, status wilayah Kerajaan Banjar dihapuskan. Setelah itu, wilayah yang dulunya dikuasai Kerajaan Banjar menjadi wilayah Gubernemen Belanda. Wilayah Gubernermen Belanda terbagi dalam bentuk afdeling (Zuider en Oos-terafdeling van Borneo) yang dipimpin oleh Komisaris Gubernemen atau Residen. Pusat pemerintahan yang berada di Banjarmasin meliputi wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Sistem pemerintahan Hindia-Belanda sering berubah, hingga pada tahun 1898 melalui Staatsblad nomor 178, Borneo (Kalimantan) bagian selatan dibagi dalam beberapa wilayah administrasi yaitu, Afdeling Martapura, Kandangan, Amuntai, Tanah Dusun, Tanah Dayak, Sampit, Pasir, dan Tanah Bumbu. Tanah Dusun adalah nama lain dari wilayah hulu Barito yang berada di Kalimantan Tengah. Nama “Dusun” mengacu pada nama “Dayak Dusun” yang tinggal di bagian hulu DAS Barito (Sjarifuddin et al., 2020).
Perang Banjar-Barito merupakan peristiwa sejarah perjuangan terpanjang di Indonesia yang berlangsung pada tahun 1859–1905 (Sjamsuddin, 2014). Perang ini dipicu oleh campur tangan pemerintah Hindia-Belanda terhadap Kerajaan Banjar dan ambisi eksploitasi batubara di sejumlah tanah apanage yang merupakan milik keluarga sultan. Penyerbuan benteng dan tambang batubara milik pemerintah Hindia-Belanda di Pengaron pada bulan September 1859, merupakan titik awal perlawanan terhadap pemerintah Hindia-Belanda. Para pimpinan perjuangan kemudian berunding untuk membagi wilayah perjuangan. Tumenggung Jalil dan Pangeran Hidayat mendapat wilayah perjuangan di Banua Lima, Demang Lehman di Martapura dan sekitarnya, sedangkan Pangeran Antasari di daerah Dusun Atas (hulu Barito). Pangeran Antasari didampingi oleh Tumenggung Surapati yang merupakan pemimpin komunitas Dayak Siong (Sjarifuddin et al., 2020).
Pemerintah Hindia-Belanda membujuk Tumenggung Surapati untuk menyerahkan Pangeran Antasari dengan imbalan uang 10.000 gulden. Untuk itu, mereka berlayar dari Banjarmasin menuju Muara Teweh, Kalimantan Tengah, menggunakan kapal Onrust dan mengundang Tumenggung Surapati melihatlihat kapal Onrust yang “modern” pada masa itu. Ketika Tumenggung Surapati dan beberapa anak buahnya tengah berkeliling kapal, anak Tumenggung Surapati yang bernama Ibon, menghunus mandau sambil berteriak memberi komando untuk menyerang. Seruannya diikuti oleh sekitar 400 orang pejuang yang sebelumnya telah bersembunyi di semak-semak dan mendekati kapal Onrust dengan perahu. Mereka berkelahi dalam jarak dekat dengan senjata tikam, sehingga pasukan Hindia-Belanda di dalam kapal tidak sempat menggunakan meriam dan senapan. Kapal yang membawa 10 perwira, 40 marinir, dan 43 anak buah kapal akhirnya tenggelam setelah salah seorang pejuang membuka keran air di ruang palka. Kapal Onrust tenggelam bersama seluruh awaknya di dasar Sungai Barito pada 26 Desember 1859. Lokasi tenggelamnya kapal Onrust berada di Lontotuor, Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara. Persenjataan yang ada di dalam kapal seperti meriam, lila (meriam kecil), dan senapan diambil oleh para pejuang. Senjata rampasan tersebut kemudian digunakan untuk melawan pasukan Hindia-Belanda, terutama untuk menembaki kapal-kapal patroli di wilayah Barito (Rees, 1865; Sjamsuddin, 2014).
Kronologi Situs
Pertanggalan absolut dari situs buren diketahui melalui hasil analisis radiocarbon dating (C-14) dan accelerated mass spectomery (AMS) sampel arang yang diperoleh dari survei dan ekskavasi. Analisis C-14 dilakukan oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) Jakarta (Tabel 1, sampel nomor 1-6) pada tahun 2017 dan laboratorium PINSTECH di Pakistan pada tahun 2018 (sampel nomor 7/Buren Temelalo). Analisis AMS dilakukan oleh laboratorium Universitas Waikato di New Zealand (Tabel 1, sampel nomor 8-11) pada tahun 2019. Analisis tersebut menghasilkan rentang usia rata-rata pada abad ke-12 hingga awal abad ke-20 M, meskipun didapatkan pula hasil rentang usia yang lebih tua dari Buren Mejahing TP 4 yakni abad ke-7 dan awal abad ke-10 M (Tabel 1, sampel No. 5). Hasil pertanggalan dari Buren Mejahing TP 4 tersebut diragukan karena menunjukkan rentang usia yang terlalu jauh dibandingkan dengan hasil pertanggalan situs lainnya. Oleh karena itu, analisis ulang terhadap sampel arang Buren Mejahing TP 4 dilakukan oleh laboratorium Universitas Waikato. Hasil analisis menunjukkan angka tahun 1778–1789 cal AD (Tabel 1, sampel No. 10). Analisis ulang juga dilakukan terhadap sampel arang dari Buren Temelalo TP 1 oleh PINTECH Pakistan pada tahun 2018. Hasil analisis menunjukkan angka tahun 1167–1218 cal AD (Tabel 1, sampel No. 7). Hasil analisis ulang dari sampel yang sama oleh laboratorium Universitas Waikato menunjukkan angka tahun 1528–1552 cal AD (Tabel 1, sampel No. 11) (Hartatik et al., 2019).
Analisis ulang terhadap sampel dari Buren Benangin TP 1 pada tahun 2018 menghasilkan angka tahun yang tidak berbeda jauh dari analisis pada tahun 2017, yaitu pada rentang abad ke 17–18 M. Sembilan sampel dari lima situs (Buren Benangin, Mejahing, Temalalo, Jaga, dan Tukuq) menunjukkan rentang dari abad ke-16 hingga ke-19. Hasil analisis pertanggalan menunjukkan bahwa aktivitas peleburan bijih besi di wilayah hulu Barito berlangsung cukup panjang, yaitu sekitar empat abad. Puncak aktivitas terjadi sejak akhir abad ke-18 hingga abad ke-19 M yang ditunjukkan oleh Buren Benangin, Buren Jaga, dan Buren Mejahing. Ketiga buren tersebut berada di sub-DAS Montalat di Desa Pelari dan Kandui, Kecamatan Gunung Timang (Hartatik et al., 2019).
Rentang waktu aktivitas peleburan bijih besi bersamaan dengan peristiwa Perang Banjar yang terjadi di hulu Sungai Barito (1859–1905). Pertanggalan radiocarbon yang paling muda didapatkan dari Buren Tukuq di sub-DAS Teweh, yaitu 117 BP atau 1919–1935 cal AD. Temuan terak besi (iron slag) di buren yang membukit menimbulkan dugaan bahwa buren digunakan untuk melebur bijih besi secara berkelanjutan dalam waktu yang panjang. Sampel arang untuk analisis pertanggalan Buren Tukuq diambil dari gundukan terak besi pada kedalaman sekitar 20 cm dari permukaan tanah, sehingga terdapat indikasi hasil pertanggalan yang lebih tua dari lapisan bawah akan didapatkan (Hartatik et al., 2019).
Hasil ekskavasi di Buren Benangin, Temalalo, dan Jaga menunjukkan bahwa gundukan terak besi berjarak sekitar 3–5 meter dari tungku peleburan. Gundukan terak besi membukit dengan ketinggian sekitar 1–1,5 meter dan luas sekitar 3×5 meter. Lapisan tanah di sekitar tungku peleburan pada kedalaman 40 cm (dari titik tertinggi) merupakan lapisan budaya. Hal tersebut tidak ditemukan pada lokasi Buren Benangin TP 2 di lereng rendah yang memiliki lapisan budaya mencapai kedalaman 70 cm. Sampel arang untuk pertanggalan absolut berasal dari lapisan tengah dan lapisan paling bawah, sedangkan sampel yang berasal dari lapisan atas (kemungkinan lebih muda), tidak dianalisis karena rentan terkontaminasi oleh aktivitas pada masa sekarang (Hartatik et al., 2019).

Hasil analisis pertanggalan absolut selanjutnya dibandingkan dengan pertanggalan relatif buren yang didapatkan dari data etnografi. Narasumber di DAS Teweh dan DAS Montalat menyatakan bahwa peleburan bijih besi terakhir kali dilakukan oleh kakek buyutnya. Berdasarkan penuturan pemilik buren Jaga, yaitu Bue (panggilan untuk kakek dalam bahasa Dayak Taboyan) Markus Mirun (93 tahun), buren Jaga terakhir digunakan untuk melebur bijih besi oleh orang tua dari kakeknya. Bue Markus Mirun merupakan keturunan keempat dari pelaku peleburan bijih besi tersebut. Perkiraan usia relatif empat generasi dihitung berdasarkan asumsi bahwa satu generasi memiliki rentang usia 25 tahun. Satu generasi dikalikan tiga kemudian ditambah usia generasi keempat (Bue Markus Mirun, 93 tahun), menghasilkan angka 168 tahun. Perhitungan tersebut mengindikasikan usia relatif dari Buren Jaga yang digunakan terakhir kali pada 168 tahun lalu atau sekitar tahun 1851. Angka tahun tersebut mendekati hasil analisis pertanggalan absolut di laboratorium Universitas Waikato yaitu 153 ±17 BP atau 1850–1869 cal AD.
Senjata Produksi Lokal
Pabrik senjata di Kalimantan sudah ada jauh sebelum peristiwa Perang Banjar, yaitu di daerah Negara yang berada di tepi Sungai Negara (sub-DAS Barito). Mayor Hendrik, komandan militer Borneo Bagian Selatan dan Pantai Timur, menyelidiki pabrik senjata atas perintah Mayjen Cochius, Komandan tentara Angkatan Darat Hindia-Belanda pada tahun 1842. Hendrik melaporkan bahwa pabrik senjata di Negara membuat berbagai jenis senjata, baik senjata Eropa (pistol dan berbagai senapan), maupun senjata lokal berupa senjata tangan seperti parang, keris, tombak, dan kelewang (sejenis parang atau mandau). Mereka terbagi dalam kelompok-kelompok bengkel. Misalnya saja, bengkel laras senjata api, persiapan dan perakitan suku cadang, finishing senapan, peluru, pistol, pegangan senjata, serta bengkel khusus besi, tembaga, dan perak (Hendriks, 1842).
Laporan Hendrik menyebutkan bahwa bahan untuk membuat senjata berasal dari batu besi di tanah Dusun (hulu Barito) yang disebut besi Dusun atau besi Montalat. Nama tersebut muncul karena besi diambil dari sekitar Sungai Montalat. Ada dua jenis bijih besi, yaitu bijih besi sungai (batu sungai) dan bijih besi gunung (batu besi gunung). Bijih besi Dusun berada pada kedalaman satu hasta di bawah tanah. Penduduk di Dusun melebur bijih besi tidak menggunakan tungku yang tinggi, melainkan tungku sederhana yang rendah. Mereka dapat menghasilkan besi berkualitas nomor 1 yang disebut sebagai besi baja, dan besi berkualitas nomor 2 yang disebut sebagai besi hitam. Harga besi baja adalah 0,3–0,35 gulden, sedangkan besi hitam adalah 0,25 gulden. Kualitas besi hitam hampir sama dengan besi dari Eropa, sedangkan kualitas besi baja jauh di bawah besi dari Eropa. Pada masa itu, penduduk di Dusun belum mengenal berbagai campuran logam dalam pembuatan baja (Hendriks, 1842).
Berdasarkan daftar harga senjata dalam Tabel 2, terlihat bahwa harga senjata yang paling murah adalah jenis senjata lokal seperti kelewang (sejenis parang) dan pedang lengkung (sejenis mandau). Senjata yang paling mahal adalah jenis senjata Eropa seperti senapan dan pistol dengan pamor. Data sejarah yang mencatat jenis senjata dalam Perang Banjar-Barito di wilayah Barito sangat minim. Namun data etnografi berupa tinggalan senjata besi yang disimpan penduduk sebagai senjata warisan dari datu (sebutan untuk orang tua kakek) menggambarkan jenis senjata yang mungkin digunakan pada masa Perang Banjar-Barito. Jenis senjata warisan tersebut antara lain mandau, parang atau kelewang, tombak, sumpitan, dan pisau kecil (jamiya). Ada perbedaan mencolok antara jenis senjata yang digunakan oleh pasukan Hindia-Belanda dengan senjata pasukan lokal. Pasukan Hindia-Belanda menggunakan senjata jarak jauh seperti senjata api dan meriam, sedangkan pasukan lokal menggunakan senjata tikam jarak dekat (Rutte, 1863; Sjamsuddin, 2014).

Senjata yang digunakan dalam Perang Banjar-Barito disinggung dalam catatan M.C.E. Le Rutte, seorang tenaga medis yang tergabung dalam pasukan Hindia-Belanda. Senjata berupa tongkat yang panjang (sejenis tombak), sumpitan yang ujungnya diisi dengan mata tombak, mandau, belati pendek (badik–jamiya), pedang pendek (perladin atau parang lading), dibawa oleh orang Dayak Siong dan Patai yang bekerja untuk pasukan Hindia-Belanda. Rutte juga menyebut sejumlah senjata tikam seperti ilom, sakking, zadop, dan bladow (Gambar 3) (Rutte, 1863). Senjata yang disebut parang lading (parang pisau) berbentuk lengkung, kemungkinan senjata ini yang disebut Hendriks sebagai pedang lengkung seharga 8 gulden. Dibandingkan dengan senjata tikam yang lain, mandau merupakan senjata yang paling banyak digunakan dalam perang Barito. Seperti dalam peristiwa penyerangan kapal Onrust oleh putra Tumenggung Surapati, diceritakan bahwa dia menghunus mandau sebagai pertanda dimulainya serangan (Sjamsuddin, 2014). Mandau (Gambar 4) merupakan jenis senjata warisan yang dimiliki oleh hampir semua keluarga di hulu Barito, sedangkan jamiya (Gambar 5) hanya dimiliki oleh orang tertentu.
Keberadaan industri besi di hulu Barito tercatat dalam ekspedisi Schwaner ketika melayari Sungai Barito pada tahun 1847. Disebutkan bahwa besi bilah merupakan salah satu komoditas utama dari wilayah hulu Barito yang diperdagangkan ke Kalimantan bagian tenggara, selain rotan, kayu gaharu, lilin lebah, dan madu. Bilah besi diperdagangkan dari kampung-kampung di sepanjang Sungai Barito untuk ditukarkan dengan barang kebutuhan sehari-hari, seperti garam, kain, kebaya, sarung, tembakau, dan kapas.


Schwaner mencatat bahwa nilai tukar 1 gantang garam sama dengan 4 besi bilah atau f 1,60 (1,60 gulden), sehingga 1 bilah besi dihargai f 0,4 (0,4 gulden) (Schwaner, 1853). Schwaner melewati Sungai Montalat yang merupakan anak Sungai Barito di bagian hulu. Namun demikian, Schwaner nampaknya tidak masuk ke Sungai Negara, sehingga dia tidak menyinggung adanya industri besi di tepi Sungai Negara. Laporan terkait industri senjata besi di tepi Sungai Negara terdapat di dalam catatan perjalanan Carl Bock pada tahun 1879. Disebutkan bahwa penduduk Negara bekerja sebagai pembuat gerabah, perahu, serta senjata berupa senapan dan kelewang (sejenis parang). Bock menyebutkan bahwa bijih besi untuk bahan senjata didatangkan dari distrik Dusun atau Barito hulu (Bock, 1988).
DISKUSI DAN PEMBAHASAN
Buren dan Jejak Perang Banjar di Hulu Barito
Bagian hulu DAS Barito menjadi arena pergerakan pejuang Banjar melawan pemerintah Hindia-Belanda sejak pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20 M (Saleh & Sutjianingsih, 1993; Sjarifuddin et al., 2020). Bangkai kapal Onrust di dasar Sungai Barito menjadi salah satu bukti Perang Banjar di wilayah hulu Sungai Barito. Keberadaan benteng pertahanan Pangeran Antasari di Gunung Tongka di hulu Sungai Montalat, dan beberapa desa lainnya, menjadi bukti bahwa Perang Banjar-Barito juga terjadi di Sungai Montalat (anak Sungai Barito). Sejumlah nama desa disebut dalam data sejarah Perang Banjar-Barito dan tradisi tutur yang masih diingat oleh penduduk saat ini antara lain, Desa Malungai, Desa Rerawa, Desa Pelari, dan Desa Tongka. Desa Malungai dan Rerawa terletak di bagian hilir Sungai Montalat, sedangkan Desa Pelari dan Tongka berada di bagian hulu (secara administrasi termasuk dalam wilayah Kecamatan Gunung Timang, Kabupaten Barito Utara). Setidaknya terdapat enam situs buren di Desa Pelari dan satu buren di Desa Tongka di hulu Sungai Kelaat (anak Sungai Montalat di bagian hulu). Selain itu, menurut informasi dari Polonius, Kepala Adat Dayak Kecamatan Gunung Timang, di Desa Malungai dan Rerawa juga banyak terdapat buren. Namun buren yang ada di lokasi tersebut belum pernah diteliti (Hartatik & Sofian, 2018).
Pemilihan lokasi perang gerilya Pangeran Antasari di hulu DAS Barito berdasarkan pertimbangan kondisi alam berupa pegunungan dengan ratusan sungai dan hutan yang lebat. Hal itu merupakan keuntungan karena menyulitkan orang luar yang belum terbiasa dengan kondisi alam untuk masuk dan menemukan lokasi tersebut. Lokasi hulu DAS Barito di perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur juga dianggap strategis karena memudahkan hubungan dengan Kesultanan Paser dan Kutai yang merupakan kerabat dan sekutu Pangeran Antasari. Kedua kesultanan tersebut bersedia membantu perjuangan Pangeran Antasari dengan mengirim bantuan berupa senjata dan mesiu (Sjamsuddin, 2014).
Sejumlah nama tempat yang disebutkan dalam data sejarah Perang Banjar seperti Malungai, Rarawa, Pelari, Sengkorang, Tongka atau Ingai, serta desa-desa sepanjang Sungai Montalat dan Sungai Teweh, memiliki situs buren sebagai bengkel peleburan bijih besi. Sementara itu, Desa Sampirang di hulu Sungai Teweh, Kecamatan Teweh Timur, juga terjangkau dari Hajak yang memiliki situs buren (Tabel 3). Pertanggalan absolut menunjukkan bahwa buren di DAS Montalat dan Teweh berasal dari tahun 1800-an atau awal abad ke-19 M. Buren yang berada di DAS Montalat pada masa tersebut adalah Buren Jaga (di Desa Kandui), Buren Benangin dan Mejahing (Desa Pelari), serta Buren Tukuq di Desa Hajak (DAS Teweh) (Tabel 3). Perang Banjar di hulu Barito terjadi pada pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20 M, semasa dengan keberadaan sejumlah buren di wilayah tersebut.
Data sejarah dari Schwaner, Carl Bock, dan Rutte menyatakan bahwa hulu Barito merupakan penghasil besi mentah. Sebagian besar besi mentah hasil peleburan dari buren dijual, sedangkan sebagian kecil diolah menjadi senjata pribadi. Data etnografi menunjukkan bahwa senjata besi berupa mandau, parang, tombak, sumpitan, pedang pendek (sejenis parang), dan belati/jamiya yang disimpan penduduk merupakan warisan dari datu. Jenis dan bentuk senjata tersebut mirip yang digambarkan oleh Rutte sebagai senjata orang Dayak yang menjadi pasukan pembantu Hindia-Belanda maupun pasukan Pangeran Antasari (Rutte, 1863). Jenis senjata tersebut juga ditemukan di Benteng Gunung Tongka yang dtinggalkan secara tergesa-gesa oleh Pangeran Antasari dan pasukannya. Mandau merupakan senjata yang paling dominan dalam Perang Banjar-Barito. Mandau pada masa sekarang merupakan jenis senjata warisan yang dimiliki oleh hampir semua keluarga di hulu Barito.

Alasan Pemilihan Lokasi Buren
Perkembangan sosial ekonomi suatu komunitas tidak lepas dari kondisi politik pemerintahan dan kebijakan penguasa pada masa itu. Berbagai sumber sejarah menyebutkan bahwa besi mentah hasil peleburan di hulu Barito diperjualbelikan di Kalimantan bagian tenggara (Schwaner, 1853) dan bahan baku industri besi di Negara (Bock, 1988; Hendriks, 1842). Generasi keempat dari pelaku peleburan bijih besi di hulu Barito menuturkan bahwa senjata besi produksi buren pada masa itu berupa mandau, parang, tombak, dan jamiya, tidak diperdagangkan, melainkan untuk memenuhi kebutuhan pribadi.
Jarak dari sumber bahan
Sungai mempunyai peran sangat penting untuk aktivitas peleburan bijih besi, baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun untuk proses peleburan. Misalnya saja proses memadamkan api dan mencelup bara besi yang membutuhkan air. Sungai juga menyediakan sumber bahan bijih besi, seperti Sungai Semayap dan Riam Maninyau di gosong Sungai Montalat. Oleh karena itu, buren berada di lokasi yang tidak jauh dari sumber bahan atau di lokasi yang dekat dengan akses menuju sumber bahan. Lokasi seperti ini ditemukan pada Buren Akoi, Buren Maninyau, Buren Santo, Buren Pimping, Buren Muara Lasung, dan Buren Bemilum yang terletak di tepi Sungai Montalat.
Bahan bijih besi tersedia juga di anak-anak Sungai Montalat, yaitu Sungai Semayap, Sungai Putei, Sungai Benangin, dan Sungai Layung Bura. Bahan bijih besi tidak semua diambil dari sungai terdekat. Misalnya saja seperti yang terjadi di Buren Lesung Empit. Buren tersebut berada lebih dekat dengan Sungai Jungan (sekitar 50 meter), namun bahan bijih besi justru didatangkan dari Gunung Saing Imang yang berjarak sekitar 300 meter (Tabel 3) (Hartatik & Sofian, 2018).
Ketersediaan bahan bijih besi di Sungai Montalat disebutkan oleh Schwaner dalam catatan ekspedisinya menyusuri Sungai Barito pada tahun 1847. Schwaner mencatat bahwa bijih besi yang digunakan dalam peleburan bijih besi di hulu Barito adalah jenis laterit. Bijih besi diambil dari tepi sungai, terutama dari formasi lignite yang terpotong oleh Sungai Barito. Batu besi tersebut dapat dilihat jika air Sungai Barito surut, sehingga penduduk lebih banyak mengambil batu besi pada musim kemarau dibandingkan pada musim penghujan ketika air sungai tinggi (Schwaner, 1853). Cadangan bijih besi jenis laterit di wilayah Kalimantan bagian tenggara (Kalimantan Selatan dan sebagian Kalimantan Tengah) paling tinggi dibandingkan tempat lain di Indonesia (Ishlah, 2009). Jenis batuan laterit sangat umum ditemukan di daerah tropis seperti di Afrika dan Asia Tenggara dalam bentuk eluvial dan endapan alluvial. Bijih besi laterit berwarna merah kehitaman karena memiliki unsur hematit dan siderit (clay iron stone) (Do, 2013; Santoso & Subagio, 2018).
Keberadaan sumber bahan di dalam sungai juga diungkapkan oleh penduduk yang tinggal di tepi Sungai Montalat. Salah satu lokasi sumber bijih besi adalah Riam Maninyau yang berada di Desa Jaman di tengah Sungai Montalat. Penelitian pada tahun 2019 dilakukan ketika air Sungai Montalat sedang surut di bulan Juni, sehingga Riam Maninyau tampak seperti meander dengan material batuan laterit dan hematit yang banyak mengandung unsur besi (Hartatik et al., 2019).
Kemudian, berdasarkan tungku dan pipa udara yang ditemukan di situs buren, diketahui bahwa bahan pembuatan tungku dan pipa udara (tuyere) adalah tanah liat. Tanah liat kuning atau coklat kekuningan terdapat di tepi sungai dan di dekat buren dalam bentuk lapisan dan sisipan (Hartatik et al., 2019). Tanah liat berwarna abu-abu kecoklatan, coklat kekuningan, dan coklat kemerahan bersisipan tipis dengan lempung dan pasir halus. Lapisan ini dalam istilah geologi disebut tanah lanau (Moechtar, Mulyana, & Pratomo, 2016). Tanah liat berwarna kuning jenis lanau mempunyai kadar air sedang dengan tekstur agak kasar karena mengandung pasiran. Tanah jenis ini banyak ditemukan di beberapa tempat di tebing Sungai Montalat dan punggung perbukitan di sekitar buren, seperti di Buren Jaga dan Buren Benangin (Hartatik et al., 2019). Selain itu, proses peleburan bijih besi membutuhkan bahan bakar yang umumnya didapatkan dari arang kayu. Jenis kayu yang digunakan untuk membuat arang adalah jenis kayu keras, terutama kayu ulin, kayu halaban, dan kayu cangal. Buren yang berada di dalam hutan dekat dengan sumber bahan bakar berupa kayu sebagai bahan arang.
Kepemilikan Lahan
Sejumlah buren mendapatkan nama sesuai dengan nama sungai, misalnya saja Buren Benangin, Buren Tukuq, Buren Muara Lesung, dan Buren Kelaat. Selain itu, sejumlah buren mendapatkan nama sesuai nama pemilik atau penggarap lahan, misalnya Buren Jaga Ramis dan Buren Turing. Terdapat pula sejumlah buren yang mendapatkan nama sesuai nama tanaman dominan, misalnya Buren Layung Bura (layung bura berarti durian putih). Penelusuran terhadap kepemilikan lahan menunjukkan bahwa sebagian besar lahan buren masih dimiliki oleh keturunan pelaku peleburan (keturunan keempat). Namun, terdapat pula lahan buren yang sudah berpindah kepemilikan melalui jual beli.
Lokasi buren umumnya berada tidak jauh dari sumber bahan. Meski demikian, terdapat pula buren yang berada jauh dari lokasi sumber bahan. Misalnya saja Buren Maninyau yang berjarak 500 meter dari lokasi sumber bahan, yakni Riam Maninyau. Contoh lain adalah Buren Lesung Empit yang berjarak 300 meter dari lokasi sumber bahan, yakni Saing Imang. Tokoh dan tetua adat menyatakan bahwa lokasi ladang pada masa lalu juga merupakan lokasi buren. Hal ini dituturkan oleh Deransyah, warga Desa Pelari yang masih menyimpan tombak warisan dari besi buren, dan Edi Rasisi warga Desa Pelari. Beliau menyatakan bahwa besi mentah yang diwariskan oleh datu dibuat di buren di sepanjang Sungai Jaman. Hal ini dikarenakan leluhurnya mempunyai ladang di sekitar Sungai Jaman. Penduduk setempat melebur bijih besi di lahan miliknya, meskipun mungkin bahan biji besi diambil dari lokasi yang jauh dari buren. Jarak rata-rata antara buren dengan lokasi sumber bahan sekitar 30–300 meter, sementara jarak terjauh antara buren dengan lokasi sumber bahan sekitar 500 meter (Buren Maninyau) (Tabel 3).
Kondisi sosial, politik, dan keamanan
Lingkungan beserta sumber daya alam diketahui mempengaruhi distribusi situs. Namun, sebagaimana fenomena migrasi massal secara paksa telah mempengaruhi distribusi situs arkeologi di lembah Sungai Heihe di barat laut Tiongkok selama 2000 tahun terakhir (Shi et al., 2019), peristiwa sosial politik juga mempunyai peran yang tidak dapat diabaikan. Situs industri besi di hulu DAS Barito yang hidup pada masa Kolonial kemungkinan juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah Hindia-Belanda pada masa itu.
Laporan penyelidikan militer Hendriks (1842) dan penjelajah Carl Bock (1882) menyatakan bahwa industri senjata telah ada di Negara sebelum meletusnya Perang Banjar. Kedua laporan menyebutkan bahwa industri besi di Negara mendapatkan bahan baku dari hulu Barito (Distrik Dusun). Hendriks melaporkan bahwa pengrajin di hulu Barito melebur bijih besi dengan menggunakan tungku lebur sederhana, namun menghasilkan besi mentah dengan kualitas cukup bagus (Hendriks, 1842). Tungku lebur sederhana yang disebutkan dalam laporan Hendriks sesuai dengan tungku lebur di situs buren, yaitu tungku dari tanah liat berbentuk bulat dengan tinggi sekitar satu meter.
Peta sebaran buren menunjukkan bahwa hampir semua buren berada di hutan primer dan tidak jauh dari sungai (Gambar 6). Menurut informasi penduduk Desa Pelari, awalnya buren berada di tepi sungai besar (Sungai Montalat dan Barito) karena mendekati sumber bahan di dalam sungai tersebut. Penduduk setempat menyatakan bahwa pergeseran lokasi terjadi pada masa Kolonial karena pemerintah Hindia-Belanda melarang adanya buren, sehingga penduduk lokal melebur bijih besi secara sembunyi-sembunyi di tengah hutan. Lokasi ini jauh dari sungai besar yang biasa dilalui oleh pasukan Hindia Belanda. Penduduk meyakini bahwa buren yang berada di tepi sungai besar berusia lebih tua (kemungkinan sebelum masa Kolonial) dibandingkan buren yang berada di tepi sungai kecil. Informasi ini didapatkan dari wawancara penulis dengan Lukisan (50 tahun), warga Desa Pelari yang mendapat cerita dari kakeknya (komunikasi personal pada tanggal 5 Mei 2018).
W.A. van Rees dan M.C.E. Le Rutte menyebutkan bahwa Sungai Barito dan Sungai Montalat merupakan jalur utama Perang Banjar-Barito. Para pejuang yang dipimpin Pangeran Antasari menggunakan jalur sungai, hutan lebat, dan pegunungan yang sulit dijangkau oleh pasukan Hindia-Belanda. Pusat pertahanan para pejuang adalah Benteng Gunung Tongka yang berada di hulu Sungai Montalat. Benteng Tongka dapat dicapai dari arah Banjarmasin melalui hilir Sungai Barito-Sungai Ayuh-muara Sungai Montalat, hingga bagian hulu di Gunung Tongka. Perjalanan dari Sungai Ayuh hingga ke hulu Sungai Montalat sangat berat bagi pasukan Hindia-Belanda. Pasukan Pangeran Antasari dengan sengaja memasang rintangan di jalur sungai berupa pohon-pohon besar yang melintang, sehingga banyak kapal Hindia-Belanda yang rusak. Hal ini menyebabkan pasukan Hindia-Belanda menjarah apa saja yang ada sekitar sungai. Kayu yang ada di ladang dan rumah penduduk dijarah untuk kapal atau perahu. Penjarahan diizinkan oleh pemimpin pasukan Hindia-Belanda sebagai bentuk pembelaan dan pertahanan diri menghadapi para pejuang. Pasukan Hindia-Belanda menganggap para pejuang sebagai pemberontak (Rees, 1865; Rutte, 1863). Penjarahan oleh pasukan Hindia-Belanda tersebut membuat penduduk khawatir. Hal inilah yang mendorong perpindahan buren dari tepi sungai besar (Montalat) ke sungai kecil (anak sungai Montalat). Pada masa itu pasukan Hindia-Belanda lebih sering berpatroli ke arah hulu DAS Barito, baik melalui jalur sungai maupun jalur darat. Mereka juga membangun tangsi-tangsi militer (benteng) di setiap muara sungai untuk mengawasi aktivitas penduduk.
Peleburan bijih besi di hulu DAS Barito telah berlangsung selama ratusan tahun hingga mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-19 M. Namun, peleburan bijih besi berhenti tidak lama kemudian. Puncak industri peleburan bijih besi di buren berada pada rentang Perang Banjar-Barito (sekitar pertengahan abad ke-19 sampai awal abad ke-20 M) seperti yang terjadi di Buren Tukuq, Buren Mejahing, Benangin, dan Jaga Ramis. Buren yang terletak di tepi sungai kecil tersebut masih menyimpan bukti peleburan berupa tungku dan pipa udara (tuyere) dari tanah liat dengan kondisi relatif utuh. Buren yang lebih tua berada persis di tepi sungai besar (Sungai Montalat), seperti Buren Muara Lasung, Buren Akoi, Buren Santo, dan Buren Bemilum, tetapi tidak ditemukan tungku peleburan dan tuyere. Perpindahan lokasi buren berdasarkan data arkeologi, data sejarah, dan sejarah tutur dari komunitas lokal memiliki keterkaitan. Sebelum masa kolonial, pemilihan lokasi buren berdasarkan pertimbangan kedekatan dengan sumber bahan dan kepemilikan lahan, sedangkan pada masa kolonial pertimbangan faktor keamanan lebih utama dibandingkan lokasi sumber bahan dan kepemilikan lahan.

KESIMPULAN
Data etnografi menunjukkan bahwa selain diperdagangkan, para pengrajin besi di hulu Barito juga membuat senjata pribadi seperti parang, mandau, mata tombak, pisau, dan jamiya. Sebagian besar penduduk masih menyimpan senjata-senjata tersebut sebagai pusaka warisan leluhur yang dibuat dari besi buren. Jenis senjata tersebut serupa dengan senjata yang digunakan pada masa Perang Banjar-Barito seperti yang tertulis dalam data sejarah.
Beberapa desa yang disebut dalam sejarah Perang Banjar (Perang BanjarBarito) dan sejarah tutur yang masih diingat penduduk, yaitu Desa Malungai, Desa Rerawa, Desa Pelari, dan Desa Tongka. Desa-desa tersebut memiliki buren dengan pertanggalan yang semasa dengan peristiwa perang, antara lain Buren Benangin dan Mejahing di Desa Pelari; Buren Kelaat di Tongka; Buren Jaga di bagian hulu Desa Rarawa, dan Buren Tukuq di wilayah Desa Hajak (lokasi ini bisa dijangkau dari Sampirang di hulu Sungai Teweh). Sampirang adalah desa pertahanan terakhir Pangeran Antasari setelah Benteng Tongka di hulu Sungai Montalat.
Peleburan bijih besi pada masa Perang Banjar-Barito masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi di tepi anak-anak sungai, jauh dari Sungai Montalat dan Sungai Teweh. Faktor keamanan menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan lokasi buren, selain kedekatan sumber bahan dan kepemilikan lahan. Pertanggalan absolut dan data etnografi menunjukkan bahwa buren yang semasa dengan Perang Banjar-Barito adalah Buren Jaga, Benangin, Mejahing, dan Tukuq. Data arkeologi di situs buren tersebut hingga kini masih dapat diamati, antara lain berupa gundukan terak besi, tungku peleburan, dan pipa udara dari tanah liat (tuyere), baik dalam bentuk setengah utuh maupun fragmentaris. Buren berusia tua (merujuk pada masa sebelum Perang Banjar-Barito) yang berada di tepi sungai besar (Sungai Montalat) seperti Akoi dan Bemilum, ditinggalkan menjelang atau ketika Perang Banjar-Barito berlangsung. Buren yang berusia lebih tua tersebut kini dikeramatkan oleh penduduk setempat. Hampir tidak ada jejak material buren yang tampak di permukaan tanah karena tertutup daun-daun kering dan ilalang tebal.
PERNYATAAN PENULIS
Semua penulis memberikan kontribusi dalam penulisan artikel ini. Hartatik sebagai kontributor utama, sedangkan Sunarningsih, Nugroho Nur Susanto, Gaury Vidya Daneswara, dan Dian Triasri sebagai kontributor anggota. Naskah ini telah dibaca dan disetujui oleh semua penulis. Urutan penulis yang tercantum dalam naskah telah disetujui oleh semua penulis. Semua penulis mengkonfirmasi bahwa tidak ada konflik kepentingan yang terkait dengan publikasi ini dan tidak ada dukungan keuangan yang dapat mempengaruhi hasilnya. Semua penulis mematuhi Peraturan Hak Cipta yang dimiliki oleh Berkala Arkeologi.
UCAPAN TERIMAKASIH
Terima kasih kepada para narasumber “Penelitian Logam Montalat di Kecamatan Gunung Timang, Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah” tahun 2017–2019. Bapak Camat Gunung Timang dan staf, Bue Markus Mirun, Polonius (Ketua Adat Gunung Timang), Radikal (Ketua Dewan Adat Dayak, alm), perangkat desa, tokoh adat dan narasumber di Desa Pelari dan Kandui, serta anggota tim penelitian Logam Montalat tahun 2017–2019.
DAFTAR PUSTAKA
Barjie, A. (2016). Perang Banjar Barito 1859-1906 (cetakan ke; A. Jumbawuya, Ed.). Banjarbaru: Penakita Publisher.
Bock, C. (1882). The head hunter of Borneo. https://doi.org/10.16309/j.cnki.issn.1007–1776.2003.03.004
Bock, C. (1988). The head hunters of Borneo. Singapura: Graham Brash (Pte) Ltd.
Di Ruocco, G., Sicignano, E., & Galizia, I. (2017). Strategy of sustainable development of an industrial archaeology. Procedia Engineering, 180, 1664–1667 https://doi.org/10.1016/j.proeng.2017.04.329
Do, M. (2013). Iron-nickel alloy smelting production in Luwu, South Sulawesi during the pre-Islamic period. dissertation. UCL Institute of Archaeology, London.
Ember, C. R., & Ember, M. (2006). Teori dan metoda antropologi budaya. In T. O.
Ihromi (Ed.), Pokok-Pokok Antropologi Budaya (Kedua, hal. 49–81). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Hartatik, H.O., Sofian, Sunarningsih, N.N, Susanto, … Sulistiyo. (2020). The sustainability of the iron industry based on local wisdom in the Barito watershed watershed. ICSTSI 2020 IOP Conf. Series: Materials Science and Engineering 980, 012046, 1–11. https://doi.org/10.1088/1757899X/980/1/012046
Hartatik, & Sofian, H. . (2020). New evidence of iron smelting sites on the Montalat watershed (Central Kalimantan, Indonesia ): comparison with the iron smelting sites at sungai Batu (Kedah, Malaysia ). In N. H. Tan (Ed.), Advancing Southeast Asian Archaeology 2019 (hal. 371–380). Bangkok: SEAMO SPAFA.
Hartatik, & Sofian, H. O. (2018). Jejak pengerjaan logam kuna di hulu DAS Barito Kalimantan Tengah: kajian arkeometalurgi. Purbawidya, 7(21), 119–136. https://doi.org/10.24164/pw.v7i2.266
Hartatik, Sofian, H. O., Sunarningsih, Dhaneswara, G. V., Susanto, N. N., Sulistyo, R. B., & Karyanantio, A. (2019). Teknik pembuatan alat logam kuno dan pemanfaatan situsnya di DAS Montalat, kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah: studi eksperimental dan arkeologi publik. Banjarmasin.
Hendriks, A. (1842). Iets over de wapenfabricatie op Borneo. Batavia: Batavian Society of Arts and Sciences.
Ishlah, T. (2009). Potensi bijih besi Indonesia dalam kerangka pengembangan klaster industri baja. Buletin Sumber Daya Geologi, 4(2), 12–21.
Martin, P. E. (2009). Industrial archaeology. In D. Majewski, Teresita & Gaimster (Ed.), International Handbook of Historical Archaeology (hal. 285–298). London: Springer Science & Business Media.
Moechtar, H., Mulyana, H., & Pratomo, I. (2016). Sedimentologi dan stratigrafi holosen dataran pantai Medan – Belawan sekitarnya, Sumatera Utara. Jurnal Geologi Kelautan, 5(2), 99–111. https://doi.org/10.32693/jgk.5.2.2007.138
Picha, P. (2009). Wholes, holves, and vacant quarters: ethnohistory and the historical method. In D. Majewski, Teresita & Gaimster (Ed.), International Handbook of Historical Archaeology (hal. 269–284). London: Springer.
Rees, W. A. Van. (1865). De Bandjermasinsche krijg 1859-1863. Arnhem: D.A. Thieme.
Rutte, J. M. C. E. Le. (1863). Episode uit den Banjermasingschen oorlg. expeditie tegen de versterking van Pangeran Antasari-gelegen aan de Montallat river (De Expedit). Leiden: Bij A.W. Sythoff.
Saleh, M. I., & Sutjianingsih, S. (1993). Pangeran Antasari. Jakarta: Dirjen Kebudayaan, Depdikbud.
Santoso, B., & Subagio, S. (2018). Pemodelan nikel laterit berdasarkan data resistivitas di daerah Kabaena Selatan kabupaten Bombana, provinsi Sulawesi Tenggara. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, 19(3), 148–161.
Schwaner, D. C. A. L. . (1853). Borneo beschsuving van het stroomgesied van den Barito. Amsterdam: P.N. van Kampen.
Shi, Zhilin, Chen, Tingting, Storozum, J., M., … Fengwen. (2019). Environmental and social factors influencing the spatiotemporal variation of archaeological sites during the historical period in the Heihe river basin, northwest China. Quaternary International, 507 (December 2018), 34–42. https://doi.org/10.1016/j.quaint.2018.12.016
Sjamsuddin, H. (2014). Pegustian dan temenggung. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Sjarifuddin, Kusmartono, V. P. ., H, S., K, J., Anis, Z. ., Subiyakto, B., … Djohansjah, J. (2020). Sejarah Banjar (S. Ideham, Sjarifuddin, U. G, & Z. . dan W. Anis, Ed.). Yogyakarta: Balitbangda Provinsi Kalimantan Selatan.
Stuiver, M., & Reimer, P. J. (1993). Extended (super 14) C data base and revised CALIB 3.0 (super 14) C age calibration program. Extended (super 14) C Data
Base and Revised CALIB 3.0 (super 14) C Age Calibration Program., 35(1), 215– 230. https://doi.org/10.2458/azu_js_rc.35.1561
Venovcevs, A. (2020). Living with socialism: toward an archaeology of a postSoviet industrial town. Extractive Industries and Society, Article in(August). https://doi.org/10.1016/j.exis.2020.10.017
Jurnal ini disalin di bawah lisensi Creative Commons Attribution-Non Commercial-ShareAlike 4.0 International License
Tautan asli: Berkala Arkeologi