Tanah Banjar yang sekarang dikenal dengan Provinsi Kalimantan Selatan pada awalnya merupakan daerah terpadat penduduknya. Konsentrasi penduduk terdapat di Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar, dan Hulu Sungai. Dari segi pertumbuhan penduduk tercepat ada di Kota Banjarmasin.
Pada tahun 1919, Kota Banjarmasin berpenduduk sekitar 16.708 jiwa. Kemudian pada tahun 1941 kira-kira 70.000 jiwa, tetapi pada tahun 1973 jumlah penduduk Kota Banjarmasin telah mencapai 293.801 jiwa. Hal ini karena sesudah tahun 1950 pertambahan jumlah penduduk di daerah Kalimantan Selatan sangat cepat.
Pada tahun 1961 jumlah penduduk Kalimantan Selatan sebanyak 1.473.155 jiwa, sedangkan keadaan jumlah penduduk pada tahun 1971 adalah sebanyak 1.669.105 jiwa. Ini berarti dalam waktu sepuluh tahun kenaikan jumlah penduduk di daerah Kalimantan Selatan mencapai 195.950 jiwa atau sekitar 15,38%. Pada tahun 1973 jumlah penduduk Kalimantan Selatan mencapai 1.770.487 jiwa yang tersebar di sepuluh kabupaten saat itu.
Turun naiknya jumlah penduduk sekitar tahun 1918 – 1919 diakibatkan oleh wabah flu pada akhir perang dunia pertama. Kemudian sesudah itu akibat tekanan kerja rodi, penduduk Hulu Sungai bermigrasi ke luar daerah seperti Sapat, Tambilahan, atau Kedah. Jumlah penduduk yang bermigrasi tidak dapat dipastikan, tetapi di Sapat – Tambilahan sesudah tahun 1950 diyakini terdapat sebanyak 100.000 jiwa orang Banjar.
Sesudah tahun 1950 di Kalimantan Selatan terdapat lagi penurunan jumlah penduduk akibat situasi perang kemerdekaan pada tahun 1945 – 1949 dan Peristiwa Ibnu Hajar. Banyak penduduk Hulu Sungai mengungsi ke daerah Banjarmasin dan Kalimantan Tengah.
Penduduk asli Kalimantan Selatan secara umum disebut suku bangsa Banjar. Daerah Banjar yang memanjang dari pesisir selatan sampai Kota Tanjung merupakan sebuah “melting pot”. Manusia yang menciptakan suku bangsa Banjar intinya adalah suku bangsa Maanyan, Lawangan, dan Bukit. Manusia ini mengalami proses pembudayaan dan pencampuran darah dengan suku bangsa Melayu, Jawa, dan Bugis. Identitas utama orang Banjar ini adalah bahasa Banjar sebagai media umum, “pembanjaran” dalam segi bahasa ini akhirnya berkembang ke provinsi Kalimantan yang lain.
Penduduk pendatang di daerah Kalimantan Selatan ini kalau dilihat arah datangnya berasal dari Barat adalah suku bangsa Melayu, dari Selatan suku bangsa Jawa dan Madura, dan dari Timur ada suku bangsa Bugis. Ini merupakan suatu proses yang sudah lama berjalan dalam sejarah.
Suku bangsa Melayu mendirikan koloni sejak zaman Sriwijaya di daerah Tanjungpura/Kuripan dan kemudian datang sebagai pedagang yang menetap di bandar Marampiau, Marabahan, dan Banjarmasin pada abad yang lampau. Suku bangsa Jawa datang sebagai pelarian pada zaman Negara Dipa di abad ke-17, sedangkan pada zaman Negara Daha datang sebagai penyerbu pada periode Majapahit. Orang Bugis pada abad ke-17 meminjam tanah dari Kesultanan Banjar untuk mendirikan Kerajaan Pagatan. Sedangkan suku Madura datang sebagai pedagang.
Pada zaman Belanda di permulaan abad ke-20, Belanda mencoba membuat koloni Jawa di Hulu Sungai Tengah yaitu di daerah Kambat tetapi gagal. Usaha transmigrasi baru dilanjutkan lagi sesudah tahun 1935 dengan kolonisasi orang Madura di Madurejo dan kolonisasi orang Jawa di Tamban. Sesudah tahun 1950 dengan penempatan Korps Tentara Cadangan untuk transmigrasi dan pembukaan sejumlah objek-objek transmigrasi oleh pemerintah.
Transmigrasi spontan terjadi karena mengikuti keluarga yang sudah berkembang keadaan materinya atau pekerja dalam lapangan usaha kayu, minyak, dan sebagainya. Pada akhir tahun 70-an ada wilayah transmigrasi yang gagal di Barambai, transmigrasi Angkatan Darat di Binuang, dan transmigrasi tani Jawa di Tajau Pecau.
Umumnya transmigrasi yang didatangkan dari luar ini diberi sarana materi yang lebih baik dan cukup seperti perumahan, tanah, bibit, biaya hidup, dan lain-lain, yang bisa menimbulkan rasa tidak puas pada lingkungan penduduk asli yang keadaan materi dan pembinaannya kurang.
Sumber : Adat Istiadat Daerah Kalimantan Selatan. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tahun 1977/1978.