Apabila diteliti kembali Hikayat Banjar, maka jelas kata Banjar itu menunjukkan nama desa tertentu di sekitar Kuin Cerucuk sekarang. Desa Banjar ini disebut pula Banjarmasih karena tetuha desa itu bergelar Patih Masih. Banjarmasih adalah desa tempat orang Melayu berdiam, yang dalam bahasa Dayak Ngaju disebut Oloh Masih. Patih Masih adalah Patih Oloh Masih atau Patihnya orang Melayu bisa juga dikenali sebagai tetuha orang Melayu di Muara Sungai Kuin tersebut.
Banjarmasih dapat berarti Banjar-dekat pantai di mana patihnya yang memerintah semua orang Melayu-pantai yang terletak di Barito bagian hilir. Pemukiman ini identik dengan kampung Melayu yang berada di tengah desa-desa Oloh Ngaju.
Dalam tahap pertama Banjar di Muara Cerucuk ini adalah sebuah kampung Melayu atau Kampung Oloh Masih. Setelah Raden Samudera dijadikan Raja di Banjarmasin, tahap keduanya kampung Melayu ini berfungsi pula sebagai bandar, sehingga bernama lengkap “Bandar Masih”. Dan dalam tahap ketiga menjadi ibukota kerajaan yang baru. Maka di dalam Hikayat Banjar bisa kita temui istilah-istilah seperti Negeri Banjar, Orang Banjar, Raja Banjar, Raja di Banjar, Tanah Banjar.
Dalam Dagh-register Batavia (catatan harian yang terjadi di Batavia) pada abad ke-17, untuk menyebutkan Banjarmasin, Belanda kadang masih menggunakan sebutan Banjarmasih atau Banjarmassingh, yang diyakini sama berasal dari kata Banjarmasih.
Jadi perubahan kata dari Banjarmasih ke Banjarmasin ini baru terjadi dalam abad 17. Hal ini bersumber pada dua kemungkinan:
- Ejaan lidah asing dari Belanda yang mengubahnya dari Banjarmasih menjadi Banjarmassingh, menjadi Banjarmasin atau
- Pedagang-pedagang yang tiap tahun berlayar ke Banjarmasin lebih mengenalnya mula-mula dengan istilah Negeri Banjar, Kota Banjar, Raja Banjar, Orang Banjar, Tanah Banjar. Mereka pulang ke daerah asalnya dengan kapal layar di saat Sungai Barito dan Martapura airnya menjadi asin yang dalam bahasa Banjar, disebut “masin”. Setelah selama musim barat berlabuh di pelabuhan di Cerucuk, mereka pulang dari Negeri Banjar ketika airnya berubah masin atau pulang dari “Banjar yang masin airnya”.
Dari dua kemungkinan ini jelas yang berasal dari ucapan Belanda lah yang memiliki dasar dokumen yang kuat. Dalam tahun 1664 (kontrak tahun 1664) orang Belanda masih menyebutkan Banjarmasih seperti yang terlihat dalam kontrak yang antara lain berbunyi:
- Pangeran Ratu di Bandzermasch
- Pangeran di Bandzermasch
Pada abad ke-18, nama ini berubah menjadi sebutan Banjermassingh sebagai sebutan resmi dalam kontrak sampai dengan permulaan abad ke-19. Dalam abad ke-19, tahun 1845 digunakan kata Bandjermasin dan sesudah ini setiap surat-surat resmi Belanda menyebutkan sesuai logat Belanda mereka.
Di zaman Hindia Belanda, istilah Bandjermasin penggunaannya untuk menyebut nama Kota Bandjermasin sebagai ibukota dari “de Residentie der Zuider en ooster afdeling van Borneo (Residensi Afdeling Selatan dan Timur Borneo). Sebuah wilayah yang mencakup seluas Provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur sekarang. Jadi pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Kota Bandjermasin adalah ibukota dari wilayah seluas tiga provinsi di Kalimantan pada Indonesia sekarang.
Istilah Banjar kemudian menjadi berbagai macam istilah dalam wilayah Kalimantan Selatan sekarang, sedangkan nama Kota Banjarmasin hanya untuk menyebutkan wilayah sebatas kota itu saja. Untuk menyebut bahasa, negeri, kerajaan, raja, orang, dan budaya tetap digunakan istilah Banjar, yaitu bahasa Banjar, rumah Banjar, Raja Banjar, tanah Banjar, budaya Banjar. Tidak ditemukan atau bukan menjadi suatu sebutan misalnya budaya Banjarmasin atau bahasa Banjarmasin dan seterusnya.
Akan tetapi terlihat lebih jelas bahwa nama Banjarmasin berasal dari Banjarmasih yang dalam logat Belanda menjadi Bandzermasch dan Bandjermassingh sampai menjadi Bandjermasin, yang kemudian disesuaikan menurut ejaan Bahasa Indonesia menjadi Banjarmasin.
Sumber : Adat Istiadat Daerah Kalimantan Selatan. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tahun 1977/1978.