Skip to content

Pustaka Banjar

Sumber Informasi Sejarah dan Budaya Banjar

Menu
  • Beranda
  • Sejarah
  • Budaya
  • Adat
  • Sastra
  • Seni
  • Opini
Menu

Toponimi Kuno di Daerah Aliran Sungai Nagara Kalimantan Selatan

Posted on by

Ancient Settlements Toponymy around Nagara River Area, South Kalimantan

Imam Hindarto1) dan Ida Bagus Putu Prajna Yogi 2)

1)Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim dan Budaya Berkelanjutan, BRIN Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Indonesia
2)Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim dan Budaya Berkelanjutan, BRIN Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Indonesia
Pos-el: imambalar@gmail.com

PURBAWIDYA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Vol 13, No.2, November 2024: 267-286
DOI: https://doi.org/10.55981/purbawidya.2024.4894

 

Abstract

The Nagara river basin is an area for developing cultural history in South Kalimantan. The Hikayat Banjar and Tutur Candi tell a lot about historical events and places in this area. Archaeological evidence in this area also confirms the existence of cultural activities in the past. Through archaeo-toponymic studies, this article aims to understand the cultural history of this region. The problem in this article will discuss the meaning of place names and their relationship to the existence of archaeological sites. This research was carried out using a literature study. The data sources used in this study consist of the Hikayat Banjar, Tutur Candi, Archaeological Research Reports, and landform maps. The analysis used is the first archaeo-toponomic model. This analysis requires clarity of place names, locations, and their role in history. The analysis resulted in the interpretation that three place names played an important role in the course of cultural history in this area, namely Ujung Tanah, Candi, and Nagara. The third toponymy is spread along the Nagara River Basin and each of its meanings is related to events in the two literary works. Archaeological sites discovered in these places indicate cultural activities in the past.

Keywords: archeology; toponymy; Banjar Tales; Tutur Candi; Nagara river basin

 

Abstrak

Daerah aliran sungai (DAS) Nagara merupakan area berkembangnya sejarah budaya di Kalimantan Selatan. Hikayat Banjar dan Tutur Candi banyak menginformasikan peristiwa dan tempat-tempat bersejarah di kawasan ini. Bukti-bukti arkeologis di kawasan ini juga menguatkan adanya aktivitas budaya pada masa lalu. Melalui telaah arkeotoponimi, penelitian  ini bertujuan untuk memahami sejarah budaya kawasan ini. Permasalahan yang akan dibahas dalam artikel ini adalah arti nama tempat dan hubungannya dengan keberadaan situs arkeologi. Telaah ini dilakukan melalui studi pustaka. Sumber data yang digunakan dalam telaah ini terdiri atas Hikayat Banjar, Tutur Candi, Laporan Penelitian Arkeologis, dan peta rupa bumi. Analisis yang digunakan adalah arkeo-toponimi model pertama. Analisis ini mensyaratkan kejelasan nama tempat, lokasi, dan perannya dalam sejarah masa lalu. Analisis menghasilkan penafsiran bahwa terdapat tiga nama tempat yang berperan penting dalam perjalanan sejarah budaya di kawasan ini, yaitu Ujung Tanah, Candi, dan Nagara. Ketiga toponimi tersebut tersebar di DAS Nagara dan masing-masing artinya berkaitan dengan peristiwa-peristiwa dalam kedua karya sastra. Situs arkeologis yang ditemukan di tempat-tempat tersebut mengindikasikan adanya aktivitas budaya pada masa lampau.

Kata kunci: arkeologi; toponimi; Hikayat Banjar; Tutur Candi; DAS Nagara

 

PENDAHULUAN

Nama tempat merupakan kunci awal untuk membuka informasi arkeologi. Untuk memahami nama tempat, perlu dilakukan telaah toponimi. Telaah ini dalam arkeologi dilakukan untuk menelusuri perubahan lokasi administrasi di suatu wilayah. Selain itu, juga untuk menelusuri arti nama suatu tempat yang kemudian ditempatkan dalam kerangka perkembangan budaya di wilayah tersebut. Berkaitan dengan nama tempat yang arkais, telaah toponimi dalam arkeologi (arkeo-toponimi) mempunyai asumsi bahwa (a) nama tempat dapat dilacak dari bahasa-bahasa kuno, tetapi biasanya telah mengalami perubahan; dan (b) di kawasan tempat tersebut terdapat situs atau monumen bersejarah (Munandar 2016, 2-3). Telaah arkeo-toponimi telah berkontribusi dalam rekonstruksi sejarah budaya pada masa lampau. Hal ini dicontohkan pada telaah Wijaya et al. (2021, 105) tentang persilangan budaya di Ambon, dan Laksmi (2015, 215) tentang hubungan Jawa dan Bali kuno pada abad ke-9-11 masehi.

Daerah aliran sungai (DAS) Nagara merupakan arena perkembangan sejarah budaya dengan rentang waktu yang panjang. Kawasan ini berada di antara lereng Pegunungan Meratus dan Sungai Barito dan masuk dalam sub-DAS Barito. Penelitian arkeologis banyak dilakukan di kawasan ini. Beberapa penelitian yang terkait dengan permukiman kuna dilakukan oleh; Kusmartono (2000a, 2000b, 2006), Sulistyanto, (2000), Lukito (2002, 2009), Atmojo (2002), dan Sunarningsih (2006, 2008, 2011, 2012). Penelitian-penelitian yang telah dilakukan tersebut sebagian besar menekankan pada topik eksplorasi dan deskripsi baik aspek sebaran maupun penanggalan situs. Penelitian interpretatif, baru dilakukan pada Situs Candi Agung di hulu DAS Negara oleh Hindarto et al. (2023).

Tafsir sejarah budaya situs arkeologi di DAS Negara banyak merujuk pada Hikayat Banjar dan Tutur Candi, seperti Sulistyanto (2000), Kusmartono (2000a, 2006), Hindarto et al. (2023), Tjandrasasmita, (1967) dan Sadono dan Endriawan (2021). Selain memuat peristiwa sosial-budaya, kedua karya sastra tersebut juga menceritakan nama-nama tempat bersejarah. Beberapa nama tempat tersebut masih bisa dilacak keberadaannya hingga sekarang, seperti Ujung Tanah, Nagara, dan Candi. Telaah nama-nama tempat khususnya yang berbahasa Banjar pernah dilakukan oleh Komalasari dan Humaidi (2023). Kendati demikian, telaah tersebut belum menghubungkannya dengan keberadaan situs arkeologi. Terkait dengan hal tersebut, telaah ini akan membahas tafsir toponimi dalam kaitannya dengan keberadaan situs arkeologi. Tujuannya untuk menafsirkan sejarah permukiman di DAS Nagara melalui penelusuran arti toponim dan kaitannya dengan keberadaan situs arkeologi.

Telaah ini akan membahas dua permasalahan, yaitu (a) hubungan nama-nama tempat dalam Hikayat Banjar dan Tutur Candi yang masih dapat ditelusuri lokasinya dengan keberadaan situs-situs arkeologi di lokasi yang sama dan (b) arti dari nama-nama tempat tersebut. Fokus telaah pada tiga tempat yang dibahas dalam kedua karya sastra, yaitu Ujung Tanah, Nagara, dan Candi. Ketiga tempat tersebut telah menjadi landmark peristiwa-peristiwa penting dalam kedua karya sastra. Selain itu, ketiga tempat ini juga cukup jelas namanya, lokasi, dan perannya dalam kebudayaan sezaman.

 

METODE

Telaah ini dilakukan melalui studi pustaka dengan menggunakan data-data tekstual sebagai sumber informasi. Data tersebut berupa karya sastra, arsip, dan laporan penelitian arkeologi. Data karya sastra yang menjadi acuan adalah Hikayat Banjar yang diterbitkan oleh Johannes Jacobus Ras (1968) dan Tutur Candi yang ditranskripsi oleh Mohd. Saperi Kadir (1983). Data yang terkait dengan arsip, terdiri atas Kart van Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo (1820-1898) skala 1:600.000 dan Kaart der residentie Zuider- en Ooster-afdeeling van Borneo (1899) skala 1:1.500.000 koleksi http://maps.library.leiden.edu/ dan peta AMS US Army skala 1:250.000 tahun 1962. Terakhir, laporan penelitian arkeologi digunakan sebagai acuan memahami karakteristik dan sebaran situs di kawasan Lembah Sungai Nagara.

Analisis diawali dengan menelisik dan memetakan situs-situs arkeologi dan nama-nama tempat dalam karya sastra yang berada di DAS Nagara. Langkah berikutnya menyusun daftar nama tempat dengan situs arkeologi di dalamnya. Melalui daftar tersebut, nama-nama tempat akan dianalisis berdasarkan aspek kekunoannya dengan mengidentifikasi penjelasan tentang nama, lokasi, dan perannya dalam kebudayaan sezaman. Ketiga aspek tersebut akan dianalisis dengan menggunakan model dalam analisis arkeo-toponimi. Pada model ini akan dianalisis arti nama tempat, lokasi, dan perannya dalam sejarah pada masa lalu (Munandar 2016, 5-6).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN
Situs-Situs Arkeologi di Daerah Aliran Sungai Nagara

Penelitian arkeologi di DAS Sungai Nagara telah berhasil mengungkap sebaran situs arkeologi. Situs-situs tersebut tersebar dalam tiga bagian sungai, yaitu bagian hulu, tengah, dan hilir. Dalam masyarakat Banjar, ketiga bagian sungai tersebut menjadi identitas komunitas yang mendiami suatu lokasi, seperti pahuluan (hulu), batang banyu (tengah), kuala (hilir/muara) (Daud, 1997). Bagian hulu Sungai Nagara merupakan daerah pertemuan antara Sungai Balangan dan Tabalong. Di bagian tengah, Sungai Nagara mendapatkan suplai aliran dari Sungai Batang Alai. Sungai Nagara terus mengalir hingga bertemu dengan Sungai Tapin di Margasari. Aliran kedua sungai tersebut disebut dengan Sungai Bahan (disebut juga Sungai Nagara) yang kemudian bermuara di Sungai Barito.

Gambar 1 Peta sebaran situs di DAS Negara. (Sumber: Dokumentasi Balai Arkeologi Kalimantan Selatan. 2010)

 

a. Bagian Hulu

Di kawasan hulu Sungai Nagara terdapat Situs Candi Agung. Situs ini berada di Desa Sungai Malang, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Koordinat astronomi Situs Candi Agung Berada pada 2º24’50” lintang selatan dan 115º14’54” bujur timur. Pada 1967 ekskavasi dilakukan pada situs ini untuk mengetahui keberadaan struktur bata. Hasil ekskavasi tersebut telah berhasil menampakkan fondasi bangunan berbahan bata berbentuk persegi empat. Struktur bangunan yang tampak terdiri atas teras (21,20 x 21,20 m), dinding keliling dengan tebal 1,10 m, kamar bangunan (7 x 7 m), dan sumuran (Tjandrasasmita 1967, 11).

Kronologi budaya pada Situs Candi Agung telah dilakukan melalui analisis radiocarbon dating. Sampel yang digunakan adalah arang dan kayu ulin yang ditemukan melalui ekskavasi arkeologi. Analisis radiocarbon dating dengan sampel arang menghasilkan kronologi tahun absolut 110,63+/-50,05 sebelum masehi atau 242-226 sebelum masehi dengan tingkat kepercayaan 95,4%. Penanggalan dari sampel kayu ulin menghasilkan angka tahun 762,55+/-51,21 masehi atau berkisar tahun 708-742 masehi dengan tingkat kepercayaan 95,4%. Berdasarkan kedua penanggalan tersebut, terdapat indikasi dua periode budaya pada Situs Candi Agung (Kusmartono dan Widianto 1998, 19-22).

Situs Candi Agung terdiri atas beberapa bangunan dengan berbagai fungsinya. Ekskavasi yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Banjarmasin pada 2005 dan 2006 telah menemukan tonggak-tonggak kayu ulin dengan berbagai ukuran dan teknik pemasangannya. Berdasarkan variasi ukuran dan jumlah tonggak kayu ulin tersebut kemungkinan terdapat bangunan dengan luas yang berbeda. Kendati demikian, belum dapat diketahui masing-masing fungsi dari bangunan yang menyertai Candi Agung tersebut (Lukito 2009, 30).

b. Bagian Tengah

Bagian tengah Sungai Nagara berada di daerah Nagara yang merupakan sebutan untuk wilayah Kecamatan Daha (Utara dan Selatan). Beberapa situs arkeologi yang telah diinventarisasi, antara lain Situs Tanjung Selor, Situs Bajayau, dan Situs Penggandingan. Artefak arkeologi yang ditemukan, antara lain manik-manik, fragmen patung kayu, fragmen struktur perahu, fragmen keramik, struktur bata, dan tonggak-tonggak kayu ulin (Sunarningsih, 2008, 2013).

c. Bagian Hilir

Penelitian arkeologis di bagian ini dilakukan dengan ekskavasi di Situs Pematang Bata dan Candi Laras. Hasil temuan berupa struktur tonggak kayu ulin, fragmen bata, fragmen keramik, manik-manik, dan fragmen gerabah. Selain itu, ditemukan pula temuan lepas, terdiri atas arca babi, arca Buddha Dipangkara, batu bertulis, cincin, fragmen lingga, dan artefak wadah. Penanggalan absolut telah dilakukan di Situs Candi Laras yang menghasilkan angka tahun 648+/- 78 Before Present. Setelah dilakukan koreksi lingkaran pohon (tree ring correction), angka tahun yang muncul dengan tingkat kepercayaan 95,4 % adalah 1240-1426 masehi (Sulistyanto 2000, 12-38).

 

Arti Nama Tempat dan Hubungannya dengan Situs Arkeologi

Hikayat Banjar dan Tutur Candi memuat banyak toponim yang tersebar baik di DAS Nagara maupun di kawasan lainnya. Toponim-toponim tersebut terkait dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Kerajaan Nagara-Dipa, Nagara-Daha, hingga awal Kesultanan Banjar (Ras, 1968). Telaah ini akan mengulas toponim-toponim yang mempunyai hubungan dengan keberadaan situs permukiman. Toponim yang ditelaah adalah Ujung Tanah, Candi, dan Nagara. Ketiga toponim tersebut mempunyai keterkaitan dengan peristiwa sejarah pada masa Kerajaan Nagara-Dipa.

a. Ujung Tanah (Hujung Tanah: Bahasa Banjar)

Ujung Tanah merupakan tempat yang menjadi kunci untuk memahami lokasi awal peristiwa sejarah Kerajaan Nagara-Dipa di DAS Nagara. Keletakan Ujung Tanah telah menjadi perbincangan para ahli sejarah kuno. Yusliani Noor merujuk pada Ras (1968) telah menyamakan lokasi antara Ujung Tanah dengan Tanjung. Menurutnya, Tanjung (berjarak kurang lebih 240 km ke arah utara dari Banjarmasin) merupakan Tanjungpura kuno yang disebut dalam Nagarakrtagama (Noor 2016, 79-82).

Menilik lebih jauh pendapat Ras, dikatakan bahwa “Whether or not this name Tandjung is reminiscent of ancient Tanjung Pura we dare not say”. Kendati demikian, Ras berpendapat, Tanjungpura harus dicari di pedalaman Banjarmasin. Untuk membuktikan hal tersebut, Ras mengulas geomorfologi garis pantai pesisir tenggara Kalimantan. Pada awalnya, pesisir Kalimantan Tenggara merupakan teluk yang berangsur-angsur mengalami tumpukan sedimentasi karena aliran Sungai Rungan, Kahayan, Kapuas Murung, Barito, Nagara, dan Martapura. Pada awal masehi, proses sedimentasi ini telah menyisakan teluk yang luas dan dangkal. Pada sisi timurnya terdapat Pegunungan Meratus yang menjorok ke laut sebagai tanjung yang besar. Karakteristik bentuk pantai Kalimantan bagian tenggara ini yang kemungkinan disebut Pulau Nusa Tanjung Nagara (Ras 1968, 193-195).

Hikayat Banjar menceritakan Ujung Tanah merupakan tempat pertama kali Ampu Jatmika melabuhkan kapal dan mendirikan permukimannya. Berikut cuplikan dari Hikayat Banjar.

………… Maka Ampu Djatmaka itu datang ia pada laut Hudjung Tanah Namanya itu maka si Prabajaksa barlabuh itu (Ras 1968, 234).

Terjemahan:

Maka Ampu Jatmaka datang di laut Ujung Tanah namanya maka (kapal) Prabayaksa berlabuh di situ (terjemahan bebas oleh penulis).  

……….. Hai Aria Magatsari dan Tumanggung Tatah Djiwa, di-Hudjung tanah inilah jang akan tampatku barbuat nagri ……(Ras 1968, 236).

Terjemahan:

………Hai Aria Magatsari dan Tumenggung Tatah Diiwa, di Ujung Tanah inilah yang akan tempatku membuat negeri……….(terjemahan bebas oleh penulis)

 

Ujung Tanah dalam Hikayat Banjar dapat disamakan dengan Marampiau dalam Tutur Candi. Berikut kutipan dalam Tutur Candi.

Maka sampailah kapada pulau Banjar itu namanya itu, maka ia masukkan sahalat Banjar itu, maka ditabuknya itu tanah lalu diciumnya tanah itu tiada jua saparti bunyinya suara itu. Maka ia barmudik pula ka hulu air pula, sampailah ka Bakumpai, tiada jua bartamu yang dikahandakinya itu. Maka ia barmudik pula simpang yang kanan, maka ia datang ka Marampiau namanya. Maka barhantilah pula ia di situ. Maka ditabuknyalah itu tanah dan saparti dicaluknya, maka itupun ada panas tatapi tiada barbau apa-apa. Maka Ampu Jatmika, “ayu sagala sahabatku, kadang kadianku dan handai taulanku, disinilah kita barbuat nagri”(Kadir 1983, 6).

Terjemahan:

Maka sampailah di Pulau Banjar namanya, maka masuk ke perairan Banjar, maka digalinya tanah itu kemudian diciumnya tanah itu tidak ada yang seperti suara itu. Maka ia berangkat ke hulu sungai, sampailah di bakumpai, tidak juga bertemu yang dikehendakinya. Maka ia berangkat ke simpang yang kanan maka ia sampai di Marampiau. Maka berhentilah ia di situ. Maka digalilah tanah itu dan seperti dicaluknua, maka (tanah) itu panas tetapi tidak berbau apa-apa. Maka Ampu Jatmika, ‘ayo semua sahabatku, disinilah kita membuat negeri” (terjemahan bebas oleh penulis).

Gambar 2. Gambaran alur perjalanan Ampu Jatmaka (Sumber: Diolah Penulis dari Hikayat Banjar (Ras, 1968) dan Tutur Candi (Kadir, 1983)

Terdapat perbedaan alur cerita perjalanan yang ditulis dalam Hikayat Banjar dengan Tutur Candi. Kedua karya sastra menceritakan perjalanan Ampu Jatmaka sama-sama dimulai dari Kaling. Tempat terakhir atau berlabuh dan mendirikan diceritakan dalam Hikayat Banjar di Ujung Tanah, sedangkan Tutur Candi di Marampiau. Sekarang ini, Marampiau dikenal sebagai nama desa di Kecamatan Candi Laras, Kabupaten Tapin. Peta yang dibuat W.A. van Rees tahun 1820-1898, menempatkan lokasi Marampiau berada di persimpangan antara Sungai Nagara dengan Sungai Tapin. Peta keluaran tahun 1899 menyebutkan Marampiau sebagai nama sungai di daerah Margasari. Di peta Army Map Service tahun 1962 di sekitar Marampiau terdapat toponimi Puting Banua. Dalam Bahasa Banjar, puting menunjuk pada kata ‘ujung’ (Hapip 1993, 145), sedangkan banua berarti ‘kampung halaman’ (Hapip 1993, 13).

Ujung Tanah mempunyai persamaan arti dengan tanjung atau bentang lahan yang menjorok ke laut. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (online), salah satu arti dari tanjung adalah ‘tanah (ujung) atau pegunungan yang menganjur ke laut (ke danau)’. Bagi masyarakat Banjar, istilah laut tidak hanya merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia yang berarti ‘kumpulan air asin (dalam jumlah yang banyak dan luas) yang menggenangi dan membagi daratan atas benua atau pulau’. Laut dalam bahasa Banjar diartikan sebagai lawan dari darat (misalnya pinggir sungai), muara. Sebagai contoh pada kalimat ka laut yang berarti ‘ke laut’; ke arah pinggir sungai atau ke muara (Hapip 1993, 106).

Dalam bahasa Banjar, tanjung bersinonim dengan murung ‘bagian sungai yang menjorok ke tengah, bagian kelokan sungai yang berlawanan dengan teluk’ (Hapip 1993, 123). Berdasarkan uraian tersebut, tanjung tidak hanya berarti tanah yang menjorok ke laut, tetapi bisa juga ke arah sungai. Hal ini biasa dijumpai di muara, percabangan sungai, atau bagian meander sungai. Masyarakat di daerah Margasari menyebut pertemuan antara

Sungai Nagara dan Tapin sebagai Hujung Murung atau Ujung Tanjung (Sjarifuddin 1987, 28). Penyebutan tersebut sama artinya dengan toponim puting benua pada Peta AMS tahun 1962. Lokasinya pun berada tidak jauh dari Marampiau atau persimpangan Sungai Nagara dan Tapin (di sekitar Desa Pabaungan Hilir, Kecamatan Candi Laras Selatan). Menilik dari aspek semantik dan keletakkannya, maka Puting Banua, Hujung Murung atau Ujung Tanjung, dan Hujung Tanah merupakan toponim yang sama. Lokasi toponim ini berada daerah di persimpangan Sungai Nagara dan Tapin atau dikenal dengan daerah Margasari.

Ujung Tanah merupakan lokasi Ampu Jatmaka mendirikan permukimannya sekaligus mendeklarasikan Kerajaan Nagara-Dipa (Ras 1968, 236). Sebagai tempat bersejarah, di lokasi ini banyak ditemukan artefak maupun situs arkeologis. Tim survei dari Museum Negeri Lambung Mangkurat pada 1987 melaporkan bahwa di kawasan Margasari terdapat beberapa situs arkeologi, antara lain (a) Candi Laras; (b) Pematang Bata; (c) Pematang Panyaungan; (d) Pematang Hanau; (e) Kubur Ganal atau Kubur Panjang; (f) sisa dinding atau pagar dari kayu bulat; (g) saka atau terusan sungai yang digali (Sjarifuddin 1987, 17-31). Laporan kunjungan Muller (1857, 164-165) ke Margasari juga mencatat beberapa tinggalan arkeologis. Dalam laporannya tersebut disebutkan bahwa daerah ini merupakan bekas permukiman orang Keling.

Situs-situs arkeologi di daerah ini belum memberi petunjuk yang signifikan kaitannya dengan toponim Ujung Tanah dalam Kerajaan Nagara-Dipa. Hal ini karena kurangnya data tertulis yang sezaman dengan situs-situs tersebut. Kendati demikian, situs arkeologi di daerah ini telah menjadi bukti adanya permukiman kuno yang berkembang di hulu DAS Nagara.

b. candi

Toponim candi disebutkan beberapa kali dalam Hikayat Banjar dan Tutur Candi. Hikayat Banjar menyebutkan tentang candi dengan keterangan aktivitas di dalamnya, tetapi tidak menyebutkan nama candi. Penyebutan nama candi hanya dijumpai dalam Tutur Candi, yaitu Candi Laras dan Candi Agung. Berikut keterangan terkait candi dalam

Hikayat Banjar dan Tutur Candi.

Maka sagala orang itu disuruh Aria Magatsari dan Tumanggung Tatah Djiwa bartabas tampat nagri dan maangkut batu akan tjandi itu. Djadi sudalah tjandi itu maka barbuat astana akan tampat Ampu Djatmaka itu (Ras 1968, 236).

Terjemahan:

Maka segala orang itu disuruh Aria Magatsari dan Tumenggung Tatah Djiwa membersihkan tempat negeri dan mengangkut batu untuk candi. Candi itu sudah jadi maka membuat istana untuk tempat Ampu Jatmaka (terjemahan bebas oleh penulis).

Satalah babarapa lamanya Ampujamika diam di nagri itu, maka ia manyuruh barbuat candi. Maka sagala ra’yatnya itupun barulah candilah tarlalu basar lagi dangan tingginya tarlalu indah-indah. Maka dinamainya nagri itu Candi Laras, itulah namanya (Kadir 1983, 7).

Terjemahan:

Setelah beberapa lama Ampu jatmika berdiam di negeri itu, makai a menyuruh membuat candi. Maka semua rakyatnyapun membuat candi yang besar, tinggi dan sangat indah. Maka dinamainya candi itu Candi Laras, itulah namanya (terjemahan bebas oleh penulis).

Satalah babarapa lamanya ia diam itu di nagrinya itu, maka ia manyuruh barulah gunung pula. Maka gunung itupun jadilah tarlalu basar dangan tangganya ka puncaknya itu daripada Kumala Naga. Itulah caritanya itu tarlalu basar adalah saparti tanglung rupanya barcahaya, maka dinamainyalah itu gunung Candi Agung Namanya (Kadir 1983, 10).

Terjemahan:

Setelah beberapa lama ia diam di negerinya, makai a menyuruh membuat gunung. Maka gunung itu jadi dengan sangat besar dengan tangga ke puncaknya dari kumala naga. Itulah ceritanya sangat besar seperti lampion rupanya bercahaya, maka dinamainya dengan gunung Candi Agung namanya (terjemahan bebas oleh penulis).

 

Terdapat perbedaan keterangan terkait candi dalam Hikayat Banjar dan Tutur Candi. Hikayat Banjar tidak menyebutkan nama dan jumlah candi yang telah dibangun, sedangkan Tutur Candi menyebutkan ada dua buah candi, yaitu Candi Laras dan Gunung Candi Agung. Tutur Candi juga menceritakan lebih rinci tentang pembangunan candi oleh Ampu Jatmika. Pertama, dibangun di Marampiau yang bernama Candi Laras. Kedua, di negeri Kuripan yang bernama Gunung Candi Agung.

Tutur Candi menceritakan Candi Laras merupakan candi yang didirikan oleh Ampu Jatmika setelah berlabuh di Ujung Tanah atau daerah Marampiau. Candi ini dibangun di lahan yang kondisi tanahnya panas dan tidak berbau. Padahal dalam mimpinya, Ampu Jatmika disyaratkan untuk mendapatkan tempat yang tanahnya panas dan berbau harum. Sehubungan dengan hal tersebut, Ampu Jamika kemudian akan memindahkan permukiman dan mendirikan candi lagi pada lokasi yang tepat. Dalam masa tidurnya Ampu Jatmika bermimpi dan terdengar suara:

“Hai Ampujatmika, kalau angkau handak jadi kabasaran, carilah itu tanah yang panas dan lagi yang harum baunya. Di sanalah angkau bardiam barulih nagri itu. Ini pasanku kapada Ampujatmika dan sakalian nagri yang lain-lainpun takutlah padamu dan pada anak cucumu. Maka manjadi raja basar, kalau ada dapat itu tanah yang panas dan harum itu. Carilah ulihmu di balakang ini nagri Kuripan itu. Di situlah adanya itu tanah yang panas dan lagi yang harum”(Kadir 1983, 8).

Terjemahan:

“Hai Ampujatmika, kalau engkau ingin menjadi besar, carilah tanah yang panas dan harum baunya. Di sanalah engkau tinggal di negeri itu. Ini pesanku kepada Ampujamika dan semua penduduk negeri yang lainnya juga taku padamu dan pada anak cucumu. Maka menjadi raja besar, kalua mendapat tanah itu yang panas dan harum. Carilah olehmu di belakang negeri Kuripan. Di situlah adanya tanah yang panas dan harum (terjemahan bebas oleh penulis).

 

Candi kedua yang dibangun oleh Ampu Jatmika di Nagri Kuripan dikenal dengan Gunung Candi Agung. Pada masa selanjutnya, Candi Agung bukan saja nama bangunan. Candi Agung juga dikenal sebagai Nagri Candi Agung atau pusat wilayah kekuasaan dari Ampu Jatmika. Berikut keterangan dalam Tutur Candi.

Maka jadilah basar itu nagri Candi Agung itu. Maka tarmasyurlah kapada itu sakalian itu nagri yang jauh-jauh dan pada Ampujatmika itu dan tiga orang ia baranak itu tarlalu kaya lagi dangan sabar murahan (Kadir 1983, 12).

Terjemahan:

Maka jadilah besar negeri Candi Agung itu. Maka terkenallah kepada semua negeri yang jauh-jauh itu dan Ampujamika dan tiga orang anaknya sangat kaya dan sabar (terjemahan bebas oleh penulis).

 

Hasil penelitian arkeologi di DAS Nagara telah menemukan dua struktur bata, yaitu di Margasari (bagian hilir) dan Amuntai (bagian hulu). Situs Candi Laras terletak di Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin atau pada koordinat 2o 52’ 22,6” LS dan 114o 56’ 30,7” BT. Penggunaan toponimi Candi Laras sebagai nama desa ataupun kecamatan belum ditemukan pada peta tahun 1820-1898 skala 1:600.000 yang dibuat oleh W.A. van Rees. Bahkan, peta AMS US Army skala 1:250.000 yang dikompilasi pada tahun 1962 juga belum mencantumkan toponim Candi Laras. Kemunculan toponim Candi Laras sebagai nama wilayah administrasi kemungkinan beriringan dengan pembentukan Kabupaten Tapin pada 1965.

Kepurbakalaan di daerah ini pernah diulas oleh Solomon Muler pada 1857. Ulasan Muller mengacu pada laporan von Henrici, yang melakukan pengamatan langsung pada objek purbakala di Margasari. Dalam catatannya, Muller menyebutkan adanya toponim candi tanpa menyebutkan nama candi tersebut. Di sekitar candi tersebut terdapat tanah tinggi atau gunung, perhiasan batu dan emas, batu babi, manik-manik, dan bata (Muller 1857, 164-165).

Artefak-artefak yang diulas oleh Muller mempunyai kesamaan dengan artefak yang ditemukan di kawasan situs Candi Laras. Dengan demikian, Tanah tinggi atau gunung kemungkinan adalah lokasi Candi Laras. Sjarifuddin (1987, 17-19) menjelaskan lokasi candi berbentuk bujur sangkar berundak tiga. Undakan bagian bawah mempunyai panjang 105 meter. Bagian kedua (tengah) panjang sisinya 70 meter, dan bagian puncak berupa kolam berbentuk lingkaran. Batu babi, bata, dan beberapa perhiasan hasil temuan penduduk Margasari sekarang telah menjadi koleksi Museum Lambung Mangkurat.

Penamaan Situs Candi Laras di Margasari kemungkinan mengacu pada Tutur Candi. Dalam bahasa Banjar dialek hulu sungai ditemukan istilah lara atau balara yang berarti ‘berhamburan’ (Mugeni et.al 2008, 137). Istilah ini juga terdapat dalam kamus Bahasa Jawa Kuno yang berarti ‘busur’. Arti lainnya didapatkan dari kata lumaras atau alarasan yang berarti ‘pergi segera (dan bersembunyi), pergi mengembara’. Terdapat pula kata raras yang merujuk pada pengertian menunjuk baik emosi cinta, pengalaman keindahan, kesedihan, maupun sifat objek yang membangkitkan; (a) pesona, kecantikan, keindahan, daya pikat, kesayangan; dan (b) emosi cinta, rasa sakit karena cinta, rasa erotik, emosi yang ditimbulkan keindahan, emosi karena pesona (kagum) atau takut; sering dengan hati (Zoetmulder, 2004, 574).

Berkaitan dengan konteks alur cerita dalam Tutur Candi, laras dapat diartikan ‘pergi segera atau pergi mengembara’. Dalam bahasa Banjar dialek hulu sungai diartikan sebagai ‘berhamburan’. Pengertian tersebut tampaknya mempunyai kaitan dengan peristiwa yang dituturkan dalam Tutur Candi yang menceritakan kepergian Ampu Jatmika dari negeri Kaling. Setelah melakukan perjalanan, Ampu Jatmika sampai di Ujung Tanah. Di tempat itulah Beliau mendirikan permukiman dan Candi Laras. Berikut kutipan dalam Tutur Candi.

Maka kata Ampujatmika pada istrinya, “aduhai adinda, bagaimanakah bicara adinda jika kakanda ini lari di dalam ini nagri.” Maka kata Dewi Sakar Gading, “kamanakamana kakanda, ka barat, ka timur kakanda, tiada diniat handak barpisah lawan kakanda, karana adinda tiada kuasa barcarai dangan kakanda” (Kadir 1983, 1-2).

Terjemahan:

Maka kata Ampujatmika pada istrinya, “aduhai adinda, bagaimanakan bicara adinda jika kakanda ini lari dari dalam negeri ini.” Maka kata Dewi Sakar Gading, “ke mana-mana kakanda, ke barat, ke timur, kakanda, tidak ada niat mau berpisah dengan kakanda, karena adinda tidak kuasa berpisah dengan kakanda” (Terjemahan bebas oleh penulis).

Setelah bertempat tinggal di Ujung Tanah, Ampu Jatmika kemudian pindah ke negeri Kuripan. Di tempat itu, Beliau mendirikan Gunung Candi Agung atau lebih dikenal dengan Candi Agung. Penamaan Situs Candi Agung sesuai dengan cerita dalam Tutur Candi. Istilah agung dalam bahasa Banjar menunjuk pada kata benda berupa gong (alat musik perkusi) (Hapip 1993, 1). Istilah agung juga dijumpai dalam Kamus Bahasa Jawa yang berasal dari kata göṅ atau gĕn yang berarti ‘besarnya’ atau ‘kekuatan’. Pada kata sifat disebut agöŋ, terdapat pada kata (m)agöŋ yang berarti ‘besar, luas, dan kuat’ (Zoetmulder 2004, 290). Arti nama Candi Agung ini selaras dengan cerita dalam Tutur Candi yang menyebutkan bahwa Gunung Candi Agung sangat besar (Kadir 1983, 10). Penggunaan istilah-istilah bahasa Jawa dalam dalam karya sastra Banjar memberi petunjuk adanya hubungan yang erat antara budaya Jawa dengan Banjar. Hubungan inipun dipresentasikan dalam Hikayat Banjar:

Sudah kita barbuat nagri sandiri, manurut tahta astilah tjara nagri Madjapahit. Maka pakaian kita semuanja pakaian tjara orang Djawa (Ras 1968, 264).

Terjemahan:

Setelah kita mendirikan negeri sendiri, manurut tata cara negeri Majapahit. Maka pakaian kita semuanya pakaian cara orang Jawa (Terjemahan bebas oleh penulis).

Gunung Candi Agung yang disebutkan dalam Tutur Candi ditafsirkan sama dengan Situs Candi Agung di Kota Amuntai. Tafsiran ini didasarkan hasil penelitian arkeologi tahun 1967 yang dilaksanakan oleh Uka Tjandrasasmita dan folklor dalam masyarakat. Penelitian yang dilakukan dengan ekskavasi telah menampakkan struktur bata yang di tengahnya terdapat sumuran. Temuan di dalam sumuran terdiri atas, tempayan dan manik-manik. Pada bagian timur laut struktur bata ditemukan bekas pintu masuk dan tiga kepingan emas. Temuan-temuan tersebut kemungkinan terkait dengan peripih yang terdapat dalam sumuran candi (Tjandrasasmita 1967, 9-10).

Hasil penelitian penanggalan absolut di Situs Candi Agung dan Situs Candi Laras memberikan informasi yang berbeda dengan alur cerita dalam Tutur Candi. Situs Candi Agung mempunyai kronologi abad ke-8 Masehi, sedangkan Situs Candi Laras berada pada abad ke-14 sampai 15 Masehi. Informasi ini menunjukkan baik Hikayat Banjar maupun Tutur Candi masih perlu diuji lagi kebenaran historisnya (Sulistyanto 2000, 3940). Kedua karya sastra tersebut menghubungkan alur waktu cerita sepadan dengan keberadaan Majapahit. Selain itu, Tutur Candi juga menceritakan Gunung Candi Agung didirikan setelah Candi Laras. Terlepas dari permasalahan penanggalan ini, kedua situs ini telah memberi petunjuk bahwa telah tumbuh dan berkembang permukiman di DAS Nagara mulai dari abad ke-8 hingga 15 Masehi. Toponim permukiman-permukiman tersebut telah didokumentasikan dalam kedua karya sastra Banjar.

c. Nagara

Istilah nagara dalam bahasa Banjar merujuk pada tempat yang bernama Nagara (Hapip 1993, 124). Selain itu, nagara juga menjadi nama sungai yang mengalir dari Kota Amuntai dan bermuara atau bertemu dengan Sungai Tapin di Margasari. Nagara sebagai nama tempat, sekarang terbagi menjadi tiga kecamatan, yaitu Daha Utara, Daha Barat, dan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Di tempat ini aliran Sungai Nagara yang mengalir dari Amuntai bertemu dengan Sungai Amandit.

Dalam bahasa Sanskerta istilah nagara berarti ‘kota atau kota besar’. Ketika diserap ke dalam bahasa Jawa Kuno, struktur katanya tetap nagara. Arti nagara dalam bahasa Jawa Kuna mengalami penyempitan dan perluasan. Pada arti sempit menjadi ‘istana’ (kraton), ‘tempat kediaman raja’, sedangkan dalam arti luas adalah ‘ibu kota’, ‘Nagara’ atau ‘kerajaan’ (Zoetmulder, P. J 2004, 687).

Pada konteks sejarah Banjar yang ditulis dalam Hikayat Banjar, nagara disandingkan dengan dipa dan daha. Gabungan dua kata menjadi Nagara-Dipa dan Nagara-Daha. Dipa dan daha mempunyai akar bahasa dari bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno. Dalam bahasa Sanskerta, dipa berarti ‘lampu’. Pada perkembangannya, terdapat kata andipa yang berarti ‘bersinar’ dan padipan yang berarti ‘tempat lampu’, ‘anglo’ atau ‘tungku’. Dipa juga telah mengalami perubahan struktur kata menjadi dwipa yang berarti ‘pulau’ (Zoetmulder 2004, 220).

Selanjutnya, daha dalam bahasa Sanskerta ditulis dāha yang berarti ‘kebakaran’, ‘kebakaran besar’, ‘bernyala’, ‘kemerahan’. Kata dāha juga berkembang menjadi aŋdaha, dumaha. Kata tersebut berarti ‘memerintah’, ‘mengatur’, ‘memimpin’, ‘menjadi yang terkemuka: melampaui, mengatasi, melebihi’. Pada Kamus Bahasa Jawa Kuno, Daha merujuk pada nama kerajaan di Jawa (Zoetmulder, 2004, 187).

Hikayat Banjar sebagai sumber sejarah Banjar menyebutkan toponim NagaraDipa dan Nagara-Daha. Dalam hikayat ini diceritakan bahwa Nagara-Dipa merupakan nama kerajaan yang didirikan oleh Ampu Jatmika.

Kata Ampu Djatmaka: Nagri ini kunamai Nagara-Dipa; maka aku mandjadikan diriku radja, namaku Maharadja di-Tjandi” (Ras 1968, 328).

Terjemahan:

Kata Ampu Jatmaka: Negeri ini kunamai Nagara-Dipa; maka aku menjadikan diriku raja, namaku maharaja di candi (Terjemahan bebas oleh penulis)

Nagara-Dipa muncul dalam Hikayat Banjar sebagai kesatuan politik pada beberapa periode pemerintahan. Raja-raja yang memerintah Nagara-Dipa adalah, Ampu Jatmika, Raden Suryanata, Suryaganggawangsa, Carang Lalean, dan Putri Kalungsu.

Pada masa pemerintahan Putri Kalungsu, muncul kerajaan baru bernama Nagara-Daha. Kerajaan ini dipimpin oleh Raden Sekar Sungsang atau Raden Sari Kaburungan, yaitu anak sekaligus suami dari Putri Kalungsu. Raden Sekar Sungsang mendirikan Kerajaan baru di daerah hilir yang bernama Nagara-Daha. Lokasi di Muhara-Hulak atau di hilir dari Nagara-Dipa.

Maharadja Sari Kaburungan sudah tatap ia barpindah itu, alkisah maka jang tampat diam Muhara-Hulak itu dinamai Nagara-Daha, ia itu barnama Nagara jang pada sakarang ini (Ras 1968, 368).

Terjemahan:

Maharaja Sari Kaburungan sudah tetap berpisah, kisahnya maka tempat yang di Muara-Ulak itu dinamai Nagara-Daha, ia pada masa sekarang ini bernama Nagara (Terjemahan bebas oleh penulis).

Keletakkan Nagara-Daha disebutkan berada di Muhara-Hulak atau di daerah Nagara. Muhara atau muara merupakan tempat berakhirnya aliran sungai. Dalam hal ini adalah Sungai Nagara dan Batang Alai. Hulak (maulak; maolak) adalah kondisi air dalam keadaan berputar dan bisa membawa benda-benda di sekitarnya (Yayuk 2018, 142). Pertemuan kedua aliran air tersebut telah mengakibatkan putaran air yang selanjutnya disebut muhara-hulak. Sekarang ini, di sekitar muhara hulak terdapat Desa Tumbukan Banyu. Nama desa ini berarti ‘pertemuan aliran sungai’, yaitu Sungai Nagara dan Amandit. Pada masa lalu, di tengah pertemuan dua sungai tersebut terdapat putaran arus sungai yang kuat, tetapi kondisi sekarang arusnya sudah semakin melemah (Sunarningsih 2013, 86).

Situs arkeologi yang mendukung keberadaan Nagara-Dipa dan Nagara-Daha berupa candi dan bekas-bekas permukimannya. Candi Agung yang berada di Amuntai dapat dihubungkan dengan keberadaan Nagara-Dipa. Keterangan candi ini diterangkan dalam Tutur Candi sebagai gunung Candi Agung atau negeri Candi Agung. Tutur Candi menggambarkan Candi Agung yang penuh keindahan dan bercahaya. Penggambaran tersebut mempunyai padanan makna dipa dalam artian ‘bersinar’. Dalam hal ini, dapat dikatakan penyebutan negeri Candi Agung sama dengan Nagara-Dipa. Johannes Jacobus Ras menyebut Nagara-Dipa sebagai land of the light (Ras 1968, 22).

Tambahan pula kamucuknya Candi kumala tarlalu amat basar. Itulah jadi bercahayalah itu nagri Candi Agung (Kadir 1983, 21).

Terjemahan:

Tambahan pula pada kemuncak kemala candi yang amat besar. Itulah jadi bercahaya itu negeri Candi Agung (Terjemahan bebas oleh peneliti).

Pada bagian hilir dari Nagara-Dipa berdiri Kerajaan Nagara-Daha. Bukti keberadaan Nagara-Daha ini tampak dari sebaran situs-situs arkeologi di kawasan Kecamatan Daha di daerah Nagara. Situs-situs tersebut ditemukan di Penggandingan, Tanjung Selor, Bajayau, dan Bajayau Lama. Artefak arkeologi yang ditemukan di situs-situs tersebut terdiri atas; perkakas dari kayu ulin, perhiasan dari logam, manik-manik, dan wadah keramik. Berdasarkan hasil penelitian arkeologi, situs-situs tersebut mempunyai hubungan dengan kesejarahan Nagara-Daha (Sunarningsih 2013, 88-92).

Toponim Nagara yang disebutkan dalam kedua karya sastra masih bisa dilacak lokasinya hingga sekarang. Kesejarahan daerah ini sebagai pusat pemerintahan dari Kerajaan Nagara-Daha juga disebutkan baik dalam Hikayat Banjar maupun Tutur Candi. Situs arkeologi banyak yang ditemukan di daerah ini memberi petunjuk bahwa di daerah tersebut telah berkembang pemukiman sejak dahulu. Kendati demikian, belum dapat diketahui hubungan antara situs arkeologi tersebut dengan keberadaan Kerajaan Nagara-Daha.

 

SIMPULAN 

Merujuk model pertama dalam analisis toponimi maka toponim Ujung Tanah, Candi dan Nagara masih dapat ditelusuri arti nama dan lokasinya sekarang. Ketiga toponim tersebut juga tidak banyak mengalami perubahan dalam pemaknaannya. Ujung Tanah yang disebutkan dalam kedua karya sastra mempunyai padanan dengan Ujung Puting pada peta tahun 1962. Toponim Candi melekat pada lokasi ditemukannya Situs Candi Laras di Kabupaten Tapin dan Situs Candi Agung di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Toponim Nagara menunjuk pada nama tempat di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan nama sungai yang dulunya merupakan wilayah dari kerajaan kuno bernama Nagara-Dipa dan Nagara Daha.

Cerita dalam Hikayat Banjar dan Tutur Candi mempunyai perbedaan alur kronologi dengan hasil penanggalan absolut situs arkeologi. Perbedaan tersebut tidak mengurangi peranan ketiga tempat yang ditelaah dalam sejarah budaya di DAS Nagara pada abad ke-8 hingga 15 Masehi. Kajian yang lebih mendalam dengan berbagai pendekatan terhadap situs-situs di DAS Nagara diharapkan dapat terus dilakukan untuk mendapatkan informasi-informasi baru.

 

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Ibu Leila Abdul Djalil dan Restu Budi Sulistyo yang turut membantu dalam menginventaris nama-nama tempat dalam Hikayat Banjar, Tutur Candi, dan Peta Rupa Bumi tahun 1962.

 

DAFTAR PUSTAKA

Atmojo, B. S. W. (2002). Wilayah Das Barito dan Anak-anak Sungainya: Pusat Pertumbuhan Permukiman dan Kerajaan di Kalimantan Selatan. Naditira Widya, 9, 60–69.

Daud, A. (1997). Islam dan Masyarakat Banjar Deskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar (1st ed.). PT RajaGrafindo Persada.

Hapip, A. D. (1993). Proyek Penggalian Pengumpulan dan Pendokumentasian Kosa Kata Tua Bahasa Banjar.

Hindarto, I., Pervaya, V.P.R, Kusmartono, Wahyu. (2023). Simbol Gunung dan Air pada Lanskap Budaya Situs Candi Agung di Kalimantan Selatan. PURBAWIDYA: Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Arkeologi, 12(148), 175–191. https://doi.org/https://doi.org/10.55981/purbawidya.2023.875 Kadir, M. S. (1983). Tutur candi.

Komalasari, Ida, H. A. (2023). Nama Desa Berbahasa Banjar dalam Lanskap Linguistik di Kalimantan Selatan. Naditira Widya, 17(2), 67–86. https://doi.org/10.24832/nw.v17i2.529

Kusmartono, Vida Pervaya Rusianti dan Widianto, Harry. (1998). Ekskavasi Situs Candi Agung Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan. Berita Penelitian Arkeologi, 02, 1–24.

Kusmartono, V. P. R. (2000a). Posisi Candi Laras dan Candi Agung pada Kerangka Sejarah Budaya Masa Klasik di Kalimantan Selatan. Naditira Widya, 04, 11–17.

Kusmartono, V. P. R. (2000b). Preferensi Calon Lokasi Situs Masa Klasik di Wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Naditira Widya, 05, 21–25.

Kusmartono, V. P. R. (2006). Organisasi Pemerintahan Early State Nagara Dipa di Kalimantan Bagian Tenggara. Naditira Widya, 15, 24–34.

Laksmi, N. K. P. A. (2015). Identifikasi toponim: Kontak hubungan Jawa dengan Bali berdasarkan data prasasati Bali kuno. In Depok (Ed.), Seminar Internasional Penelitian di BIdang Leksikologi, Leksikografi, Peristilahan, Etimologi dan Toponimi (pp. 205–216). Departemen Linguistik Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Lukito, N. H. (2002a). Pemukiman Masa Klasik Situs Candi Agung: Suatu Adaptasi Lingkungan dan Teknologi Tepat Hunian. Naditira Widya, 9, 31–39.

Lukito, N. H. (2002b). Permukiman Masa Klasik Situs Candi Agung: Suatu Adaptasi Lingkungan dan Teknologi Tempat Hunian. Naditira Widya, 09, 31–39.

Lukito, N. H. (2009). Permukiman Candi Agung. Berita Penelitian Arkeologi, 3(1), 24– 35.

Mugeni, Muhammad, Musdalipah, Akbari, Siti, Jahdiah, Wahdanie, Rakhman, Yamani, Muhammad, Hidayatullah, Dede, Hastiah, N. (2008). Kamus Bahasa Banjar Dialek Hulu-Indonesia (Issue 0). Balai Bahasa Banjarmasin.

Muller, S. (1857). Reizen en Onderzoekingen in den Indischen Archipel, Gedaan op last der Nederlandsche Indische Regering Tusschen de Jaren 1828 en 1836. Wegen Het Koninklijk Instituut Voor de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie.

Munandar, A. A. (2016). Toponimi dalam Kajian Arkeologi. Seminar Nasional Toponimi: Toponimi Dalam Perspektif Ilmu Budaya, November, 1–26. https://docplayer.info/76390517-Seminar-nasional-toponimi.html

Ras, J. J. (1968). Hikajat Bandjar a Study in Malay Historiography. Martinus Nijhoff.

Sadono, S., & Endriawan, D. (2021). Jejak Akulturasi Budaya Jawa Dan Kalimantan Di Taman Purbakala Candi Agung di Amuntai, Kalimantan Selatan. Naditira Widya, 15(2), 87–98. https://doi.org/10.24832/nw.v15i2.462 Sjarifuddin. (1987). Candi Laras.

Sulistyanto, B. (2000). Umur Candi Laras dalam Panggung Sejarah Indonesia Kuna. Berita Penelitian Arkeologi, 7, 1–44.

Sunarningsih. (2006). Ekskavasi Situs candi Agung, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan (Tahun 2004). Berita Penelitian Arkeologi, 17, 15–34.

Sunarningsih. (2008). Potensi Situs Permukiman di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Naditira Widya, 2(2), 224–236.

Sunarningsih. (2011). Situs-Situs Permukiman Tepian Sungai di Kalimantan Selatan. Naditira Widya, 5(2), 182–194.

Sunarningsih. (2012). Sebaran Situs Permukiman Kuna di Daerah Aliran Sungai Barito. Naditira Widya, 6(2), 182–194.

Sunarningsih, S. (2013). Kerajaan Negara Daha Di Tepian Sungai Negara, Kalimantan Selatan. Naditira Widya, 7(2), 85. https://doi.org/10.24832/nw.v7i2.94

Tjandrasasmita, U. (1967). Laporan Penyelidikan-Penggalian Kepurbakalaan Candi Agung.

Wijaya, D. N., Wahyudi, D. Y., Umaroh, S. Z., Susanti, N., & Ertrisia, R. A. P. (2021).

The toponymy of the villages in Ambon Island: A historical and archaeological study. Berkala Arkeologi, 41(1), 89–108. https://doi.org/10.30883/jba.v41i1.600

Yayuk, R. (2018). Leksikon Pengungkap Karakteristik Budaya Sungai Masyarakat Banjarmasin dan Nagara: Telaah Etnosemantis. Naditira Widya, 12(2), 131–146.

Yusliani Noor. (2016). Islamisasi Banjarmasin (Abad ke-15 sampai ke-19). Penerbit Ombak.

Zoetmulder, P. J, R. S. . (2004). Kamus Jawa Kuna Indonesia. PT. Gramedia Pustaka Utama.

 

Jurnal ini disalin di bawah lisensi Creative Commons Attribution-Non Commercial-ShareAlike 4.0 International License
Link artikel: PURBAWIDYA

  • Facebook
  • Share on X
  • LinkedIn
  • WhatsApp
  • Email
  • Copy Link
Category: Sejarah

Navigasi pos

← Kesetiaan Orang Bakumpai pada Perang Banjar (Penyerangan Pertama ke Benteng Tongka)
Nilai Budaya Masyarakat Banjar Kalimantan Selatan: Studi Indigenous →

Categories

  • Adat
  • Budaya
  • Opini
  • Sastra
  • Sejarah

Pustaka Banjar adalah sebuah upaya untuk mengenalkan sejarah dan melestarikan budaya Banjar kepada generasi di masa yang akan datang. Situs ini dibuat bukan untuk kepentingan komersial.

© 2026 Pustaka Banjar | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme