Skip to content

Pustaka Banjar

Pusat Informasi Sejarah dan Budaya Banjar

Menu
  • Beranda
  • Sejarah
  • Budaya
  • Adat
  • Sastra
  • Seni
Menu

Unsur-Unsur Filsafat Hidup Urang Banjar

Posted on by

Sahriansyah dalam tulisannya berjudul Sejarah Kesultanan dan Budaya Banjar memberikan kesimpulan bahwa sebagian besar filsafat hidup orang Banjar adalah Baiman, Bautung, Batuah, Cangkal, Baik tingkah laku, Kompetitif individual, Materialis pragmatis, Qanaah dan pasrah, serta haram manyarah dan waja sampai kaputing. Berikut uraian dari filsafat hidup tersebut:

Menarik untuk disimak hasil penelitian Alfani Daud yang berjudul: “Pembenihan serta Pemupukan Tatanilai Sosial Budaya dalam Keluarga Indonesia untuk daerah Kalimantan Selatan”. Adapun temuan-temuan penelitian tersebut adalah:

Berkenaan dengan makna hidup, nilai yang sudah membaku dalam masyarakat Banjar ialah ‘hidup untuk bekerja’, dan ‘hidup untuk beramal-ibadat’. Secara umum tidak terdapat perbedaan antara pola tata-nilai orang tua dan pola tata-nilai remaja. Sehingga dapat dikatakan nilai-nilai ini secara mantap telah berhasil diteruskan oleh para generasi orang tua kepada generasi remaja. Tetapi bila dilihat per komunitas, nampak adanya pergeseran nilai, tetapi hanya berkenaan dengan nilai ‘hidup untuk beramal-ibadat’. Dalam komunitas kota besar nilai ini yang di kalangan orang tua berada dalam kelas ‘agak kuat’ bergeser menjadi ‘lemah’ di kalangan remaja. Keadaan sebaliknya terjadi dalam komunitas kota kecil. Sedang dalam komunitas pedesaan nilai ‘hidup untuk beramal-ibadat’ ini bergeser lebih tajam lagi, yaitu dari kelas ‘kuat’ di kalangan orang tua turun menjadi ‘lemah’ di kalangan remaja.

Nilai ‘hidup untuk bekerja’ menempati kelas ‘sangat kuat’, baik di kalangan orang tua maupun di kalangan remaja, dalam ketiga komunitas yang diteliti. Hal ini memberikan kesan bahwa bagi orang Banjar, hidup tanpa bekerja sama dengan kehilangan makna hidupnya. Kesan ini menggembirakan, karena hal ini berarti nilai itu menunjang tujuan hidup untuk kesejahteraan di dunia. Tetapi kami berpendapat lain, yaitu bahwa nilai ‘hidup untuk bekerja’ bagi orang Banjar masih lebih bersifat ideal yang belum tercermin sepenuhnya dalam kenyataan. Beberapa sinyalemen di bawah ini akan mendukung pernyataan itu. Sering terlihat di beberapa kalangan orang Banjar adanya kebiasaan-kebiasaan santai, seperti: nongkrong di warung teh, ngobrol di pinggir jalan, bermain kartu atau catur pada waktu dan bahkan di tempat kerja, yang kesemuanya mengesankan bahwa mereka banyak menyia-nyiakan waktu yang seyogianya dimanfaatkan untuk bekerja. Saya sendiri memperoleh kesan yang mendalam, bahwa di kalangan petani tumbuh cita-cita untuk hidup santai pada suatu saat di kemudian hari, yaitu dengan jalan menyerahkan sawahnya kepada petani lain atas dasar sewa atau bagi hasil, sedangkan ia sendiri menganggur atau mengatur-atur saja. Ada juga yang mengisi waktunya dengan berjualan kecil-kecilan di muka rumahnya, atau bahkan pergi mendulang intan. Di komunitas pedesaan terdapat 3 orang responden remaja yang menyatakan pandangan ‘hidup untuk bersenang-senang’. Saya yakin mereka yang menganut nilai seperti ini ialah para remaja yang “menghayalkan” pada suatu saat akan berhasil dalam usaha mendulang intan dan dengan demikian menjadi kaya, lalu akan hidup santai.

Dari berbagai perbincangan atau diskusi dengan para antroplog, sosiolog, budayawan ataupun sejarawan diperoleh refleksi bahwa watak umum orang Banjar digambarkan kepada dua hal: (1) memiliki sosok budaya demokratik-egalitir seperti budaya demokratik dalam kesamaan dan menanggalkan segala sifat hierarkis/paternalistic; (2) memiliki budaya dagang seperti sifat egaliter, mandiri dan dinamis.

Persoalannya kini adalah haruskah kita menerima gambaran watak orang Banjar tersebut tanpa mengkritisinya? Seperti pada karakter memiliki sosok budaya demokratik-egalitir pada tataran empiris justru memunculkan ekses berupa stigma negative terhadap watak orang Banjar. Sikap kesetaraan, mandiri, dan dinamis, menjadikan orang Banjar dikesankan dan cenderung susah diatur, susah diajak disiplin, bahkan “manimpakul” atau “mailung larut” (tidak punya pendirian). Hal ini tercermin dari berbagai kasus yang menyangkut dalam pergaulan, sikap berlalu lintas, kurang peduli kebersihan lingkungan, dan sebagainya.

Beberapa tahun silam, seorang yang pernah menjabat Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan yang notabene adalah pendatang pernah mengeluhkan kondisi lalu lintas kota Banjarmasin yang sangat semrawut, karena masyarakatnya susah diajak disiplin berlalu lintas, saling serobot, menerobos lampu merah, parkir atau berhenti seenaknya, dan sebagainya. Lebih parah lagi, ketika lalu lintas bertambah padat timbul kebiasaan baru pada segelintir orang yang membuang bangkai binatang (tikus, ular, dan lain-lain) ke jalan raya agar terlindas roda kendaraan dan kering terpanggang sinar matahari.

Di bawah ini penulis mencoba memaparkan beberapa unsur filsafat hidup etnis Banjar, baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negative, yaitu:

Pertama, Baiman, yaitu setiap orang Banjar meyakini adanya Tuhan/Allah. Setiap individu etnis Banjar selalu disuruh untuk mempelajari tentang rukun iman, yaitu beriman kepada Allah, Malaikat, nabi dan Rasul, kitab-kitab Allah, hari kiamat dan qada dan qadar. Bila belum mempelajari tentang keimanan ini dianggap keberagamaan orang Banjar belum sempurna.

Orang Banjar meyakini sepenuhnya keenam rukun iman, dan melaksanakan dengan rajin kelima rukun Islam. Orang Banjar percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Allah-lah yang menciptakan alam dan seluruh isinya, termasuk makhluk-makhluk halus. Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui, menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada dan sanggup pula menjadikannya dari ada menjadi tidak ada. Sesuai dengan kemahatahuanNya ini, orang Banjar juga percaya bahwa Allah telah menentukan segala sesuatu sejak semula (azali).

Kedua, Bauntung (Orang Banjar harus punya keterampilan hidup). Jadi orang Banjar dari kecil sudah diajari keterampilan kejuruan, yaitu keterampilan yang dikaitkan dengan pekerjaan tertentu yang terdapat di lingkungannya. Hal ini bisa dilihat dari asal orang Banjar tersebut, misalnya orang Kelua punya keahlian menjahit, orang Amuntai punya keahlian membuat lemari, orang Alabio punya keahlian sebagai pedagang kain, orang Negara punya keahlian sebagai pedagang emas, membuat gerabah, membuat perahu/kapal, orang Margasari punya keahlian membuat anyaman, orang Martapura punya keahlian berdagang batu-batuan (emas, intan, jambrut, dan lain-lain).

Orang Banjar selalu diajari life skill atau keterampilan agar hidup bisa mandiri. Orang Banjar harus bekerja terus-menerus, karena setiap kali selesai suatu tugas, tugas lain telah menanti (Q.S. 94: 7). Tentu saja suatu tugas dapat dilaksanakan dengan baik bila dibekali pengetahuan yang cukup tentang tugas itu, dan dengan melaksanakan tugas secara baik dan penuh kesungguhan niscaya pengalaman dan pengetahuan akan makin bertambah, seperti yang disabdakan Rasulullah: “Siapa yang mengamalkan apa yang telah ia ketahui, niscaya Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya”. Memang dalam melaksanakan tugas dan melakukan kegiatan kita pernah, atau bahkan sering menemui kegagalan, tetapi kita akan terus berbuat. Kegagalan tidaklah menjadi alasan untuk berhenti berbuat dan berputus asa. “Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir” (Q.S. 12: 87).

Jadi, orang Banjar dalam hidupnya harus punya skill atau keahlian, agar hidupnya bisa eksis atau survive. Di samping itu, orang Banjar dalam mengarungi kehidupan harus berhati-hati dan optimis.

Ketiga, Batuah, arti berkah atau bermanfaat bagi kehidupan orang lain. Orang Banjar sebagai pemeluk agama Islam, tentu akan mengamalkan ajaran secara baik, yaitu agar hidupnya membawa kebaikan bagi orang lain. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Bahkan dalam Al-Qur’an surah at-Tin ayat 4, Allah berfirman: “Manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Selanjutnya Allah mengatakan: “bahwa manusia yang terbaik atau beruntung adalah yang beriman dan beramal shaleh” (al-Ashr: 3). Jadi orang Banjar dalam tatanan masa lalu maupun saat ini selalu diharapkan agar hidupnya berguna bagi dirinya, keluarga dan orang banyak. Agar bisa berguna bagi masyarakat, maka orang Banjar harus memiliki iman yang kuat, ilmu yang bermanfaat dan beramal kebajikan.

Keempat, Cangkal, yaitu ulet dan rajin dalam bekerja. Orang Banjar harus bekerja keras untuk menggapai cita-cita, sehingga di masa lalu mereka suka merantau. Jadi sifat cangkal dalam bekerja adalah salah satu identitas orang Banjar. Akan tetapi budaya madam (merantau) di kalangan anak muda Banjar sudah berkurang, bahkan anak remaja Banjar saat ini lebih suka tinggal di Banua saja. Orang Banjar dalam bekerja selalu berusaha untuk menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat. Hidup ini harus diisi dengan kerja keras, berdo’a dan beribadah kepada Allah SWT.

Agama Islam mengajarkan agar ummatnya selalu mengadakan keseimbangan antara persiapan untuk kehidupan di akhirat dan kehidupan di dunia. “Carilah pada apa yang telah diberikan Allah untuk akhirat, tetapi jangan lupakan bagian kamu di dunia” (Q.S. 28: 77). Tekanan selalu diberikan untuk kedua-duanya, atau dengan perkataan lain, nilai ‘hidup untuk bekerja’ dan nilai ‘hidup untuk beramal-ibadat’ harus selalu berkembang sama kuat. Di dalam Al Quran umat Islam diperintah untuk meninggalkan urusan duniawi jika panggilan untuk beribadat telah dikumandangkan, tetapi setelah ibadat selesai dikerjakan masing-masing disuruh untuk berusaha sungguh-sungguh mencari nafkah. Namun dalam pada itu tetap ditekankan agar ketika sibuk mencari nafkah itu selalu dalam keadaan ingat kepada Allah (Q.S. 62:9-10).

Jadi, orang Banjar harus bekerja keras dalam meraih yang dicita-citakannya. Dalam pandangan orang Banjar bekerja harus maksimal, berdo’a dan bertawakal kepada Allah SWT, sehingga hidupnya akan bahagia di dunia dan di akhirat.

Kelima, Baik tingkah laku, yaitu orang Banjar dalam pergaulan sehari—hari harus menunjukkan budi perkerti yang luhur agar dia disenangi orang lain. Dengan kata lain, orang Banjar harus pandai beradaptasi dengan lingkungan di mana dia bertempat tinggal, metodenya agar orang Banjar dalam pergaulan bisa efektif adalah dengan rajin melakukan ibadah di masjid atau langgar, ikut pengajian, mengajari anak-anak membaca Al Quran, dan lain-lain.

Keenam, Kompetitif individual, yaitu orang Banjar terkenal sebagai pekerja keras dalam menggapai cita-citanya tetapi bekerja secara sendiri-sendiri tidak secara kolektif, sehingga orang Banjar tidak mampu membangun suatu poros kekuatan ekonomi atau politik di pentas Nasional. Orang Banjar cenderung memiliki sifat individual dan ego yang tinggi sehingga susah diatur.

Watak dagang yang melekat pada masyarakat Banjar di satu sisi memberikan pengaruh yang positif bagi sikap dan perilaku mereka, terutama sikap kompetitif dalam upaya peningkatan kesejahteraan hidup, tetapi di sisi lain terkadang juga membawa pengaruh yang negatif seperti cenderung bersikap individualistik dan selalu berorientasi kepada perhitungan untung rugi dalam berbuat dan bertindak. Di dalam pelaksanaan ibadah keagamaan misalnya, ada sebagian anggota masyarakat yang cenderung bersikap seperti ini, sehingga pelaksanaan ibadah lebih dilihat dari aspek formalitas semata tanpa banyak memperhatikan nilai-nilai esensial yang terkandung di dalam ibadah tersebut. Misalnya, penunaian kewajiban zakat, di sini terutama zakat padi dan zakat dagang (zakat yang diperhitungkan dari nilai barang-barang yang diperniagakan), tetapi juga zakat fitrah. Sebagian masyarakat ada yang membayar zakat dengan cara hilah, yaitu menyerahkan zakatnya kepada salah seorang atau beberapa orang yang dianggap mustahiq kemudian si penerima menyerahkan kembali harta zakat itu kepada wajib zakat sebagai hibah untuk dibagikan kepada siapa saja yang diinginkan pihak muzakki. Dengan adanya penyerahan kepada mustahiq maka secara formal zakat sudah dibayar dan dengan dikembalikannya harta zakat itu kepada wajib zakat, ia bebas membagikannya kepada orang-orang yang dikehendakinya, termasuk kepada kerabat dekatnya sendiri.

Ketujuh, Materialis-pragmatis (karena pengaruh kehidupan modern para pemuda Banjar gaya hidup sudah mengarah ke materialis-pragmatis. Menurut Ahmad Juhaidi dalam Tesisnya yang berjudul: Pemikiran Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan (Studi Terhadap Artikel Pada Harian Banjarmasin Post dan Kalimantan Post Tahun 2000-2004), mengatakan bahwa pemikiran-pemikiran yang dominan muncul di Kalimantan Selatan menunjukkan lebih cenderung kepada tipologi pragmatis yaitu dari sudut pandang kepentingan praktis dalam kehidupan.

Gaya hidup orang Banjar saat ini dikarenakan pengaruh globalisasi dengan trend hidup yang materialis-pragmatis, sehingga pola hidup orang Banjar sangat konsumtif. Hal ini bisa dilihat dengan menjamurnya warung makan dari pinggir jalan sampai restoran yang selalu dipadati pengunjung untuk menikmati berbagai jenis makanan yang disajikan oleh warung atau restoran tersebut. Budaya orang Banjar adalah suka nongkrong di warung sebagai wadah untuk berkomunikasi antar sesama warga. Biasanya setiap warung dari pagi sampai malam selalu ramai pengunjung, bahkan segala informasi cepat menyebar dari mulut ke mulut dengan media warung.

Di sisi lain, gaya hidup anak muda Banjar dalam memilih kerja, lebih mengutamakan kerja kantoran yang berdasi atau karyawan supermarket dari pada pedagang kecil dengan modal sendiri dan mandiri. Menarik juga untuk dilihat untuk trend berkomunikasi orang Banjar saat ini, yaitu dengan gonta-ganti berbagai merek HP, bahkan setiap orang memiliki dua atau tiga buah HP, dan toko-toko penjual HP selalu dipenuhi para pembeli.

Kedelapan, sikap qana’ah dan pasrah. Orang Banjar selagi muda adalah pekerja keras untuk meraih cita-citanya, tapi kalau sudah berhasil dan sudah tua hidupnya santai untuk menikmati hidup dan beribadah kepada Allah untuk mengisi waktu. Biasanya orang Banjar dalam mengisi waktu tua atau masa pensiun adalah mengikuti pengajian-pengajian agama yang ada di sekitar tempat tinggalnya, menggaduh atau memelihara cucu dan lain-lain. Dengan demikian, kebanyakan orang Banjar di masa tuanya bekerja seadanya saja dan yang terpenting adalah beribadah kepada Allah.

Kesembilan, haram manyarah dan waja sampai kaputing, yaitu pantang menyarah dan tegar pendirian. Kata hikmah di atas diungkap oleh Pangeran Antasari dalam rangka memberi motivasi pasukannya atau pejuang untuk melawan pasukan penjajah Belanda. Orang Banjar mempunyai pendirian yang kuat untuk mempertahankan keyakinan atau yang diperjuangkan, sehingga tidak mudah goyang atau terombang-ambing oleh situasi dan kondisi yang dihadapi. Oleh karena itu, biasanya orang Banjar dalam memperjuangkan cita-citanya selalu berprinsip haram manyarah dan waja sampai kaputing. Bahkan dalam mempertahan harga diri orang Banjar selalu berprinsip dalas hangit kada manyarah, artinya berjuang sampai titis darah penghabisan tidak akan menyerah.

Prinsip hidup orang Banjar yang teguh di atas mulai luntur digusur oleh zaman, sehingga orang Banjar saat ini tidak punya pendirian yang kuat dan mudah terombang-ambing oleh arus kehidupan. Dulu orang Banjar berani tarung karena status dan kehormatan yang harus dibela, kini cenderung menghindari masalah dan tanggung jawab.

 

Sumber: Sahriansyah. Sejarah Kesultanan dan Budaya Banjar. IAIN Antasari Press Banjarmasin 2015.

  • Facebook
  • Share on X
  • LinkedIn
  • WhatsApp
  • Email
  • Copy Link
Category: Budaya

Navigasi pos

← Mitos Badingsanak (Badingsanak Banjar-Dayak)
Penyebab Pecahnya Perlawanan Rakyat Banjar dalam Menentang Kolonialisme Belanda Tahun 1859-1906 →

Categories

  • Budaya
  • Sastra
  • Sejarah

Sebuah upaya untuk mengenalkan sejarah dan melestarikan budaya Banjar kepada generasi di masa yang akan datang.

© 2026 Pustaka Banjar | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme