Skip to content

Pustaka Banjar

Pusat Informasi Sejarah dan Budaya Banjar

Menu
  • Beranda
  • Sejarah
  • Budaya
  • Adat
  • Sastra
  • Seni
Menu

Sejarah Nama Pulau Kalimantan

Posted on by

Setiap nama dipakai untuk menyebutkan nama benda, pulau, sungai, kota dan sebagainya pastilah mempunyai latar belakang sejarah. Namun, untuk menjajaki nama-nama tertentu dari benda-benda itu, ada yang mudah tetapi ada pula yang sulit bahkan hampir tidak bisa diteliti kembali. Para ahli ada yang mencoba dengan metode filologi, untuk menelusurinya kembali. Sulitnya, sekalipun kelihatannya logis, historis belum tentu benar. Sebabnya apakah umpamanya ada hubungan historis antara bom atom Hirosima dengan kue atom yang dijual di Anang di rombong di bawah jembatan Pasar Lama, walaupun sebutannya mengenai atom sama?

Sebelum tahun 1942, istilah Borneo adalah umum dalam peta-peta dunia yang menggambarkan bagian dari kepulauan Hindia Belanda. Nama ini berasal dari orang Portugis. Setelah mereka dikalahkan di Sunda Kelapa tahun 1527, mereka menjauhi laut Jawa. Kalau pergi ke Maluku mereka melalui Kalimantan Utara dan singgah di kerajaan Berunai. Kata Berunai ini dalam ejaan mereka menjadi Borneo, sebagai sebutan terhadap seluruh pulau ini. Peta-peta buatan Portugis yang dipakai di Eropa mengakibatkan nama ini selanjutnya populer sebagai Borneo untuk orang-orang dari Barat. Demikian di tahun 1522 Antonio Pigafetta (penjelajah asal Italia yang mengikuti pelayaran Portugis) menyebutkan Lawai dimusnahkan Raja Borneo (Berunai), karena hanya mau tunduk kepada raja Jawa saja. Dalam tulisannya Pigafetta menggunakan istilah Borneo untuk mengidentifikasikan Berunai.

Sebaliknya istilah Kalimantan agak sulit untuk dilacak kembali. Menurut istilah bahasa Dayak yang digunakan oleh Tjilik Riwut dalam bukunya “Kalimantan Memanggil”, menurut sastra asli Dayak Tetek Tanum disebut Pulau Goyang (Pulau Suci) atau Bagawan Bawi Lewu Telo yang kurang lebih artinya “negeri tempat tiga puteri”. Sedangkan kata Kalimantan sebagai pulau dengan sungai-sungai besar.

Dalam bahasa Dayak Sangen, kata “mantan” artinya “besar” sebagaimana dalam kalimat, “pamantan bayang-bayang” yang bermakna rusa jantan yang besar. Dalam kitab Negarakertagama tidak ada disinggung nama Kalimantan. Yang disebut hanya Nusa Tanjung Negara atau Pulau Hujung Tanah, selain itu ditemui juga sebutan Tanjungpuri, Tanjungpura, Baritu, Tabalung, tetapi sebutan ini hanya untuk menyebutkan bagian atau daerah tertentu saja bukan mengidentifikasikan sebagai sebutan seluruh pulau.

Profesor Poerbatjaraka pernah menggunakan metode filologi untuk meneliti asal nama Kalimantan. Menurut beliau berasal dari kata parmata, berubah menjadi perimata, menjadi karimata, kalimata, sampai akhirnya Kalimantan. Pulau Karimata saat ini masih ada, masuk dalam wilayah Kalimantan Barat. Jadi Kalimantan yang terkenal karena intannya dulu disebut juga Hiradwipa atau Ratnadwipa, selain disebut juga Pulau Salakadwipa dan Swarnadwipa. Profesor Poerbatjaraka menduga kata tanjung dulunya adalah juga sebutan untuk permata, Jadi Tanjungpura dalam Negarakertagama itu juga disebut permatapura dan sekarang yang masih tertinggal adalah nama kota Martapura.

Di daerah Kotawaringin terdapat suku Dayak Kelemantan atau Klemantan. Di pedalaman Kalimantan Barat suku ini disebut sebagai Dayak Darat. Nama ini sangat mendekati sekali pada kata Kalimantan dan apakah ada hubungannya perlu diteliti lebih dalam lagi. Suku Dayak Klemantan tidak memiliki pertalian sebagai bagian dari suatu rumpun, melainkan justru merupakan sebuah identitas etnis tersendiri yang memiliki berbagai macam cabang. Karena hal inilah maka Dayak Klemantan merupakan sebuah rumpun yang di antaranya terbagi menjadi Banyadu, Bidayuh, Mali, Ribun, Kanayatn, Salako dan masih banyak lagi.

Jadi apabila tahun 1857 Sultan Tamjidillah sebagai Raja Banjar menggunakan istilah Kalimantan dalam surat-surat resminya, tentunya tidak mustahil nama ini telah ada ratusan tahun sebelumnya diketahui dan dikenal rakyat di samping sebutan Banjar dan Kerajaan Banjar di Pulau Kalimantan.

Sumber: Banjarmasin. M. Idwar Saleh. Sejarah singkat mengenai bangkit dan berkembangnya kota Banjarmasin serta wilayah sekitarnya sampai dengan tahun 1950. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. DIrektorat Jenderal Kebudayaan Proyek Pengembangan Permuseuman Kalimantan Selatan Tahun 1981-1982.

  • Facebook
  • Share on X
  • LinkedIn
  • WhatsApp
  • Email
  • Copy Link
Category: Sejarah

Navigasi pos

← Sejarah Bahasa di Tanah Banjar
Sejarah Nama Banjarmasin →

Categories

  • Budaya
  • Sastra
  • Sejarah

Sebuah upaya untuk mengenalkan sejarah dan melestarikan budaya Banjar kepada generasi di masa yang akan datang.

© 2026 Pustaka Banjar | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme