Pada tahun 1525 Patih Masih dengan para Patih lain meminta Raden Samudera untuk menjadi raja, mereka menyerbu bandar Muara Bahan dan memindahkan bandar beserta seluruh pedagangnya dan penduduknya ke desa Banjarmasih. Desa berubah menjadi bandar sebagai pusat kerajaan sementara kekuasaan baru.
Setelah terjadi pertempuran di Hujung Pulau Alalak yang berakhir dengan kekalahan, maka mulailah perang blokade. Orang-orang pedalaman tak bisa ke pantai, orang-orang pantai tak bisa mendapat barang makanan dari pedalaman. Patih Masih melihat bahwa hal ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut karena merugikan Banjar.
Patih Masih minta bantuan ke Demak, karena mengetahui Demak telah menggantikan Majapahit yang ditaklukkan tahun 1521 dan yang paling baru adalah penaklukan Banten 1524. Berita semacam ini di kalangan pelayar dan pedagang tersebar cepat. Waktu enam bulan sampai satu tahun dalam masa orang-orang memakai kapal layar, baru mendengar berita dan peristiwa di daerah pulau lain, adalah termasuk cepat. Pelayaran ditentukan pula oleh musim dan arah bertiupnya angin. Pengiriman-pengiriman pasukan dengan logistik yang sederhana, kadang-kadang harus menunggu selesainya pemotongan padi untuk bekal di jalan. Apalagi logistik untuk satu pasukan sebesar seribu orang.
Demak bersedia membantu Banjarmasih dengan syarat masuk Islam (dalam hal ini Islam diyakini telah lama masuk ke tanah Banjar, akan tetapi belum menjadi agama resmi negara). Hal itu disetujui oleh keraton Banjarmasih. Hikayat Banjar menyebutkan bahwa Patih Balit balik ke Demak dalam musim timur membawa persetujuan Raja Banjar. Persiapan-persiapan armada untuk mengangkut pasukan seribu orang dengan segala senjata dan perbekalan memerlukan persiapan berbulan-bulan. Pada musim barat tahun 1526 armada Demak baru bisa berangkat ke Banjarmasih.
Kebudayaan Jawa (Demak) pada umumnya, sekalipun telah dipengaruhi agama Islam, selama 4 abad sampai pada dewasa ini, masih mengenal bermacam-macam pantang, hari buruk dan hari baik untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan dan sebagainya. Apalagi di abad ke-16, di mana tradisi lama masih kokoh sekali, hal-hal serupa ini harus mendapat perhatian.
Menurut hitungan Jawa dan Tarikh Hijrah, tahun 1526 adalah tahun Hijrah 933 atau tahun Jim Awal 1445 (Jim Awal adalah nama tahun ketiga dalam sistem penanggalan per Sewindu Jawa Aboge). Bulan puasa tahun 1526 ini terkena pada bulan Juni dan Juli. Mengislamkan orang-orang “kafir” (orang-orang Banjar yang beragama Syiwa, Budha, atau Kaharingan ), adalah pekerjaan yang mulia dan berpahala. Mengislamkan sebuah kerajaan dengan ribuan rakyatnya tidak mungkin memakan waktu hanya satu dua hari.
Armada Demak ini datang menjelang bulan puasa, maka kegiatan-kegiatan dipusatkan kepada persiapan-persiapan pengislaman, sambil menunggu kedatangan para sekutu dari daerah-daerah Kalimantan Timur, Tengah, dan Barat. Karena soal mengislamkan raja dan rakyat kerajaannya berperang dan sebagainya termasuk hal-hal yang luar biasa, perlu dipilih hari-hari yang baik menurut primbon yang berlaku dalam hidup kebudayaan keraton Jawa ketika itu agar menjadi kebaikan dan kemaslahatan keraton dan pelaksana-pelaksananya.
Pemilihan dan penentuan hari-hari dihitung dengan teliti dan cermat, karena kalau salah bisa membahayakan orang atau negara sesuai mistik yang berlaku. Lagi pula dalam bulan puasa tidak boleh dijalankan kegiatan apa-apa kecuali ibadah yang ditentukan. Karena itu pengislaman besaran rakyat dan Raja Banjarmasih kalau dihitung menurut hari baiknya, kena pada hari Rabu Wage 4 Syawal 1444 Ehe (Ehe adalah nama tahun kedua dalam sistem penanggalan per Sewindu Jawa Aboge) atau jatuh pada Sabtu Pon 4 Syawal 932 Hijrah atau 23 Juli 1526 antara jam 08.30 – 13.00, tiga hari sesudah hari raya Idul Fitri.
Sementara itu para sekutu telah berdatangan dengan pasukan dengan senjatanya, namun tidak segera menyerbu ke pedalaman, karena beberapa hal :
- Pertama menunggu musim panen padi, agar cukup perbekalan pasukan ke pedalaman, dan padi di pedalaman Hulu Sungai juga sudah bisa diketam apabila telah dikuasai. Banjarmasih sendiri selalu kekurangan beras dan untuk menutupi kekurangan beras tersebut senantiasa mendatangkan dari Jawa.
- Menunggu puncak kemarau bulan Agustus, karena pasang kemarau ini bisa menghanyutkan kapal-kapal layar besar sampai Negara Daha. Pasang kemarau memudahkan anak-anak kapal mendayung kapal-kapal besarnya ke daerah pertahanan musuh di Parit Basar.
- Menunggu penetapan-penetapan hari bertempur yang menguntungkan. Karena itu persiapan terakhir diadakan pada 20 Selo 1444 Ehe ( 20 Zulkaidah 932 H ) atau 6 September 1526 yang merupakan persiapan pertempuran terakhir setelah hampir 40 hari bertempur. Pada tanggal 3 Besar 1444 Ehe, Senin Pon, 19 September 1526 atau 3 Zulhijjah 932 H, dengan berkibar megahnya Tatunggul Wulung Wanara Putih (bendera milik pasukan Banjar), Pangeran Samudera mendapatkan kemenangan terbesar dalam pertempuran, sehingga Arya Taranggana meminta agar kedua raja itu saja yang bertempur dan siapa yang menang itulah yang menjadi raja. Rakyat Negara Daha sudah terlalu banyak yang binasa. Oleh Pangeran Samudera dan pimpinan pasukan Demak, hal ini disetujui dan pada hari baik 8 Besar 1444 Ehe, Sabtu Pon (8 Zulhijjah 932 H) atau 24 September 1526 antara Jam 06.00- 10.30 pagi berlangsung lah pertempuran terakhir antara Pangeran Samudera dengan Pangeran Tumenggung, masing-masing berdiri di muka perahu talangkasan mereka. Pengaruh hari baik ternyata menguntungkan Pangeran Samudera. Begitu mendekat perahu tersebut, Pangeran Samudera menyatakan tak mau melawan pamannya yang dianggapnya ganti ayahnya yang sudah mati dan mempersilakan Pangeran Tumenggung untuk membunuhnya pula. Pangeran Tumenggung melemparkan senjatanya, memeluk Pangeran Samudera, mengangkatnya pada hari itu juga sebagai raja dengan menyerahkan pusaka-pusaka kerajaan kepada kemenakannya tersebut.
Dengan demikian maka tanggal 24 September 1526, hari Rabu adalah :
- Hari kemenangan Pangeran Samudera atau Sultan Suriansyah, cikal bakal raja-raja dinasti Kerajaan Banjar atas musuhnya.
- Hari diserahkannya regalia kerajaan Negara daha dan dijadikan Raja kepada Pangeran Samudera oleh Pangeran Tumenggung.
- Hari ketentuan Banjarmasih menjadi ibu kota seluruh kerajaan Banjar sebagai pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat penyiaran agama Islam dan mata rantai baru dalam menghadapi penetrasi Portugis di laut Jawa.
Akibat kemenangan mutlak pada hari Rabu tanggal24 September 1526 itu adalah:
- Pangeran Samudera menjadi raja dan menguasai seluruh pantai dan pedalaman Negara Dipa dan Negara Daha.
- Kekuasaan pemerintahan beralih dari pedalaman ke pantai ( ke Banjarmasih.
- Banjarmasih jadi ibu kota seluruh kerajaan yang baru di Kalimantan bagian Selatan.
- Penduduk ibu kota yang baru terdiri dari:
- Penduduk lama Banjar masih ketika masih desa.
- Pedagang-pedagang asing dan penduduk bandar Muara Bahan yang diangkut ke Banjarmasih di tahun 1525, untuk meningkatkan status desa Banjarmasih menjadi bandar dan pusat sementara kerajaan dan perlawanan terhadap Negara Daha.
- Penduduk dan para pegawai kerajaan Negara Daha yang diungsikan ke Banjarmasih dalam tahun 1526 tersebut.
- Banjarmasih menjadi pusat pengembangan agama Islam di Kalimantan bagian selatan, sebuah mata rantai baru dalam menghadapi penetrasi Portugis sesuai dengan politik Demak.
- Seluruh penduduk Negara Daha diangkut ke Banjarmasih, kecuali 1.000 orang yang tinggal menjadi rakyat Pangeran Tumenggung dan berdiam di daerah Alai. Negara Daha kosong dan hilang ditelan masa, dilupakan orang tempat pusatnya yang sebenarnya dan sungainya pun mati tertutup lumpur.
- Banjarmasih muncul menjadi ibu kota kerajaan Banjar dan untuk selanjutnya menjadi medan sejarah bagi macam-macam kekuasaan yang berganti susul menyusul sampai dewasa ini.
Sumber: Banjarmasin. M. Idwar Saleh. Sejarah singkat mengenai bangkit dan berkembangnya kota Banjarmasin serta wilayah sekitarnya sampai dengan tahun 1950. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. DIrektorat Jenderal Kebudayaan Proyek Pengembangan Permuseuman Kalimantan Selatan Tahun 1981-1982.