Telah disebutkan bahwa Sultan Suriansyah diislamkan oleh seorang penghulu dari Demak. Peristiwa ini terjadi pada awal abad ke 16 yakni pada masa awal pemerintahannya. Pengislaman Sultan ini diikuti pula oleh para Patih dan rakyatnya.
Dalam Hikayat Banjar tidak disebutkan siapa nama penghulu dari Demak yang mengislamkan/melaksanakan penahbisan Raden Samudera sebagai raja Islam pertama di Kerajaan Banjar. Bapak Drs. Hasan Muarif Ambari dalam prasarannya yang berjudul “Catatan tentang masuk dan berkembangnya Islam di Kalimantan Selatan.” pada Seminar Sejarah Kalimantan Selatan di Banjarmasin tahun 1976 mengemukakan ada lima imam (penghulu) Demak selama kerajaan Demak berdiri, yaitu:
- Sunan Bonang atau Pangeran Bonang dari 1409 sampai 1406
- Makdum Pambayun dari 1506 hingga 1515
- Kiayi Pambayun dari 1515 sampai 1521
- Penghulu Rahmatullah dari 1512 hingga 1524
- Sunan Kudus 1524
Menurut beliau jika dilihat masa pemerintahan Raden Samudera atau berdirinya kerajaan Banjar maka ketika Imam terakhir itulah salah satu di antara mereka mungkin merupakan tokoh yang hadir untuk menahbiskan Raden Samudera. (Hasil Seminar Sejarah Kalimantan Selatan tahun 1976, Bandjarmasin, 1980, hal. 47)
Sementara itu dalam sejarah Banjar terkenal seorang penghulu bernama Khatib Dayyan. Bagi masyarakat Banjar Khatib Dayyan dikenal sebagai penyebar Islam pertama di Kalimantan Selatan. Ia juga dikatakan sebagai seorang yang berjasa dalam mengislamkan Raden Samudera dan rakyatnya. Makamnya terdapat di samping makam Sultan Suriansyah.
Dalam Hikayat Banjar disebutkan bahwa mantri Demak dan Penghulu Demak tersebut setelah mengislamkan Sultan Suriansyah mereka kembali ke Demak (Seri Penerbitan I Museum LM, Cit., hal. 97). Karena itu bukan tidak mungkin bahwa Khatib Dayyan adalah orang Banjar yang lebih banyak peranannya dalam menyebarkan Islam di Kerajaan Banjar sesudah mantri dan penghulu Demak kembali ke negeri mereka.
Di samping itu ada data-data yang menunjukkan bahwa Islam telah masuk dan dikenal orang Banjar jauh sebelum peristiwa dan datangnya penghulu dari Demak tersebut:
- Pada abad ke 15 ketika permintaan cengkih bertambah besar, maka tanaman ini yang dahulunya hanya merupakan hasil hutan kemudian ditanam di perkebunan-perkebunan. Usaha perkebunan cengkih yang mula-mula terdapat di Ternate, kemudian Seram dan Ambon. Para pedagang Gujarat yang beragama Islam, kemudian juga dengan para Pedagang Cina yang menurut cerita Jing Yai Sheng Lan tahun 1416 sudah banyak yang beragama Islam, dalam perjalanan itu mereka singgah di bandar-bandar Kalimantan Selatan dan Makasar. (M. Idwar Saleh, Sedjarah Bandjarmasin, KPPK-BPG, Bandung, 1958, hal.36)
- Bapak H. Abdul Muis dalam prasarannya yang berjudul “Masuk dan Tersebarnya Islam di Kalimantan Selatan” pada pra seminar Sejarah Kalimantan Selatan tahun 1973 mengemukakan bahwa R. Paku (Sunan Giri) putera Sayyid Iskak pada waktu berumur 23 tahun berlayar ke Pulau Kalimantan di Pelabuhan Banjar membawa barang dagangan dengan 3 buah kapal bersama dengan juragan Kamboja yang terkenal dengan nama Abu Hurairah (Raden Burereh). Sesampainya di pelabuhan Banjar datanglah penduduk berduyun-duyun membeli barang dagangannya, kepada fakir miskin barang-barang itu diberikannya dengan cuma-cuma. (Hasil Pra Seminar Sejarah Kalimantan Selatan Tahun 1973, dikutip dari sejarah Mesjid oleh H. Abu Bakar Aceh, hal. 198)
- Seperti telah disebutkan dalam rangka menghadapi Pangeran Tumenggung, Patih Masih telah menasihatkan kepada Pangeran Samudera untuk meminta bantuan kepada Kerajaan Islam Demak. Tindakan Patih Masih ini menunjukkan adanya simpati terhadap orang-orang Islam yang sedikit banyaknya sebagai penguasa Bandar telah mengetahui sebelumnya.
Data-data tentang adanya pedagang Gujarat dan pedagang Cina yang sudah beragama Islam yang dalam abad ke 15 dalam perjalanan mereka singgah di pelabuhan-pelabuhan Kalimantan Selatan demikian juga adanya berita tentang pedagang Islam dari Jawa (R. Paku) yang pernah singgah dan berdagang di pelabuhan Banjarmasin, adanya anjuran Patih Masih agar Raden Samudera meminta bantuan kepada Sultan Demak, serta adanya kelompok pedagang dari luar seperti orang Melayu, orang Cina, orang Bugis, orang Makasar, orang Jawa yang menyatakan membantu Raden Samudera ketika timbul perlawanan terhadap Pangeran Tumenggung, semua itu menunjukkan bahwa agama Islam sudah masuk ke Kalimantan Selatan melalui para pedagang jauh sebelum bantuan dan penghulu yang dikirimkan Sultan Demak sampai di Banjarmasin.
Sumber: Seminar Sejarah Nasional III Seksi Pasca Kuno. Perkembangan Islam di Kalimantan Selatan sampai Akhir Abad ke-18. Drs. H. Ramli Nawawi. 1981.