Skip to content

Pustaka Banjar

Pusat Informasi Sejarah dan Budaya Banjar

Menu
  • Beranda
  • Sejarah
  • Budaya
  • Adat
  • Sastra
  • Seni
Menu

Sejarah Perubahan Bentuk Bumi pada Tanah Banjar

Posted on by

Dengan bergeraknya lapisan-lapisan bumi, bertimbun dan meningginya lapisan-lapisan lumpur yang dibawa arus sungai ke muara, pembentukan delta-delta di muara dan pulau-pulau dalam sungai, pendangkalan aliran-aliran sungai yang ada, berubah aliran atau matinya sungai tersebut, menaiknya garis pantai laut dan sebagainya, maka sejak zaman prasejarah situasi suatu geomorfologi wilayah selalu mengalami perubahan-perubahan yang tiada henti-hentinya.

Apakah perubahan-perubahan yang tiada henti-hentinya itu? Tidak lain dari pertumbuhan dan berkembangnya terus menerus dengan cepat garis-garis pantai, atau sebaliknya pantai-pantai tersebut berangsur-angsur hilang dipukul gelombang. Atau selat-selat yang tadinya memisahkan pulau dengan daratan hilang, lalu semuanya jadi satu, jadi daratan. Aliran-aliran sungai berubah, yang dalam jadi dangkal, yang dangkal jadi daratan, sungai mati dan hilang atau pindah alirannya.

Kota-kota pelabuhan yang tadinya makmur dan ramai, kapal-kapal berderet berlabuh, padat dengan pedagang-pedagang asing, penduduk padat, pasarnya ramai, beberapa ratus tahun kemudian hanya tinggal bekas kampung yang sepi, terletak puluhan kilometer di pedalaman yang jauh dari pantai laut.

Mungkin orang Banjar sekarang tidak pernah terpikir, bahwa tanah dan pasir yang diinjak-injaknya itu dahulunya adalah teluk pantai laut yang dalam, tempat kapal-kapal asing dari segala penjuru datang berlabuh dan berdagang. Semua ini adalah akibat perubahan geomorfologi yang tidak bisa dilawan oleh kemampuan teknik akal manusia pada kurun zamannya.

Menurut van Bemmelen (Reinout Willem van Bemmelen ahli geologi Hindia Belanda), proses perubahan-perubahan geomorfologi di Indonesia ini terjadi di daerah pantai Semenanjung Malaya Barat Daya, pantai Sumatera Timur, pantai Jawa Utara dan termasuk pantai Kalimantan Selatan.

Dalam kongres ke-9 dari Pacific Science Congres di Bangkok tahun 1957, R. Soekmono sebagai Kepala Lembaga Purbakala Republik Indonesia dengan jelas menegaskan bahwa berdasarkan data-data geomorfologis, beberapa kurun zaman yang lalu Sriwijaya dan Jambi terletak di tepi laut. Dari data itu dapat dipastikan bahwa Palembang terletak di ujung tanjung dan Jambi terletak di tepi laut.

Dalam waktu kira-kira 400 tahun kemudian kedua kota ini berubah dari pelabuhan samudera menjadi pelabuhan sungai biasa. Sekalipun perubahan-perubahan geomorfologis ini terjadi dan mengubah segala yang dilewatinya, namun bekas-bekasnya masih dapat dijelajah kembali dari nama-nama kampung dan tradisi-tradisi rakyat.

Demikian pula keadaannya di Kalimantan di mana perubahan geomorfologis inipun masih jelas terlihat bekas-bekasnya. Hal ini nampak dengan nama yang dipakai dan ada hubungannya dengan laut atau air seperti kata Kuala, Muara atau Tumbang pada Kuala Kurun, Muara Teweh dan Tumbang Jangkang yang pada awalnya diyakini semua terletak di muara sungai dekat laut.

Dari Hulu Sungai sampai Banjarmasin wilayahnya menunjukkan pula akan asal mulanya dan hubungannya dengan laut, seperti Muara Tapus, Labuhan (pelabuhan) Amas, Pantai Hambawang, Lok (teluk) Sado di atas gunung, Tungkaran, Tanjung Rema (dalam kota Martapura), Karang Tengah (karangnya masih kelihatan) dan Kuala Sampit dekat laut Jawa. Antara Kuala Kurun di hulu dan Kuala Sampit dekat laut, terbentang sebuah daerah dataran yang ratusan kilometer luasnya.

Di antara sungai-sungai besar di Kalimantan Selatan, yang terbesar adalah sungai Baritu/Barito. Bagian hulunya umum disebut dengan nama Sungai Murung. Sumbernya terdapat di pegunungan yang letaknya tidak begitu jauh dari Long Deho di pinggir Sungai Mahakam di Kalimantan Timur.

Dari sumber mata air di utara ini, air mengalir ke selatan menuju Laut Jawa. Mulai dari Muara Teweh turun ke sungai Baritu, mengalir di atas sebuah daratan alluvial (jenis tanah yang terbentuk karena endapan) yang sangat luas. Memang luas sekali dataran rendah ini. Di sebelah timurnya dataran ini dipagari oleh pegunungan Meratus dan di sebelah barat oleh sebuah dataran tinggi perpanjangan dataran tinggi Madi yang terletak di selatan pegunungan Schwaner.

Di zaman prasejarah, dataran rendah alluvial yang meliputi sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dewasa ini adalah sebuah teluk besar atau laut yang dalam dan menjorok jauh ke pedalaman. Dalam jangka waktu ribuan tahun, dilarutkanlah jutaan kubik lumpur ke dalam teluk besar ini oleh arus sungai-sungai Rungan, Kahayan, Kapuas Murung, Baritu, Tabalung, Riam Kanan dan Riam Kiwa dan lain-lainnya, sehingga lambat laun terbentuklah akhirnya dataran rendah alluvial tersebut.

Gambaran bentuk Bumi Kalimantan saat masa prasejarah atau sebelum Masehi

Menjelang penanggalan Masehi teluk besar ini mulai mendangkal dan menyempit arah ke timur. Demikian juga penjorokkannya ke pedalaman sepanjang Pegunungan Meratus. Endapan dan pendangkalan ini menyisakan teluk-teluk kecil di antara datarannya. Teluk kecil inilah kemudian yang menjadi aliran-aliran sungai besar seperti Kahayan, Kapuas Murung dan Baritu.

 

Sumber: Banjarmasih. M. Idwar Saleh. Sejarah singkat mengenai bangkit dan berkembangnya kota Banjarmasin serta wilayah sekitarnya sampai dengan tahun 1950. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. DIrektorat Jenderal Kebudayaan Proyek Pengembangan Permuseuman Kalimantan Selatan Tahun 1981-1982.

  • Facebook
  • Share on X
  • LinkedIn
  • WhatsApp
  • Email
  • Copy Link
Category: Sejarah

Navigasi pos

← Sejarah Nama Banjarmasin
Peristiwa yang Mengiringi Berdirinya Kerajaan Banjar →

Categories

  • Budaya
  • Sastra
  • Sejarah

Sebuah upaya untuk mengenalkan sejarah dan melestarikan budaya Banjar kepada generasi di masa yang akan datang.

© 2026 Pustaka Banjar | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme